Home » » Bismillahirrahmanirrahim dan Keutamaan Basmalah dalam Tafsir Ibnu Katsir

Bismillahirrahmanirrahim dan Keutamaan Basmalah dalam Tafsir Ibnu Katsir




Bacaan ‘Bismillaahirrahmaanirrahim’ dan keutamaan Basmalah menjadi pembahasan tersendiri di dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah membahasnya dalam bagian pendahuluan dari tafsir surat Al-Fatihah.

Dibahas mulai dari kedudukan basmalah yang ditulis di awal tiap-tiap surat dalam Al-Qur’an (kecuali at-Taubah), tata cara membacanya di dalam shalat, sunnah-sunnah yang terkait dengan basmalah, hingga keutamaan-keutamaan yang terdapat pada bacaan ‘Bismillaahirrahmaanirrahim.’

Berikut ini pembahasan ‘Bismillaahirrahmaanirrahim’ dan ‘keutamaan basmalah’ kami salin secara lengkap dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i.



"Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"

Para sahabat membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama telah sepekat bahwa 'Bismillaahirrahmaanirrahim' adalah salah satu ayat dari surat an-Naml.

Tetapi, mereka berbeda pendapat apakah basmalah itu ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat ataukah merupakan bagian dari awal masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya.

Ataukah merupakan salah satu ayat dari setiap surat, atau bagian dari surat Al-Fatihah saja dan bukan surat-surat lainnya.

Ataukah basmalah yang ditulis di awal masing-masing surat itu hanya untuk pemisah antara surat semata dan bukan merupakan ayat. Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama, baik salaf maupun khalaf, dan bukan di sini tempat untuk menjelaskan itu semua.

Dalam kitab Sunan Abu Dawud diriwayatkan dengan isnad sahih, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui pemisah surat Alquran sehingga turun kepadanya, Bismillaahirrahmaanirrahim.

Hadis di atas juga diriwayatkan al-Hakim Abu Abdillah an-Nisaburi dalam kitab al-Mustadrak.

Termasuk yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surat kecuali at-Taubah yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu az-Zubair, Abu Hurairah, Ali. Dari kalangan tabi'in: Atha', Thawus, Sa'id bin Jubair, Makhul, dan az-Zuhri.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Abdullah bin al-Mubarak, Imam Syafi'i, Ahmad bin Hanbal (menurut satu riwayat). Ishak bin Rahawaih, Abu Ibaid al-Qasim bin Salam radhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah beserta para pengikutnya bependapat bahwa basmalah itu bukan temasuk ayat Al-Fatihah, tidak juga surat-surat lainnya. Namun, menurut Dawud, basmalah teletak pada awal setiap surat dan bukan bagian darinya. Demikian pula menurut satu riwayat dai Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dengan suara keras), termasuk bagian dari pebedaan pendapat di atas. Mereka yang bependapat bahwa basmalah itu bukan ayat Al-Fatihah, maka ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengatakan bahwa basmalah adalah suatu ayat yang ditulis pada awal setiap surat.

Mereka yang berpendapat bahwa basmalah termasuk bagian pertama dari setiap surat masih berbeda pendapat. Imam Syafi'i berpendapat bahwa basmalah itu dibaca secara jahr besama Al-Fatihah dan juga surat Alquran lainnya. Inilah mazhab beberapa sahabat dan tabi'in serta para imam, baik salaf maupun khalaf.

Dalam kitab sahih al-Bukhari, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia pernah ditanya mengenai bacaan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka ia menjawab: 
"Bacaan beiau itu (kalimat demi kalimat) sesuai dengan panjang pendeknya. Kemudian Anas membaca bismillaahirrahmanirrahim, dengan memanjangkan bagian-bagian yang perlu dipanjangkan)."

Dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, sahih Ibnu Khuzaimah, dan Mustadrak al-Hakim yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, katanya: 
"Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memutus bacaannya, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirabbil'alamin, arrahmanirrahim, malikiyaumiddin."

Ad-Daraquthni mengatakan, isnad hadis ini sahih.

Ulama lainnya berpendapat bahwa basmalah tidak dibaca secara jahr di dalam shalat. Inilah riwayat yang benar dari empat Khulafa 'ur-Rasyidin, Abdullah bin Mughaffal, beberapa golongan ulama salaf maupun khalaf. Hal ini juga menjadi pendapat Imam Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal.

Menurut Imam Malik, basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahr maupun sirri. Mereka mendasarkan pada hadis yang terdapat dalam kitab sahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, katanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membuka shalat dengan takbir dan bacaan alhamdulillahirabbil'alamin.

Juga hadis dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, ia menceritakan, "Aku pernah shalat di belakang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka semua membuka shalat dengan bacaan alhamdulillahirabbil'alamin."

Menurut riwayat Muslim, "Mereka tidak menyebutkan bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan dan tidak juga pada akhirnya."

Hal senada juga terdapat dalam kitab Sunan, diriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu.

Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang menjahrkan atau yang mensirrikan basmalah adalah sah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala.

Keutamaan Basmalah




Membaca basmalah disunnahkan pada saat mengawali setiap pekerjaan. Disunnahkan juga pada saat hendak masuk ke kamar kecil (toilet). Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis. Selain itu, basmalah juga disunnahkan untuk dibaca di awal wudhu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis marfu' dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab sunan, dari Abu Hurairah, Sa'id bin Zaid dan Abu Sa'id, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Tidak sempurna wudhu bagi orang yang tidak membaca nama Allah padanya." (Hadis ini Hasan).

Juga disunnahkan dibaca pada saat hendak makan, berdasarkan hadis dalam Sahih Muslim, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Umar bin Abi Salamah:
"Ucapkan 'bismillah', makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu."

Meski demikian, di antara ulama ada yang mewjibkannya. Disunnahkan pula membacanya ketika hendak berijma' (melakukan hubungan badan), berdasarkan hadis dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

"Seandainya seseorang di antara kalian apabila hendak mencampuri istrinya membaca, 'Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami', jika Allah menakdirkan anak melalui hubungan keduanya, maka anak itu tidak akan diganggu setan selamanya."

Kata "ALLAH" merupakan nama untuk Rabb. Dikatakan bahwa Allah adalah al-ismul-a'zham (nama yang paling agung), karena nama itu menyandang segala macam sifat, sebagaimana firman Allah:

"Dialah Allah yang tiada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan nyata. Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS.Al-Hasyr: 22).

Dengan demikian, semua nama-nama yang baik itu menjadi sifat-Nya. Dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
"Sesungguhnya Allah mempunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama, seratus kurang satu, barangsiapa yang dapat menguasainya, maka ia akan masuk Surga."

Mengenai daftar nama yang sesuai dengan jumlah bilangan ini diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Namun, antara kedua riwayat itu terdapat perbedaan tambahan dan pengurangan. (Maksudnya disebutkan di dalam riwayat at-Tirmizi nama-nama yang tidak disebutkan di dalam riwayat Ibnu Majah, demikian juga sebaliknya, pent).

Nama Allah merupakan nama yang tidak diberikan kepada siapa pun selain diri-Nya, yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab tidak diketahui dari kata apa nama-Nya itu berasal. Maka, di antara para ahli nahwu ada yang menyatakan bahwa nama itu (Allah) adalah ismun jamid, yaitu nama yang tidak mempunyai kata dasar.

Al-Qurthubi mengutip hal itu dari sejumlah ulama di antaranya Imam Syafi'i, al-Khathabi, Imamul Haramain, al-Ghazali, dan lain-lainnya.

Dari al-Khalil dan Sibawaih diriwayatkan bahwa "alif" dan "lam" dalam kata "ALLAH" merupakan suatu yang lazim (tak terpisahkan). Al-Khathabi mengatakan, "Tidakkah anda menyadari bahwa anda dapat menyerukan 'ya Allah' dan tidak dapat menyerukan, 'ya ar-Rahman'." Kalau kata “Allah” bukan dari asal kata, maka tidak boleh memasukkan huruf nida' (seruan) terhadap "alif" dan "lam". Ada juga yang berpendapat bahwa kata Allah itu mempunyai kata dasar.

“Ar-rahmanirrahim” merupakan dua nama dalam bentuk mubalaghah (bermakna lebih) yang berasal dari satu kata ar-Rahmah. Namun kata Ar-Rahman lebih menunjukkan makna yang lebih daripada kata ar-Rahim.

Dalam pernyataan Ibnu Jarir, dapat dipahami adanya keterangan mengenai hal ini. Sedangkan dalam tafsir sebagian ulama salaf terdapat ungkapan yang menunjukkan hal tersebut.

Al-Qurthubi mengatakan, dalil yang menunjukkan bahwa nama ini musytaq adalah hadis riwayat at-Tirmizi, dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku adalah ar-Rahman, Aku telah menciptakan rahim (rahm-kerabat). Aku telah menjadikan untuknya nama dari nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya maka Aku pun memutuskannya'."

Ini merupakan nash bahwa nama tersebut adalah musytaq, karena itu tidak diterima pendapat yang menyalahi dan menentangnya.

Abu Ali al-Farisi mengatakan, ar-Rahman merupakan nama yang bersifat umum meliputi segala macam bentuk rahmat, dikhususkan bagi Allah Subhanahu wata’ala semata. Sedangkan ar-Rahim, dimaksudkan bagi orang-orang yang beriman. Berkenaan dengan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, "Dan Dialah yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS.Al-Ahzab: 43).

Ibnu al-Mubarak mengatakan, ar-Rahman yaitu jika dimintai, Dia akan memberi. Sedangkan ar-Rahim yaitu, jika permohonan tidak diajukan kepada-Nya, maka Dia akan murka. Sebagaimana dalam hadis riwayat at-Tirmizi dan Ibnu Majah dari Abu Shalih al-Farisi al-Khuzi, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya."

Nama "ar-Rahman" hanya dikhususkan untuk Allah semata, tidak diberikan kepada selain diri-Nya, sebagaimana firman-Nya:
"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al-Asma'ul-Husna (nama-nama yang terbaik)'." (QS.Al-Israa': 110).

Oleh karena itu, ketika dengan sombongnya Musailamah al-Kadzdzab menyebut dirinya dengan sebutan rahman al-yamamah, maka Allah pun memakaikan padanya pakaian kebohongan dan membongkarnya, sehingga ia tidak dipanggil melainkan dengan sebutan Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah si pendusta).

Sedangkan mengenai "ar-Rahim", Allah Ta'ala pernah menyebutkan kata itu untuk selain diri-Nya. Dalam firman-Nya Allah menyebutkan:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 128).

Sebagaimana Dia juga pernah menyebut selain diri-Nya dengan salah satu dari nama-nama-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari seteter air mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia sami'an (mendengar) dan bashiran (melihat)." (QS. Al-Insan: 2).

Dapat disimpulkan bahwa di antara nama-nama Allah itu ada yang disebutkan untuk selain diri-Nya, tetapi ada juga yang tidak disebutkan untuk selain dri-Nya, misalnya nama Allah, ar-Rahman, al-Khaliq, ar-Razzaq, dan lain-lainya.

Oleh karena itu, Dia memulai dengan nama Allah, dan menyifati-Nya dengan ar-Rahman, karena ar-Rahman itu lebih khusus daripada ar-Rahim.

Sumber: Disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
____________________


Thanks for reading Bismillahirrahmanirrahim dan Keutamaan Basmalah dalam Tafsir Ibnu Katsir

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment