Home » » Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7: Shirathalladzina An'amta 'Alaihim...(Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7: Shirathalladzina An'amta 'Alaihim...(Ibnu Katsir)



Dalam membahas tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 “Shirathalladzina an'amta 'alaihim ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin”, Imam Ibnu Katsir antara lain menjelaskan mengenai 3 jalan yang disebut dalam ayat ini.

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Jalan orang-orang yang diberi nikmat ialah, jalan para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid, dan jalan orang-orang shalih. Yakni jalan orang-orang yang beriman, yang menjalankan agama atas dasar ilmu yang benar, dan mereka mengamalkannya (berilmu dan beramal).

Adapun jalan orang-orang yang dimurkai adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka memiliki pengetahuan tapi tidak memiliki amal. Ingkar dan tidak mengamalkannya, karena itu mereka dimurkai.

Sedangkan jalan orang-orang yang sesat adalah jalan orang-orang Nasrani. Mereka sesat karena tidak memiliki ilmu pengetahuan (agama). Mereka beragama tanpa ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Menurut Imam Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah ini mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat berkumpul bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

Selengkapnya, berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 kami salin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Pustaka Imam as-Syafi'i.


(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1: 7)

Firman-Nya, "Shirathalladzina an'amta 'alaihim" (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka) adalah sebagai tafsir dari firman-Nya, jalan yang lurus. Dan merupakan badal (kata benda atau isim yang mengikuti kepada isim sebelumnya) menurut para ahli nahwu dan boleh pula sebagai athaf bayan (berupa isim jamid, yakni isim yang bukan berasal dari kata kerja yang berfungsi seperti sifat/keterangan). Wallahu a'lam.

Orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu Wata'ala itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat An-Nisaa', Dia berfirman:

 
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (QS. An-Nisa': 69-70).

Dan, firman-Nya, "ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin" (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat). Jumhur ulama membaca "ghairi" dengan memberikan kasrah pada hurup “ر “ dan kedudukannya sebagai naat (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan, dibaca juga dengan memakai harakat fathah di atasnya, yang menunjukkan haal (keadaan). Itu adalah bacaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khaththab, dan riwayat dari Ibnu Katsir. Dzul haal adalah dhamir dalam kata "'alaihim", sedangkan 'amil ialah lafaz "an'amta".

Artinya, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepadanya. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata "لا" (bukan), guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, sementara itu orang-orang Yahudi tidak memiliki amal, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan bagi orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan bagi orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya itu berhak mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedang orang Nasrani tatkala mereka hendak menuju kepada sesuatu, mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalannya. Hal itu karena mereka tidak menempuhnya melalui jalan yang sebenarnya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka mereka pun masing-masing tersesat dan mendapat murka. Namun, sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala mengenai diri mereka (orang-orang Yahudi):
   
"Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah." (QS. Al-Maidah: 60).

Sedangkan sifat Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman-Nya mengenai ihwal mereka:
 
"Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan lurus." (QS. Al-Maidah: 77).

Masalah ini banyak disebutkan dalam hadis dan atsar, dan hal itu cukup jelas.

Catatan:

1. Surat yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wata'ala melalui penyebutan asmaul husna milik-Nya, disertai adanya sifat-sifat yang Mahasempurna. Juga mencakup penyebutan tempat kembali manusia, yaitu hari pembalasan. Selain itu berisi bimbingan kepada para hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepada-Nya serta melepaskan upaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya secara tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, meng-Esakan dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga (berisi) bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya ke jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka pada jalan tersebut, sehingga ditetapkan bagi mereka untuk menyeberangi jalan yang tampak konkrit pada hari kiamat kelak menuju ke surga di sisi para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh.

Surat Al-Fatihah ini juga mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat bergabung bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

2. Seusai membaca Al-Fatihah dusunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan amin. Seperti ucapan yasin. Boleh juga mengucapkan amin dengan alif dibaca pendek, artinya adalah "ya Allah kabulkanlah". Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dari Wail bin Hujur, katanya aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin", lalu beliau mengucapkan, "Amin" dengan memanjangkan suaranya.

Sedangkan menurut riwayat Abu Dawud, dan beliau mengangkat suaranya. At-Tirmidzi mengatakan, hadis ini hasan. Hadis ini diriwayatkan juga dari Ali, Ibnu Mas'ud, dan lain-lainnya.

Dari Abu Hurairah, katanya, apabila Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin", maka beliau mengucapkan, "Amin." Sehingga terdengar oleh orang-orang yang di belakangnya pada barisan pertama. Hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadis tersebut dengan kalimat, "Sehingga masjid bergetar karenanya." Hadis ini juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, ia mengatakan, hadis ini berisnad hasan.

Sahabat kami dan lain-lainnya mengatakan, "Disunnahkan juga mengucapkan 'amin' bagi orang yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika munfarid (sendiri) maupun sebagai imam atau makmum, serta dalam keadaan apa pun, berdasarkan hadis dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika seorang imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, sesungguhnya barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan aminnya malaikat, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Menurut riwayat Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan amin di dalam shalat, dan malaikat di langit juga mengucapkan amin, lalu masing-masing ucapan amin dari keduanya saling bertepatan, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Ada yang mengatakan, artinya, barangsiapa yang waktu ucapan amin-nya bersamaan dengan amin yang diucapkan malaikat. Ada juga yang berpendapat, bahwa maksudnya, bersamaan dalam pengucapannya. Dan ada yang berpendapat, kebersamaan itu dalam hal keikhlasan.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan hadis marfu' dari Abu Musa, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
  
"Jika seorang imam telah membacakan waladhdhaalliin, maka ucapkan, 'Amin'. Niscaya Allah mengabulkan permohonan kalian."

Mayoritas ulama mengatakan bahwa makna amin itu adalah ya Allah perkenankanlah untuk kami.

Para sahabat Imam Malik berpendapat, seorang imam tidak perlu mengucapkan amin, cukup makmum saja yang mengucapkannya. Berdasarkan pada hadis riwayat Imam Malik dari Sami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

"Jika seorang imam telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Mereka juga menggunakan hadis dari Abu Musa a-Asy'ari yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
"Jika ia telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Dan kami kemukakan di atas dalam hadis dalam muttafaq 'alaih: 
"Jika seorang imam telah mengucapkan, 'Amin', maka ucapkanlah, 'Amin'."

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri mengucapkan amin ketika beliau selesai membaca ghairil maghdhuubi'alaihim waladhdhaalliin.

Para sahabat kami telah berbeda pendapat mengenai jahr (suara keras) bagi makmum dalam mengucapkan amin dalam shalat jahrnya. Kesimpulan dari perbedaan pendapat itu, bahwa jika seorang imam lupa mengucapkan amin, maka makmum harus serempak mengucapkannya dengan suara keras. Dan jika sang imam telah mengucapkannya dengan suara keras, (menurut) pendapat yang baru menyatakan bahwa para makmum tidak mengucapkannya dengan suara keras.

(Pendapat) yang terakhir ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah dan sebuah riwayat dari Imam Malik, karena amin itu merupakan salah satu bentuk zikir sehingga tidak perlu dikeraskan sebagaimana halnya zikir-zikir shalat lainnya. Sedangkan pendapat yang lama menyatakan bahwa para makmum juga perlu mengucapkannya dengan suara keras. Hal itu merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan sebuah riwayat yang lain dari Imam Malik seperti yang telah disebutkan di atas. Berdasarkan hadits: 
"Sehingga masjid bergetar (karenanya)."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
____________________

Thanks for reading Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7: Shirathalladzina An'amta 'Alaihim...(Ibnu Katsir)

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment