Home » » Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Ibnu Katsir)




Berikut ini adalah tafsir Surat Al-Fatihah ayat 5 yang berbunyi :  Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan).

Dalam menjelaskan keutamaan ayat ini, Imam Ibnu Katsir dengan mengutif perkataan beberapa ulama salaf menyebutkan, surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia dari surat Al-Fatihah itu sendiri terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in.

Dengan mengamalkan makna ayat: "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu," menurut Imam Ibnu Katsir ini adalah puncak dari kesempurnaan ketaatan. Dan agama Islam itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna tersebut.

Adapun didahulukannya Iyya kana'budu (hanya kepada-Mu kami beribadah) sebelum wa iyya kanasta'in (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), tidak lain karena ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala adalah merupakan tujuan utama. Sedangkan permohonan pertolongan esensinya hanyalah sarana agar seorang hamba dapat beribadah kepada Rabb-nya.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 5 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i). 



Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Para ahli qira'at sab'ah dan jumhurul ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf ‘ya' pada kata ‘iyyaka’. Sedangkan kata ‘nasta’iin’ dibaca dengan memfathahkan huruf nun yang pertama.

Menurut bahasa, kata ibadah berarti tunduk patuh. Sedangkan menurut syariat, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan, dan ketakutan.

Didahulukannya maf'ul (objek), yaitu kata iyyaka, dan (setelah itu) diulangi lagi, adalah dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dan juga sebagai pembatasan.

Artinya, "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu." Dan inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan dien (agama) itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna di atas.

Yang demikian itu seperti kata sebagian ulama salaf, bahwa surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia Al-Fatihah terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.”

Penggalan pertama, yakni "Hanya kepada-Mu kami beribadah" merupakan pernyataan lepas dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yaitu, "Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekutan serta berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Makna seperti ini tidk hanya terdapat dalam satu ayat Alquran saja, seperti firman-Nya:


"Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud: 123).

Dalam ayat tersebut (Al-Fatihah: 5) terjadi perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhathab (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf kaf pada kata iyyaka. Yang demikian itu memang selaras karena ketika seorang hamba memuji kepada Allah, maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir di hadapan-Nya. oleh karena itu, Dia berfirman, "Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in."
Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pada awal-awal surat Al-Fatihah merupakan pemberitahuan dari Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.

Dalam shahih Muslim, diriwayatkan dari al-'Ala' bn Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan, "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam", maka Allah berfirman, "Hambaku telah memuji-Ku". Dan jika ia mengucapkan: “Mahapemurah lagi Mahapenyayang,” maka Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika ia mengucapkan, “Yang menguasai hari pembalasan,” maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memulikan-Ku'. Jika ia mengucapkan, “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,” maka Allah berfirman, 'Inilah bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta'. Dan jika ia mengucapkan,'"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau enugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nashrani)', maka Allah berfirman, "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang ia minta'."

Iyya kana'budu didahulukan dari wa iyya kanasta'in, karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan merupakan sarana untuk beribadah. Yang terpenting lebih didahulukan dari yang sekedar penting. Wallahu a'lam.
Jika ditanyakan, “lalu apa makna huruf nun pada firman Allah Subhanahu wata’ala: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in." Jika nun itu dimaksudkan sebagai bentuk jama', padahal orang yang mengucapkan hanya satu orang, dan jika untuk pengagungan, maka yang demikian itu tidak sesuai dengan kondisi?

Pertanyaan di atas dapat dijawab, bahwa yang dimaksudkan dengan huruf nun (kami) itu adalah, untuk memberitahukan mengenai jenis hamba, dan orang yang shalat merupakan salah satu darinya, apalagi jika orang-orang melakukannya secara berjamaah. Atau, imam dalam salat memberitahukan tentang dirinya sendiri dan juga saudara-saudaranya yang beriman tentang ibadah, yang untuk tujuan inilah mereka diciptakan.

Ibadah merupakan maqam (kedudukan) yang sangat agung, yang dengannya seorang hamba menjadi mulia, karena kecondongannya kepada Allah Ta'ala saja, dan Dia telah menyebut Rasul-Nya sebagai hamba-Nya yang menempati maqam yang paling mulia. Firman Allah:



"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-isra': 1).

Allah telah menyebutkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang hamba ketika menurunkan Alquran kepadanya, ketika beliau menjalankan dakwahnya dan ketika diperjalankan pada malam hari. Dan Dia membimbingnya untuk senantiasa menjalankan ibadah pada saat-saat hatinya merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya, Dia berfirman:


"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 97-99).



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________

Thanks for reading Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Ibnu Katsir)

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment