Home » , , » Shalat Istikharah yang Benar Sesuai Sunnah: Pemahaman, Hukum, dan Tata Caranya

Shalat Istikharah yang Benar Sesuai Sunnah: Pemahaman, Hukum, dan Tata Caranya



Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sedang manusia hanyalah makhluk yang lemah, yang senantiasa di dalam setiap urusannya, membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah subhanahu wata’ala.

Di antara kelemahan manusia itu, ia sama sekali tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ia tidak tau apa yang akan terjadi pada kejadian masa yang akan datang. Bahkan ia tidak tau mana yang hakikatnya baik, dan mana yang hakikatnya buruk, bahkan untuk dirinya sendiri.

Karena itulah, di dalam Islam disyari’atkan adanya do’a, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Agar setiap hamba dapat meminta petunjuk dan pertolongan kepadaNya. Meminta diberi-Nya kemudahan dan kebaikan, serta dihilangkan kesulitan dan keburukan, dalam setiap urusannya. Karena Allah lah Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Salah satu dari do’a yang disyari’atkan tersebut adalah do’a istikharah, yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Semoga Allah menunjuki kita.

Tentang pentingnya kedudukan shalat istikharah, Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.”

Lihat Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub.

Namun terdapat perbedaan di tengah kaum muslimin dalam memahami shalat istikharah. Khususnya tentang kapan atau dalam keadaan apa shalat istikharah dilakukan.

Pemahaman pertama, shalat istikharah dikerjakan ketika menghadapi kebimbangan dalam memilih beberapa pilihan yang sulit dan meragukan.

Pemahaman kedua, shalat istikharah dilakukan setelah menetapkan pilihan atau memantapkan niat atau tekad untuk melaksanakan sebuah urusan.

Pemahaman yang pertama lebih banyak pengikutnya, terutama di kalangan masyarakat umumnya. Sedangkan yang kedua, lebih sedikit.

Kita misalnya, lebih sering menjumpai contoh, seseorang melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah, apakah harus menerima lamaran si pulan, ataukah menolaknya? Apakah memilih melanjutkan pendidikan dulu, atau menikah saja? Apakah memilih perguruan tinggi A atau B, atau jurusan X atau Z? Apakah tetap bekerja di perusahaan, atau keluar untuk membuka usaha sendiri? Dan sebagainya.

Untuk menjawab manakah di antara dua pemahaman ini yang paling sesuai dengan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, mari kita simak salah satu hadits yang menjadi pokok dalil disyariatkannya shalat istikharah.

Hadits ini sekaligus memuat doa-doa, tuntunan, dan tata cara yang jelas dalam melaksanakan shalat istikharah.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلميُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِخَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِقَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِىفَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِىأَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِفَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agamaku, penghidupanku, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agamaku, penghidupanku, dan akhir urusanku (dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah)

Pokok-Pokok Pemahaman dan Tata Cara Shalat Istikharah


Di dalam hadits yang mulia tersebut sesungguhnya sudah mencakup pokok-pokok pemahaman yang lengkap mengenai shalat istikharah:

Pertama : Melakukan shalat istikharah bukan ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau ragu-ragu.

Yang tepat adalah ketika seseorang telah memilih satu pilihan dalam urusannya (baik pilihan itu mantap maupun ragu-ragu), lalu ia memohon pertolongan kepada Allah dengan melaksanakan shalat istikharah, agar jika pilihan itu baik dimudahkan baginya dan jika tidak agar dihindarkan atau dipalingkan darinya.

Inilah pemahaman yang benar, karena dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jelas mengatakan:

إِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْللأَمْرِ

“Jika salah seorang di antara kalian mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu…….”.

Bunyi hadits ini sama sekali tidak menyebut adanya dua pilihan yang ragu-ragu. Lagi pula, di dalam lafal do’a yang diajarkan dalam hadits tersebut, terdapat kalimat: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku…

Ini artinya, perkara dimaksud adalah satu perkara yang tertentu dan jelas, bukan dua atau lebih perkara yang meragukan.

Karena tidak mungkin lafal doanya menjadi berbunyi seperti ini: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (misalnya: apakah aku memilih si A atau si B sebagai pendamping hidupku) baik bagiku…”

Mesti yang benar adalah: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (misalnya: memilih si A sebagai pendamping hidupku) baik bagiku.…” Jadi, mesti pilihannya sudah jelas.

Adapun untuk perkara yang ragu-ragu dan terasa sulit untuk menetapkan pilihan, hendaklah seorang muslim berdoa lebih dulu memohon petunjuk kepada Allah (di luar shalat istikharah). Dan setelah mendapatkan kecondongan hati terhadap satu pilihan -- sekali lagi: baik mantap maupun bimbang -- barulah ia melakukan shalat istikharah.

Dengan demikian, faedah shalat istikharah di sini adalah meminta pertolongan kepada Allah, jika pilihan itu baik baginya, mudah-mudahan Allah memudahkan dan memberikan berkah kepadanya dalam urusan itu. Dan jika tidak baik, mudah-mudahan Allah memalingkan dirinya dari apa yang telah dipilihnya, dan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik.



Kedua : Mengenai hukum shalat istikharah, meski tidak sampai pada derajat “wajib” (karena shalat wajib hanya ada lima waktu), namun shalat istikharah termasuk sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hal ini terlihat dari bunyi hadits:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu…..”

Ketiga : Di dalam nash hadits juga dengan terang disebutkan bahwa shalat istikharah disyariatkan dalam segala urusan. Baik urusan itu besar maupun kecil, penting maupun tidak.

Ini juga disepakati oleh Imam Nawawi rahimahullah dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah: ”Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar?”

Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Keempat : Shalat istikharah dilakukan pada pokoknya adalah khusus untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh). Bukan pada perkara-perkara yang wajib dan sunnah, apalagi perkara-perkara yang haram dan makhruh.

Terkait hal ini, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.” (Lihat Fathul Baari, 11/184).

Jadi, tidak perlu shalat istikharah untuk melaksanakan yang wajib ataupun untuk meninggalkan yang haram. Sebagaimana tidak perlu shalat istikharah bagi seseorang yang ingin menunaikan yang sunnah atau meninggalkan yang makruh. Karena itu semua sudah terang hukumnya.

Jikapun shalat istikharah untuk perkara-perkara wajib dan sunnah, hal itu dapat dilakukan lebih pada persoalan memilih waktu dan prioritas, bukan masalah dikerjakan atau tidak dikerjakan.

Misalnya, shalat istikharah pada perkara wajib dapat dilakukan apabila ada dua perkara wajib yang waktunya bertabrakan, sementara keduanya adalah perkara wajib yang boleh ditunda atau diakhirkan karena waktunya yang lapang.

Contohnya, seseorang ingin menunaikan ibadah haji, namun pada saat yang sama ia juga ingin melunasi hutangnya (yang belum jatuh tempo) terlebih dahulu. Keduanya wajib ditunaikan dan tidak ada satupun yang boleh ditinggalkan.

Sedangkan shalat istikharah untuk perkara sunnah dilakukan ketika ada dua perkara sunnah yang waktunya atau kesempatannya bertabrakan. Manakah yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

Misalnya, ketika seseorang mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu (=sunnah) di luar negeri, tapi di sisi lain ia merasa berat meninggalkan mengajar madrasah (=sunnah) di kampungnya yang kekurangan guru agama.

Dalam keadaan seperti ini, ia boleh memilih mana yang harus didahulukan sesuai dengan kecondongan hatinya. Setelah itu, melaksanakan shalat istikharah memohon pertolongan Allah jika pilihan itu baik baginya agar dimudahkan, dan jika tidak baik agar dipalingkan atau dihindarkan.

Kelima : Berdasarkan bunyi hadits yang mulia ini, shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat di luar shalat wajib.

Ini mengandung pengertian, boleh shalat sunnah dua rakaat yang diniatkan khusus untuk shalat istikharah, boleh juga shalat sunnah dua rakaat lainnya (baik diniatkan atau tidak diniatkan untuk shalat istikharah).

Terkait hal ini, Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, sama saja shalat itu diniati dengan niat istikharah maupun tidak.

Sedang Al-Iraqi berkata: “Jika keinginan melakukan sesuatu itu muncul sebelum mengerjakan shalat sunnat rawatib atau yang semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk beristikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir, hal tersebut sudah mencukupi.” (Dinukil dalam kitab beliau Nailul Authar III/88)

Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa doa istikharah dapat dipanjatkan setelah melaksanakan dua rakaat shalat sunnah apa saja, seperti ba’da shalat sunnat rawatib, ba’da tahiyatul masjid, atau ba’da shalat sunnah lainnya. Ataupun, ba’da dua rakaat yang diniatkan khusus untuk shalat istikharah.

Keenam : Di dalam hadits yang mulia ini juga terkandung pengertian bahwa shalat istikharah merupakan bentuk penyerahan akhir dari sebuah urusan kepada Allah. Karena Allah Yang Maha Tahu baik dan buruk dari semua urusan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Karena itu, setelah melakukan shalat istikharah, seorang muslim kemudian melaksanakan apa yang telah menjadi pilihan atau ketetapan hatinya. Apapun hasilnya, ikhlas dan berprasangka baik kepada Allah. Jika dimudahkan, itu adalah yang terbaik baginya. Jika dipalingkan atau dihindarkan, itu juga yang terbaik baginya.

Jika seorang gadis menetapkan pilihan untuk menerima lamaran dari pria A, lalu ia shalat istikharah, namun kemudian banyak halangan yang merintangi hingga ia tidak jadi menikah dengannya, maka itu adalah yang terbaik baginya. Demikian pun sebaliknya, jika ia jadi menikah dengannya, maka itupun yang terbaik baginya.

Ketujuh : Di dalam hadits tersebut juga terkandung pengertian bahwa buah dari shalat istikharah terlihat dari dimudahkannya ataupun dirintanginya seseorang dari apa yang menjadi kehendaknya.

Shalat istikharah seseorang diijabah oleh Allah bukan dilihat dari apa yang menjadi keinginan hatinya tercapai. Bukan pula dilihat dari apakah hasilnya “menyenangkan” hatinya atau tidak.

Sebab, boleh jadi apa yang diinginkan oleh hati manusia itu sesungguhnya tidak baik baginya.

Az-Zamlakani mengatakan :”Jika seseorang mengerjakan shalat istikharah dua rakaat untuk suatu hal, maka hendaklah setelah itu dia melakukan apa yang tampak olehnya, baik hatinya merasa senang maupun tidak, karena padanya kebaikan itu berada sekalipun jiwanya tidak menyukainya.”

Dia mengatakan: “Di dalam hadits tersebut tidak ada syarat adanya kesenangan diri.” (Thabaqaat Asy-Syafi’iyyah, At-Taaj Ibnus Subki IX/206)

Kedelapan : Sesuai lafal hadits, memanjatkan do’a istikarah dilakukan setelah salam dari shalat sunnah dua rakaat. Yang demikian itu didasarkan pada bunyi hadits:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُم بِالأّمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan ....”

Ini berbeda dengan pendapat yang diketengahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berpendapat bahwa do’a istikharah itu dipanjatkan sebelum salam. Wallahu a’lam.

***Disumberkan dari banyak sumber antara lain “Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
___________________

Thanks for reading Shalat Istikharah yang Benar Sesuai Sunnah: Pemahaman, Hukum, dan Tata Caranya

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

2 komentar:

  1. terlalu sempit pemahamanmu akhi,,,,secara bahasa aja istikhoroh...{meinta pilihan} perdalam dulu ilmu shorofnya...
    yg dimksud al-qurtubi itu juga sampean salah memberikan ulasan...halhal yang berifat dunaiawi murni memang tidak memerlukan istikhoroh...akan tetapi mengenai duniawi yang berkaitan dengan ukhrowi boleh2 saja...seperti memilih pekerjaan...kr bekerja dengan niat melaksanakan tugas memberi nafkaq kpd keluarga dan diniatkan krn Allah adalah ibadah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih... tentang al-qurtubi, dalam tulisan kami sama sekali tidak memberikan ulasan, yang ada adalah kutifan. Tolong dibaca kembali.

      Delete