Home » » Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6: Ihdinashshirathal mustaqim (Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6: Ihdinashshirathal mustaqim (Ibnu Katsir)



Tulisan ini membahas tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fatihah ayat 6 yang berbunyi: "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Imam Ibnu Katsir dalam membahas surat al-Fatihah ayat 6 menyebutkan, yang paling sempurna bagi seseorang yang ingin mengajukan permintaan adalah dengan memuji Rabb-nya terlebih dahulu, Rabb yang hanya kepada-Nya semua permintaan diajukan. Setelahnya, baru kemudian diikuti dengan menyampaikan apa-apa yang menjadi keperluannya.

Karena sesuai dengan firmannya, yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 6 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i).



"Tujukilah kami jalan yang lurus." (QS. 1: 6)

Jumhur ulama membacanya dengan memakai huruf "ص". Ada pula yang membaca dengan huruf “ز" (azzirath). Al-Farra' mengatakan, "Ini merupakan bahasa Bani Udzrah dan Bani Kalb."

Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya, "Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama ia memuji Rabb yang akan ia minta dan kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya, "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Karena yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan. Untuk itu Allah Tabaraka wa Ta'ala membimbing kita agar senantiasa melakukannya, sebab yang demikian itu yang lebih sempurna.

Permohonan juga dapat diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihis salam:  

"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24).

Permintaan itu bisa di dahului dengan menyebutkan sifat-sifat siapa yang akan dimintai, seperti ucapan Dzun Nun (Nabi Yunus ‘alaihis salam):


"Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87).

Tetapi terkadang hanya dengan memuji kepada-Nya, ketika meminta, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:


Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malumu
Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaanmu
Jika suatu hari seseorang memberikan pujian kepadamu, niscaya engkau akan memberinya kecukupan

Kata hidayah pada ayat ini berarti bimbingan dan taufik. Terkadang kata hidayah (muta addi/transitif) dengan sendirinya (tanpa huruf lain yang berfungsi sebagai pelengkapnya), seperti pada firman-Nya di sini, "Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus." Dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizki kepada kami, atau berikanlah anugerah kepada kami.

Sebagaiamana yang ada pada firman-Nya:
 
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad: 10). Artinya, kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Selain itu, dapat juga menjadi muta addi' (transitif) dengan memakai kata "ila", sebagaimana firman-Nya:
 
"Allah telah memilihnya dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 121).

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas ialah dengan pengertian bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: 
"Dan sesungguhnya engkau (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura': 52).

Terkadang ia (kata hidayah) menjadi muta addi dengan memakai kata "li" sebagaimana yang diucapkan oleh para penghuni surga:

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini." (QS. Al-A'raf: 43), Artinya, Allah memberikan taufik kepada kami untuk memperoleh surga ini dan Dia jadikan kami sebagai penghuninya.

Sedangkan mengenai firman-Nya, "Syirathal mustaqim", Imam Abu Ja'far bin Jarir mengatakan, ahlut tafsir secara keseluruhan sepakat bahwa ash-shirathal mustaqim itu adalah jalan yang terang dan lurus.

Kemudian terjadi perbedaan ungkapan para mufassir, baik dari kalangan ulama salaf maupun khalaf dalam menafsirkan kata ash-shirath, meskipun pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Jika ditanyakan, mengapa seorang mukmin meminta hidayah pada setiap saat, baik pada waktu mengerjakan shalat maupun di luar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk tahshilul bashil (berusaha memperoleh sesuatu yang sudah ada)?

Jawabnya adalah tidak. Kalau bukan karena dia perlu memohon hidayah siang dan malam hari, niscaya Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membimbing ke arah itu. Sebab, seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah setiap saat dan situasi agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan, dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasa memberikan manfaat atau mudharat kepada dirinya sendiri kecuali Allah menghendaki.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala selalu membimbingnya agar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikan pertolongan, keteguhan, dan taufik.

Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon kepada-Nya. Sebab, Allah telah menjamin akan mengabulkan permohonan seseorang jika ia memohon kepada-Nya, apalagi permohonan orang yang dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya, pada tengah malam dan siang hari. Firman Allah Subhanahu wata’ala:


"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS. An-Nisa': 136).

Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tetap beriman. Dan hal itu bukan termasuk tahshilul hashil, karena maksudnya adalah ketetapan, kelangsungan, dan kesinambungan amal yang dapat membantu kepada hal tersebut.

Allah Subhanahu wata’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan (doa):


"Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8).

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu pernah membaca ayat ini dalam rekaat ketiga pada salat Maghrib secara sirri (tidak keras) setelah selesai membaca Al-Fatihah.

Dengan demikian, makna firman-Nya, "Ihdinashshirathal mustaqim" adalah "Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus itu dan jangan Engkau simpangkan ke jalan yang lainnya."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________


Thanks for reading Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6: Ihdinashshirathal mustaqim (Ibnu Katsir)

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment