Home » , , » Bagaimana Hukum dan Tata Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat

Bagaimana Hukum dan Tata Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat


Bagaimana Hukum dan Tata Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat. Bolehkah mengqadha atau mengganti shalat yang tertinggal? Apakah semua shalat yang pernah tertinggal dapat diganti? Bagaimanakah tata cara mengganti shalat yang tertinggal? Apakah qadha shalat dapat dilakukan dengan cara jama’ dan qashar?

Bismillahirrahmanirrahim. Washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiyai walmursalin, wa ‘ala‘alihi washahbihi ajma’in.

Sebagai salah satu rukun Islam, shalat (lima waktu) hukumnya adalah wajib. Dan kewajiban shalat memiliki kedudukan khusus di antara rukun Islam lainnya. Meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan yang syar’i hukumnya adalah haram, bahkan dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

Lalu bagaimana jika seorang muslim, tanpa sengaja, terlewat dari mengerjakan shalat karena terlupa, tertidur, atau pingsan, dan baru teringat setelah waktunya habis?

Berdasarkan dalil yang shahih, seseorang yang meninggalkan shalat karena lupa, tertidur, atau tidak sadarkan diri maka ia terkena kewajiban qadha, yakni mengganti shalat yang tertinggal dengan shalat serupa segera setelah ia ingat.

Ini dijelaskan oleh Rasulullah ‘alahisshalatu wassalam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas Radhiyiallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, maka kaffarat (tebusan)-nya adalah melakukan shalat itu ketika ia telah mengingatnya.” (Hadits ini shahih sebagaimana dalam kitab Mukhtashar Shahiih Muslim No. 229, atau Shahiih Muslim I/477 no. 684).

Ini menunjukkan wajibnya mengqadha atau mengganti shalat yang terlewat karena terlupa atau tertidur. Dan qadha di sini adalah bentuk kafarah, yakni tebusan atas shalat yang tertinggal. Yang bermakna, sekalipun tidak ada dosa bagi orang yang terlupa atau tertidur hingga terlewat dari mengerjakan shalat, namun ia wajib menebusnya dengan cara mengqadha (mengganti dengan shalat serupa di luar waktunya) segera setelah ia ingat.

Hal ini juga pernah terjadi pada Nabi ‘alaihissalatu wassalam. Diriwayatkan dalam suatu peperangan, belia dan para sahabatnya tertidur kecapaian hingga terlewat dari mengerjakan shalat shubuh. Yang membangunkan Rasulullah dan para sahabat kala itu adalah terik panas matahari, menandakan bahwa waktu shalat shubuh sesungguhnya telah lama berlalu. Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam segera memerintahkan azan dan langsung melaksanakan shalat shubuh.

Adakah Hukum Qadha untuk Shalat yang Sengaja Ditinggalkan?





Bagaimana dengan shalat yang tertinggal atau terlewat bukan karena tertidur atau lupa, melainkan karena sengaja menunda atau melalaikannya? Apakah shalat yang sengaja ditinggalkan hingga lewat waktunya juga boleh diqadha?

Tentang hal ini, walaupun ada sedikit di antara kaum muslimin yang berpendapat lain, namun pendapat yang paling rajih, sebagaimana kebanyakan para ulama, tidak ada hukum qadha bagi shalat yang sengaja ditinggalkan tanpa alasan yang syar’i.

Imam Ibnu Hazm Al Andalusi mengatakan:

وَأَمَّا مَنْ تَعَمَّدَ تَرْكَ الصَّلَاةِ حَتَّى خَرَجَ وَقْتُهَا فَهَذَا لَا يَقْدِرُ عَلَى قَضَائِهَا أَبَدًا، فَلْيُكْثِرْ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ وَصَلَاةِ التَّطَوُّعِ؛ لِيُثْقِلَ مِيزَانَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛ وَلْيَتُبْ وَلْيَسْتَغْفِرْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak akan bisa mengqadhanya sama sekali. Maka yang ia lakukan adalah memperbanyak perbuatan amalan kebaikan dan shalat sunnah. Untuk meringankan timbangannya di hari kiamat. Dan hendaknya ia bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla” (Al Muhalla, 2/10, Asy Syamilah).

Jadi, mengganti shalat yang tertinggal di luar waktunya, bukan karena alasan yang syar’i, melainkan karena sengaja ditunda-tunda, atau karena berkeyakinan bolehnya menjamak shalat tanpa alasan, maka kita katakan tidak ada hukum qadha baginya.

Ini penting mengingat masih sering kita menemukan kekeliruan di kalangan kaum muslimin mengenai hal ini. Misalkan, seseorang yang sibuk bekerja di kebun, lalu dengan sengaja meninggalkan shalat dzuhur dan ashar dengan keyakinan nanti setelah pulang digabungkan (di-jama’) dengan shalat maghrib. Maka, ini adalah qadha yang tidak syar’i, qadha yang tidak dibenarkan. Artinya, qadha yang dilaksanakannya tidak dapat sama sekali menebus shalat yang ditinggalkannya.

Bolehkah Mengqadha Shalat dengan Cara Jama’ dan Qashar?

Untuk qashar (meringkas), tidak boleh mengqadha shalat dengan cara qashar, yakni mengganti shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat yang dikerjakan dalam rangka qadha harus sama persis seperti shalat yang ditinggalkan dalam hal sifat dan tata caranya, termasuk jumlah rakaatnya.

Adapun men-jama’ (mengumpulkan), dibolehkan menjama’ pelaksanaan qadha shalat apabila waktu shalat berikutnya telah masuk, termasuk melaksanakan sekaligus dalam satu waktu beberapa shalat yang tertinggal.   

Contohnya, seseorang tertidur pulas sejak sebelum waktu shubuh dan baru terbangun pada saat waktu shalat ashar telah masuk. Maka ia menjama’ tiga shalat sekaligus dalam satu waktu dengan urutan melaksanakan qadha shalat shubuh dua rakaat lebih dulu, dilanjutkan dengan qadha shalat dzuhur empat rakaat, baru kemudian melaksanakan shalat ashar empat rakaat.

Namun tidak boleh menjama’ shalat yang tertinggal dengan shalat berikutnya apabila waktu shalat berikutnya tersebut belum masuk. Juga tidak boleh menunda qadha shalat dengan maksud menunggu waktu shalat berikutnya untuk dijama’ atau dikerjakan bersamaan, karena hukum qadha adalah mengerjakan shalat yang tertinggal segera ketika dia ingat.

Sebagaimana dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من نامَ عن صلاةٍ فليصلِّها إذا ذَكرَها

“Barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ingat.” (HR. Al Bazzar 13/21, shahih).

Demikianlah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, dan diampuni segala dosa-dosa kita yang lalu dan yang akan datang.  

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.
____________________ 

Thanks for reading Bagaimana Hukum dan Tata Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

1 komentar:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete