Home » , » Mencontoh Ruku' Nabi dalam Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [5]

Mencontoh Ruku' Nabi dalam Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [5]


Tulisan ini akan membahas bagian ke lima tata cara shalat, yakni Ruku’.

Dengan memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wata’ala, mudah-mudahan pembahasan ini mendekatkan ibadah kita mengikuti tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Akan dibahas mulai dari hukum-hukum yang terkait dengan ruku’, tata cara ruku’, bacaan-bacaan ruku’ yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kesalahan-kesalahan yang umum dijumpai dalam pelaksanaan ruku’.

Hukum-Hukum Terkait Ruku’


Ruku’ merupakan salah satu rukun shalat. Tidak sah shalat tanpa ruku’.

Namun dalam pelaksanaan ruku’, terdapat bagian-bagian yang hukumnya wajib, dalam arti menjadi syarat sahnya ruku’ dalam shalat. Terdapat pula hal-hal yang disunnahkan untuk dilakukan dalam ruku’. Serta ada pula hal-hal yang dilarang untuk dilakukan dalam ruku’.

A. Yang Wajib dalam Ruku’


Empat hal yang tergolong wajib dalam ruku’ adalah:

1. Menundukkan badan hingga punggung rata (lurus).

Al-Imam al-Albani dalam al-Ashl (2/637—638) menguatkan wajibnya meluruskan punggung dalam ruku’. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيْمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ

Artinya: “Tidak mencukupi shalat seseorang hingga ia meluruskan/meratakan punggungnya dalam ruku’ dan sujud.”(HR. Abu Dawud no. 855 dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri, disahihkan juga dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

2. Posisi kepala sejajar dengan punggung, tidak terlalu ke atas dan tidak terlalu ke bawah

Sebagaimana dalam hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan :

وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ، وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ

Artinya: “Jika Rasulullah ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya. Akan tetapi, (kepala beliau berada) di antara keduanya (tidak tunduk lebih rendah dan tidak pula mengangkat lebih tinggi, namun rata dengan punggungnya).”(HR. Muslim No.1110)

3. Meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah menegur dan memerintahkan seseorang yang tidak benar dalam shalatnya:

”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tanganmu di atas lututmu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mantap di tempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).





Dalam lafaz yang lain, ”Jika engkau ruku, letakkanlah tanganmu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan tekanlah tanganmu dalam ruku’ mu.” (HR Ahmad & Abu Daud).

(Lebih rinci tentang tata cara menundukkan badan dalam ruku, posisi kepala dalam ruku, dan meletakkan tangan di atas lutut akan dibahas dalam bagian “tata cara ruku” dalam tulisan ini).

4. Thuma’ninah dalam ruku.’

Wajibnya thuma’ninah dalam ruku’ didasarkan pada beberapa sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

“Sejelek-jeleknya pencuri ialah orang yang mencuri dari shalatnya”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Ya Rasulullah. Bagaimanakah caranya mencuri dari shalat?”Beliau menjawab : “Tidak disempurnakan-nya ruku’ dan sujudnya.” Atau dalam riwayat lain dikatakan, “Tidak diluruskannya punggung sewaktu ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Hadits lainnya dalam Rifa’ah ibnu Rafi’ diterangkan tentang sifat ruku’ nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam:

ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ

“Kemudian ia (Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam) ruku’ hingga thuma’ninah/tenang persendiannya (anggota-anggota tubuh menetap pada tempatnya).” (HR. al-Bukhari no. 793)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/363) berkata, hadits ini menjadi dalil akan wajibnya thuma’ninah dalam ruku’.

Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah ketika melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya bersabda:

لَوْ مَاتَ هَذَا عَلىَ حَالِهِ هذِهِ، مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ، مَثَلُ الَّذِي لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ مَثَلُ الْجَائِعِ الَّذِي يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ، لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

Artinya: "Seandainya orang ini mati dalam keadaan seperti ini, niscaya ia mati di atas selain agama Muhammad. Ia mematuk ketika shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Permisalan orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan mematuk dalam sujudnya adalah seperti orang lapar yang makan sebutir atau dua butir kurma, tidak mencukupinya sedikit pun.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir 1/192/1, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 340 dan 349/1. Al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib 1/182, dan al-Haitsami 2/121. Sanadnya hasan.)

B. Yang Sunnah dalam Ruku’


Adapun yang tergolong ‘sunnah’ dalam ruku’ adalah:

1. Bertakbir ketika akan turun ruku’

Hukum membaca takbir ketika akan turun ruku’ sama dengan hukum semua takbir dalam shalat di luar takbiratul ikhram. Atau disebut dengan istilah takbir intiqal (perpindahan). Hukumnya sunnah, dengan lafal “Allahu Akbar.”

Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum takbir intiqal ini. Dalam penelusuran kita, setidaknya ada tiga pendapat mengenai hukum takbir intiqal:

  • Pendapat pertama, hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat jumhur ulama.
  • Pendapat kedua, hukumnya wajib. Merupakan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.
  • Pendapat ketiga, hukumnya wajib pada shalat fardhu, namun sunnah pada shalat sunnah. Ini pendapat yang lain dari Imam Ahmad.

Dalam tulisan ini, kita sependapat dengan pendapat pertama, bahwa membaca takbir ketika akan turun ruku’ hukumnya adalah sunnah.

2. Mengangkat tangan saat takbir intiqal.

Disunnahkan mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbir intiqal, dengan tata cara yang sama ketika takbiratul ikhram.

3. Membaca bacaan Ruku'.

Yakni, membaca bacaan ruku’ yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dalam banyak riwayat diketahui bahwa Rasulullah senantiasa bertasbih saat ruku’ dalam shalat. Namun mayoritas ulama menghukumi bacaan tasbih saat ruku’ ini sebagai sunnah. Tidak wajib. Hal ini disetujui oleh Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan asy-Syafi’i, serta jumhur ulama.

Mereka berargumen dengan hadits al-musi’u shalatahu, yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak memerintahkan orang tersebut (orang yang ditegur oleh Rasulullah karena salah dalam shalatnya) untuk bertasbih saat ruku’ dan sujud. Seandainya hal itu wajib, niscaya Rasulullah akan memerintahkannya. (al-Minhaj, 4/421).

Ini adalah pendapat yang paling rajih.

C. Yang Terlarang dalam Ruku’


Sedangkan yang dilarang dalam ruku’ adalah membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ini berdasarkan sejumlah hadits antara lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ، وَإِنِّي نُهِيْتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيْهِ الدُّعَاءَ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Artinya: “Sungguh, aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena pantas doa kalian dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074)

Hadits lain, Ali bin Abi Thalib berkata:

نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا

Artinya: “Rasulullah melarangku membaca Al-Qur’an dalam keadaan aku ruku’ atau sujud.” (HR. Muslim no. 1076)

Tata Cara Ruku’ yang Sesuai Sunnah


Bagian ini membahas tata cara ruku’ yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

a. Membaca takbir (takbir intiqal)

Termasuk bagian dari ruku’ adalah membaca takbir intiqal ketika akan turun ruku’. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

“Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertakbir setiap kali bangkit, sujud, berdiri dan duduk.” (HR. Ahmad, Nasa’I dan at Tirmidzi) 

Namun seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hukum membaca takbir saat turun ruku' adalah sunnah. Beberapa sahabat diketahui meninggalkan takbir intiqal ini.

b.  Mengangkat kedua tangan (raf'ul yadain)

Disunnahkan mengangkat kedua tangan (raf’ul yadain) dengan tata cara yang sama seperti takbiratul ikhram. Yakni, seraya membaca takbir diiringi dengan mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga, dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung tangan.

Ini adalah pendapat jumhur ulama -- Syafi’iyyah, Hanabilah, Imam Malik, Al Auza’i dan para ulama Syam dan Hijaz (lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah 23/130, Ashlu Sifati Shalatin Nabiy 2/611).

Adapun dalil-dalil mengenai disyariatkannya raf’ul yadain beserta tata caranya, di antaranya hadits dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:

أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يرفعُ يديه حذوَ مَنكبيه؛ إذا افتتح الصَّلاةَ، وإذا كبَّرَ للرُّكوع، وإذا رفع رأسه من الرُّكوع

Artinya: “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya” (HR. Bukhari 735).

c. Meletakkan kedua tangan pada kedua lutut

Tata cara ruku’ berikutnya, setelah takbir intiqal seraya mengangkat kedua tangan, lalu diikuti dengan menundukkan separoh badan serta meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut.

Caranya adalah memegang kedua lutut dengan kedua tangan dan merenggangkan jari-jemari.

Hal ini berdasarkan pada hadits: ”Jika engkau ruku’ letakkanlah kedua tanganmu di atas lututmu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan di tempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban). 

Juga diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat di samping ayahku (kemudian ruku’) dengan meletakkan tangan di paha dengan jari-jemari merapat. Lantas ayahku melarang dari hal itu, ia berkata, “Kami diperintahkan untuk meletakkan tangan di lutut (dikala ruku’) (HR. Ahmad) 

d. Meluruskan punggung

Seperti di singgung sebelumnya, di antara yang wajib dalam ruku’ adalah meluruskan punggung dan menyeimbangkan kepala, yakni tidak menunduk terlalu rendah dan juga tidak mendongak terlalu tinggi.

Sebagaimana keterangan dari ummul mukminin Aisyah yang mengatakan : “Beliau ketika ruku’ tidak mengangkat atau menundukkan kepala, tetapi seimbang di antara keduanya.” (HR. Muslim)

Tentang meluruskan punggung seperti dicontohkan Rasulullah, sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu menjelaskan: “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika ruku’ seandainya diletakkan gelas yang berisi air, niscaya tidak akan tumpah.” (HR. Ahmad)

e. Thuma’ninah dalam ruku’

Telah dijelaskan sebelumnya, thuma’ninah termasuk merupakan bagian yang wajib dalam ruku’. Yakni berhenti dengan tenang dan mantap dalam posisi ruku’, hingga persendian atau anggota-anggota tubuh menetap pada tempatnya.

f. Membaca tasbih

Tata cara ruku’ berikutnya adalah, setelah thuma’ninah atau mantap dalam posisi ruku’, disunnahkan kemudian membaca tasbih dengan bacaan-bacaan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. (bacaan-bacaan ruku’ yang shahih akan dibahas dalam sub-bahasan di bawah).

g. Bangkit dari ruku’ dengan membaca "shamiallahuliman hamidah"

Bagian terakhir, ruku’ disudahi dengan mengangkat kepala dan badan dari posisi menunduk kembali ke posisi tegak, seraya mengangkat kedua tangan dengan tata cara yang sama sebagaimana mengangkat tangan pada takbiratul ikhram dan takbir intiqal. Gerakan ini diiringi dengan membaca shamiallahu liman hamidah.

Sebagaimana hadits dari Malik bin Huwairits radhiallahu’anhu, ia berkata:

إذا صلَّى كبَّر ورفَع يدَيهِ، وإذا أراد أن يركَع رفَع يدَيهِ، وإذا رفَع رأسَه من الرُّكوعِ رفَع يدَيهِ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika shalat beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Ketika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengangkat kedua tangannya” (HR. Al Bukhari, 737).

Bacaan Ruku’ Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam


Terdapat dalil-dalil yang shahih bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam ruku’ membaca beberapa bacaan. Ada kalanya Rasulullah membaca satu bacaan tertentu dalam satu shalat, dan menggantinya dengan bacaan yang lain pula dalam shalat yang lain.

Itu bermakna, mengetahui beberapa macam bacaan ruku’ yang shahih, dan mengamalkannya secara bergantian dalam shalat (tidak menetapkan hanya satu bacaan ruku’ saja), adalah bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Bacaan-bacaan ruku’ yang pernah dibaca oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

1.

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

Dibaca: “Subhaana rabbiyal ‘azhim”

Artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung. (HR. Muslim no. 772).
Bacaan ruku’ ini dishahihkan oleh banyak ulama hadits. Diriwayatkan dari Huzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Aku pernah shalat bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika ruku’ beliau membaca: “subhana rabbiyal azhim (maha suci rabbku yang maha agung),” dan ketika sujud beliau membaca: “subhana rabbiyal a’la (maha suci rabbku yang maha tinggi).” (Hadits Shahih riwayat Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah)

Catatan: Adapun mengenai jumlah bacaan “Subhaana rabbiyal ‘azhim” dalam ruku’, terdapat perbedaan baik di antara sahabat maupun di kalangan para ulama. Mayoritas ulama berpendapat minimal dibaca satu kali dan sempurnya dibaca sebanyak tiga kali.

Hitungan bacaan sebanyak tiga kali ini didasarkan pada hadits dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila kalian ruku’ maka bacalah dalam ruku’ kalian ‘Subhana rabbiyal ‘azhim’, dibaca sebanyak tiga kali.” (HR. Tirmidzi no. 261, Abu Daud no. 886 dan Ibnu Majah no. 890).

Namun Al Hafizh Abu Thohir berpendapat bahwa sanad hadits ini dho’if.

Pendapat yang berbada tentang jumlah bacaan ‘subhana rabbiyal ‘azhimi’ dalam ruku’, disandarkan pada perkataan dari sahabat Anas bin Malik yang menyebutkan bahwa lamanya waktu ruku’ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sekitar 10 kali bacaan tasbih. Pendapat ini disetujui oleh Syaikh Al Albani (Shifat Shalat Nabi, hal. 115)

Diriwayatkan, sahabat Anas bin Malik (ketika melihat Umar bin Abdul Aziz mengimami shalat), ia berkata : “Aku tidak pernah shalat di belakang seorangpun (sepeninggal Rasulullah) yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah dari pada pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz). Sa’id bin Jubair berkata : “Maka kami kira-kirakan waktu ruku’ dan sujudnya sekitar sepuluh kali bacaan tasbih.”(HR Abu Dawud). 

Sementara Malikiyah berpendapat, tidak ada batasan dalam membaca bacaan ruku’ (lihat Fiqh al Islami wa adillatuhu: 2/57).

2.

 سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Dibaca: “Subhaana rabbiyal ‘azhim wabihamdih”

Artinya: “Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.”

Bacaan ruku’ dengan tambahan ‘wabihamdihi’diriwayatkan dalam hadits dengan jalur periwayatan yang banyak. Di antaranya, hadits ‘Uqbah bin ‘Amir yang menyebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ruku’ membaca “Subhanaa robbiyal ‘azhimi wa bi hamdih” sebanyak tiga kali. (HR. Abu Daud no. 870).

Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih, dan disepakati oleh Syaikh Al Albani (Shifat Shalat Nabi, hal. 115). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Daruquthni, Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Baihaqi.

3.

 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Dibaca: Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika Allahummaghfir-lii
Artinya: “Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.”

Bacaan ini diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu anha, ia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِى رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى » يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

Artinya: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering membaca ketika ruku’ dan sujud bacaan, ‘Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii’. Beliau mengamalkan ayat Al Qur’an.” (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).

Adapun makna { يتناول القران } dalam hadits tersebut adalah mengamalkan kandungan firman Allah Subhanahu wata’ala yang berbunyi { فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ }, yang artinya “hendaklah engkau memahasucikan dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya.”

Ini berkenaan dengan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari ‘Uqbah bin ‘Amir:

لَمَّا نَزَلَتْ (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ) قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اجْعَلُوهَا فِى رُكُوعِكُمْ ». فَلَمَّا نَزَلَتْ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) قَالَ « اجْعَلُوهَا فِى سُجُودِكُمْ »


Artinya: “Ketika turun ayat “fasabbih bismirobbikal ‘azhim” (Al-Waqi’ah: 74), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jadikan bacaan tersebut pada ruku’ kalian.” Lalu ketika turun ayat “sabbihisma robbikal a’laa” (Al-A’la: 1), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Jadikanlah bacaan tersebut pada sujud kalian.” (HR. Abu Daud no. 869 dan Ibnu Majah no. 887. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

4.

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

Dibaca: Subbuhun qudduusun, robbul malaa-ikati war ruuh

Artinya: “Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -- yaitu Jibril.” (HR. Muslim no. 487).

5.

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ


Dibaca: Allahumma laka raka’tu, wa bika aamantu, walaka aslamtu, khasya’a laka sam’ii wa basharii wa mukhkhii wa ‘azhmii wa ‘ashabii wa mas taqalla bihi qadamii.

Artinya: “Ya Allah, untukMu aku ruku’. KepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, sarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah merunduk dengan khusyuk kepada-Mu.”(HR. Muslim 1/534 dan empat imam hadits, kecuali Ibnu Majah).

6.

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Dibaca: Subhana dziiljabaruut, wal malakuut, walkibriyaa’i, wal’azhomah.
Artinya: “Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.” (HR. Abu Dawud 1/230, An-Nasai dan Ahmad. Dan sanadnya hasan).

Kesalahan-Kesalahan Umum pada Ruku’


(1). Pada saat bangkit atau berdiri dari ruku’, sebagian kaum muslimin mengangkat tangannya seperti layaknya orang sedang berdo’a, yakni menengadahkan telapak tangan ke atas. Sebahagian bahkan mengiringinya dengan ikut menengadahkan pandangan ke arah langit.

Tata cara mengangkat tangan ketika bangkit dari ruku’ seperti ini tidak memiliki sandaran dalil yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Yang disyari’atkan adalah mengangkat kedua tangan sejajar telinga atau pundak, dengan menghadapkan kedua telapak tangan ke arah kiblat, sama dengan tata cara mengangkat tangan ketika takbiratul ikhram.

Hal ini sejalan dengan pendapat Syaikh al Albaniy rahimahullah dalam kitab yang sangat masyhur “Shifat Sholat Nabi” terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh, hal. 118.

(2). Kesalahan lainnya yang sering terjadi pada tata cara ruku’ dalam shalat adalah tidak meluruskan punggung ketika ruku’ padahal ia mampu untuk melakukannya. 
Dari hadits sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu seperti disebutkan di atas, seharusnya ketika ruku’ seorang yang mampu keadaan punggungnya harus lurus seperti lurusnya punggung jika diletakkan gelas berisi air di atasnya tidak akan tumpah.

(3). Kesalahan berikutnya yang kerap kita jumpai juga adalah cara meletakkan kedua tangan saat ruku’ tidak pada kedua lutut.

Sebagian orang dalam ruku’ meletakkan ke dua tangan pada kedua paha (di atas lutut), sementara sebagian yang lain ada menggenggamkan kedua tangan pada tungkai kaki bahkan hingga mendekat ke arah mata kaki (jauh di bawah lutut). 
Kedua-duanya, baik meletakkan kedua tangan di atas lutut maupun di bawah lutut sama-sama tidak memiliki sandaran dalil. Yang benar adalah meletakkan kedua tangan bertumpu pada kedua lutut, dengan merenggangkan jari-jemari seakan menggenggam erat kedua lutut.

Demikian pembahasan tata cara shalat bagian ke-5 tentang ruku’. Semoga kita mendapat hidayah dari Allah subhanahu wata’ala untuk senantiasa beribadah mengikuti tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

________________
Thanks for reading Mencontoh Ruku' Nabi dalam Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [5]

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment