Home » » Keutamaan Surat al-Fatihah dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir

Keutamaan Surat al-Fatihah dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir




Keutamaan Surat al-Fatihah adalah salah satu bahasan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. Imam Ibnu Katsir membahasnya dalam bagian Pendahuluan dari tafsir Surat al-Fatihah.

Mekipun diketengahkan terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama, secara umum kami mencatat beberapa keutamaan dari Surat al-Fatihah dalam pembahasan ini, di antaranya:

  1. Bahwasanya surat al-Fatihah adalah surat yang paling agung di dalam Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
  2. Surat al-Fatihah merupakan salah satu surat yang dibaca sebagai ruqyah (jampi dalam mengobati orang sakit)
  3. Surat al-Fatihah merupakan salah satu dari dua cahaya, yang hanya diberikan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan tidak diberikan kepada Nabi-nabi sebelumnya.
  4. Surat al-Fatihah menjadi rukun utama shalat (syarat sahnya shalat). Tidak sah shalat tanpa membaca surat al-Fatihah di dalamnya.

Berikut ini kami kutifkan selengkapnya Keutamaan Surat al-Fatihah dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Bahasa Indonesia.

Keutamaan Surat al-Fatihah


Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id bin al-Mualla, katanya, "Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu, aku mendatangi beliau, maka beliau pun bertanya, 'Apa yang menghalangimu datang kepadaku?' Maka aku menjawab, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan shalat'. Lalu beliau bersabda, 'Bukankah Allah Ta'ala telah berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang memberi kehidupan kepadamu'. (QS. Al-Anfal: 24). 

Dan setelah itu beliau bersabda, 'Akan aku ajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung di dalam Alquran sebelum engkau keluar dari masjid ini'. Maka beliau pun menggandeng tanganku. Dan, ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku katakan, “Ya Rasulullah, engkau tadi telah berkata akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung di dalam Alquran.” Kemudian beliau menjawab, 'Benar', "Alhamdulillahi rabbil 'alamin", ia adalah as-Sab'ul Matsani dan Alquran al-Azhim yang telah diturunkan kepadaku."



Demikian pula yang diriwayatkan al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah, melalui beberapa jalan dari Syu'bah.

Para ulama menjadikan hadis ini dan semisalnya sebagai dalil keutamaan dan kelebihan sebagian ayat dan surat atas yang lainnya, sebagaimana disebutkan banyak ulama, di antaranya Ishak bin Rahawaih, Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Ibnu al-Haffar seorang penganut mazhab Maliki.

Sedangkan sekelompok lainnya berpendapat bahwasanya tidak ada keutamaan suatu ayat atau surat atas yang lainnya, karena semuanya merupakan firman Allah Ta'ala. Supaya hal itu tidak menimbulkan dugaan adanya kekurangan pada ayat yang lainnya, meski semuanya itu memiliki keutamaan.

Pendapat ini dinukil oleh al-Qurthubi dari al-Asy'ari, Abu Bakar al-Baqillani, Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti, Abu Hayyan, Yahya bin Yahya, dan sebuah riwayat dari Imam Malik.

Ada hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Fadhailul Qur'an, dari Abu Sa'id al-Kudri, katanya, "Kami pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu kami singgah, tiba-tiba seorang budak wanita datang seraya berkata, "Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak berada di tempat, apakah di antara kalian ada yang bisa memberi ruqyah?" Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri bersamanya, yang kami tidak pernah menyangkanya bisa meruqyah. Kemudian orang itu membacakan ruqyah, maka kepala sukunya itu pun sembuh. Lalu, ia (kepala suku) menyuruhnya diberi tiga puluh ekor kambing sedang kami diberi minum susu. Setelah ia kembali, kami bertanya kepadanya, "Apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah?" Maka ia pun menjawab, "Aku tidak meruqyah, kecuali dengan Ummul Kitab (Al-Fatihah)." "Jangan berbuat apa pun sehingga kita datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam," sahut kami. Sesampai di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda, "Dari mana dia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu sebagai ruqyah (jampi), bagi-bagilah kambing-kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku." Demikian pula riwayat Muslim dan Abu Dawud.

Hadis lainnya, riwayat Muslim dalam kitab sahih an-Nasa'i dalam kitab sunan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang bersama malaikat Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar suara dari atas. Maka, Jibril mengarahkan pendangannya ke langit seraya berkata, "Itu adalah dibukanya sebuah pintu di langit yang belum pernah terbuka sebelumnya." Ibnu Abbas melanjutkan, "Dari pintu itu turun malaikat dan kemudian menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, 'Sampaikanlah berita gembira kepada umatmu mengenai dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu, dan belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabi pun sebelum dirimu, yaitu Fatihatul Kitab dan beberapa ayat terakhir surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberi (pahala) kepadamu'."

Lafaz hadis di atas berasal dari al-Nasa'i. Dan lafaz yang sama juga diriwayatkan Muslim. Muslim juga meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur'an, maka shalatnya itu tidak sempurna… tidak sempurna… tidak sempurna."

Dikatakan kepada Abu Hurairah, "Kami berada di belakang imam." Maka Abu Hurairah berkata, "Bacalah al-Fatihah itu di dalam hatimu, karena aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



'Allah Ta'ala berfirman, “Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta'. Jika ia mengucapkan, 'alhamdulillahi rabbil 'alamin', maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku'. Dan jika ia mengucapkan, 'Arrahmanirrahimi', maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku'. Jika ia mengucapkan, 'Malikiyaumiddin', maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memuliakan-Ku'. Dan pernah Abu Hurairah menuturkan, 'Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku'. Jika ia mengucapkan, 'Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in', maka Allah berfirman, 'Inilah bagian diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta'. Dan jika ia mengucapkan, 'Ihdinash shirathalmustqim shirathaladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim waladh dhollin', maka Allah berfirman, 'Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang ia minta'." (Demikian pula diriwayatkan an-Nasa'i).

Penjelasan mengenai hadits ini yang khusus tentang al-Fatihah, terdiri dari beberapa hal:

Pertama, disebutkan dalam hadis tersebut kata shalat, dan maksudnya adalah bacaan, seperti firman Allah:



"Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya serta carilah jalan tengah di antara keduanya." (QS.Al-Israa': 110).

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih dari Ibnu Abbas. Demikian pula firman Allah dalam hadis ini, "Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian di antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Kemudian Allah jelaskan pembagian itu secara rinci dalam bacaan Al-Fatihah. Hal itu menunjukkan keagungan bacaan Al-Fatihah dalam shalat dan merupakan rukun utama. Apabila disebutkan kata ibadah dalam satu bagian, sedangkan yang dimaksud adalah bagian lainnya, artinya bacaan Al-Fatihah. Sebagaimana disebutnya kata bacaan sedang maksudnya adalah shalat itu sendiri, dalam firman-Nya, "Dan dirikanlah shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS.Al-Isra: 78). Sebagaimana secara jelas disebutkan di dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim, "Shalat Subuh itu disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang."

Semuanya itu menunjukkan bahwa menurut kesepakatan para ulama, bacaan Al-Fatihah dalam shalat merupakan suatu hal yang wajib. 

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai apakah selain Al-Fatihah ada surat tertentu yang harus dibaca, atau cukup Al-Fatihah saja?

Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Menurut Abu Hanifah, para pengikutnya, dan juga yang lainnya, bacaan Alquran itu tidak ditentukan. Surat atau ayat apa pun yang dibaca, akan memperoleh pahala. Mereka berhujjah dengan keumuman firman Allah Ta'ala:



"Maka bacalah olehmu apa yang mudah bagimu dari Alquran." (QS. Al-Muzzammil: 20).

Dan sebuah hadis yang terdapat dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu mengenai kisah seseorang yang kurang baik dalam mengerjakan shalatnya, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
"Jika engkau mengerjakan shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Alquran."

Menurut mereka, Rasulullah memerintahkannya untuk membaca yang mudah dari Alquran dan beliau tidak menentukan bacaan Al-Fatihah atau surat lainnya. Ini adalah pendapat yang kami pilih.

Kedua, diharuskan membaca Al-Fatihah dalam shalat. Jika seseorang tidak membaca Al-Fatihah maka shalatnya tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, para sahabat mereka, serta jumhurul ulama.

Pendapat mereka ini didasarkan pada hadis yang disebutkan sebelumnya, di mana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa mengerjakan shalat, lalu ia tidak membaca Ummul Kitab di dalamnya, maka shalatnya itu terputus." (HR Muslim, al-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam).

Selain itu, mereka juga berdalil dengan sebuah hadits yang terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, dari az-Zuhri, dari Mahmud bin az-Rabi', dari Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca 'Fatihatul Kitab'."

Dan diriwayatkan dalam sahih Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak dibacakan Ummul Qur’an."

Hadits-hadits mengenai hal ini sangat banyak, dan terlalu panjang jika kami kemukakan di sini tentang perdebatan mereka. Dan kami telah kemukakan pendapat mereka masing-masing dalam hal ini.

Kemudian, Imam Syafi'i dan sekelompok ulama berpendapat bahwa bacaan Al-Fatihah wajib dilakukan pada setiap rakaat dalam shalat. Sedang ulama lainnya menyatakan, bacaan Al-Fatihah itu hanya pada sebagian besar rakaat.

Hasan Al-Bashri dan mayoritas ulama Bashrah mengatakan, bacaan Al-Fatihah itu hanya wajib dalam satu rakaat saja pada seluruh shalat, berdasarkan pada kemutlakan hadis Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau bersabda:

"Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca 'Fatihatul Kitab'."

Sedangkan Abu Hanifah dan para sahabatnya, ats-Tsauri, serta al-Auza'i berpendapat, bacaan Al-Fatihah itu bukan suatu hal yang ditentukan (diwajibkan), bahkan jika seseorang membaca selain Al-Fatihah, maka ia tetap mendapatkan pahala. Hal itu didasarkan pada firman Allah, "Maka bacalah olehmu apa yang mudah bagimu dari Alquran." (QS. Al-Muzzammil: 20). Wallahu a'lam.

Ketiga, Apakah makmum juga berkewajiban membaca Al-Fatihah? Mengenai hal ini terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama:

Pendapat pertama, setiap makmum tetap berkewajiban membaca Al-Fatihah sebagaimana imam. Hal itu didasarkan pada keumuman hadis di atas.

Pendapat kedua, tidak ada kewajiban membaca Al-Fatihah atau surat lainnya bagi makmum sama sekali, baik dalam shalat jahr (bacaan yang dikeraskan) maupun shalat sirri (tidak dikeraskan). Hal itu didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-Musnad, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa shalat bersama seorang imam, maka bacaan imam itu adalah bacaan untuk makmum juga."

Namun, hadis ini memiliki kelemahan dalam isnadnya. Dan diriwayatkan Imam Malik dari Wahab bin Kaisan, dari Jabir. Juga diriwayatkan dari beberapa jalan namun tidak satupun yang berasal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a'lam.

Pendapat ketiga, Al-Fatihah wajib dibaca oleh makmum dalam shalat sirri, dan tidak wajib baginya membaca dalam shalat jahri. Hal itu sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Sahih Muslim, dari Abu Musa al-Asy'ari, katanya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai panutan. Jika ia bertakbir, maka hendaklah kalian bertakbir. Dan jika ia membaca (Al-Fatihah atau surat Alquran), maka simaklah oleh kalian." (Dan seterusnya).

Demikian pula diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan, yaitu Abu Dawud, an-Nasa'i dan Ibnu Majah yang berasal dari Abu Hurairah, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika imam membaca (Al-Fatihah atau surat Alquran), maka simaklah oleh kalian." Hadis ini telah dinyatakan sahih oleh Muslim bin Hajjaj.

Kedua hadis di atas menunjukkan kesahihan pendapat ini yang merupakan Qaulun qadim (pendapat lama) Imam Syafi'i rahimahullahu, dan satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Dan maksud dari pengangkatan masalah-masalah tersebut di sini adalah untuk menjelaskan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan surat Al-Fatihah dan tidak berkenaan dengan surat-surat lainnya. 

***Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir Jilid-I Terjemahan Indonesia: Penerbit Pustaka Imam Syafi'ie.
____________________ 

Thanks for reading Keutamaan Surat al-Fatihah dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment