Home » , , » Bacaan Ayat-Ayat Rasulullah dalama Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [4]

Bacaan Ayat-Ayat Rasulullah dalama Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [4]


Bismillah Wasshalaatu Wassalaamu a’la Rasulillah....

Berdasarkan urutannya, setelah membaca Al-Fatihah dalam shalat selanjutnya diikuti dengan membaca surat Al-Qur’an.

Berikut ini dibahas mulai dari hukumnya, kaidah umum bacaan surat Al-Quran dalam shalat, surat-surat yang juga pernah dibaca oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kekhususan bacaan surat Al-Quran pada saat safar, hingga anjuran-anjuran dan sunnah dalam membacanya.

Hukum Membaca Surat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah


Para sahabat sepakat (ijma) bahwa membaca Al-Qur’an disunnahkan setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama di semua shalat.

Diantara dalil yang menjadi dasar disunnahkannya membaca Al-Quran setelah Al-Fatihah adalah hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dari sahabat Abu Qatadah:

انَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي العَصْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ


“Nabi shallallahu’alaihi wasallam membaca Al-Fatihah di dua rakaat pertama shalat zhuhur dan juga membaca dua surat yang panjang pada rakaat pertama dan pendek pada rakaat kedua dan terkadang hanya satu ayat. Beliau membaca Al-Fatihah di dua rakaat pertama shalat ashar dan juga membaca dua surat dengan surat yang panjang pada rakaat pertama. Beliau juga biasanya memperpanjang bacaan surat di rakaat pertama shalat subuh dan memperpendeknya di rakaat kedua” (HR Al-Bukhari 759, Muslim 451).

Adapun membaca Al-Qur’an pada rakaat ketiga atau keempat, jumhur ulama berpendapat tidak disunnahkan. Kendati demikian, amalan ini tidak pula terlarang.

Kaidah Umum Bacaan Surat Al Quran dalam Shalat Wajib


Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam membaca surat Al Quran di dalam shalatnya, berbeda-beda antara satu shalat dengan shalat yang lainnya. Terkadang dalam shalat maghrib beliau membaca surat yang pendek dari surat-surat mufashshal dan terkadang beliau membaca surat mufashshal yang panjang, seperti surat Ath-Thur.


Kendati demikian, dengan memperhatikan kebanyakan surat-surat yang dibaca oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sejumlah ulama menemukan sebuah kaidah umum bacaan surat Al-Quran dalam shalat.

Di antaranya, Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi yang dikutif dari Sifat Shalat Nabi menyebutkan: “Disyariatkan bagi imam, demikian juga munfarid (orang yang shalat sendirian), dalam kebanyakan yang ia lakukan dalam shalat shubuh membaca surat yang thiwal mufashshal, dalam shalat maghrib membaca yang qisar mufashshal, dan shalat yang lainnya membaca yang wasath mufashshal.”

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Abu Hurairah:

ما رأَيْتُ أحَدًا أشبَهَ صلاةً برسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مِن فلانٍ – كان بالمدينةِ – قال سُلَيمانُ : فصلَّيْتُ أنا وراءَه فكان يُطيلُ في الأُولَيَيْنِ مِن الظُّهرِ ويُخفِّفُ الأُخْريَيْنِ ويُخفِّفُ العصرَ ويقرَأُ في الأُولَيَيْنِ مِن المغرِبِ بقِصارِ المُفصَّلِ وفي العِشاءِ بوسَطِ المُفصَّلِ وفي الصُّبحِ بطِوالِ المُفصَّلِ


“Tidak pernah aku melihat orang yang shalatnya lebih mirip dengan shalat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selain Fulan (ketika itu di Madinah). Sulaiman berkata, ‘maka aku pun shalat di belakangnya, ia memperpanjang dua rakaat pertama dalam shalat zhuhur dan memperpendek sisanya. Ia juga memperpendek bacaan shalat ashar, dan pada shalat maghrib membaca surat-surat qishar mufashshal, dan pada shalat Isya membaca yang wasath mufashshal, dan pada shalat subuh membaca thiwal mufashshal‘” (HR. Ibnu Hibban 1837, dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat Nabi).

Surat-surat mufashshal adalah mulai dari surat Qaf sampai An-Naas. Namun, di antara ulama terdapat perbedaan mengenai batasan surat yang termasuk qisar mufashshal (surat mufashshal yang pendek), wasath mufashshal (surat mufashshal yang pertengahan), dan thiwal mufashshal (surat mufashshal yang panjang). Adapun sebagai rujukan, tulisan ini mengambil pendapat dari Ibnu Ma’in yang dirajihkan oleh As Suyuthi dalam Al Itqan Fi Ulumil Qur’an:

فَطِوَالُهُ إِلَى عَمَّ وَأَوْسَاطُهُ مِنْهَا إِلَى الضُّحَى وَمِنْهَا إِلَى آخِرِ الْقُرْآنِ قِصَارُهُ

“Thiwal mufashshal adalah (dari Surat Qaf) hingga ‘Amma (yatasaa’aluun), wasath mufashshal adalah dari ‘Amma hingga Ad-Dhuha, dan dari Ad-Dhuha hingga akhir adalah qisar mufashshal”.

Surat-surat mufashshal yang panjang (thiwal mufashshal)


Surat-surat mufashshal yang panjang biasa dibaca oleh Rasulullah dalam shalat Shubuh.

Adapun yang termasuk surat mufashshal yang panjang adalah:

  • Qaf
  • Adz-Dzariyat
  • Ath-Thur
  • An-Najm
  • Al-Qamar
  • Ar-Rahman
  • Al-Waqi'ah
  • Al-Hadid
  • Al-Mujadilah
  • Al-Hasyr
  • Al-Mumtahanah
  • Ash-Shaf
  • Al-Jumu'ah
  • Al-Munafiqun
  • At-Taghabun
  • Ath-Thalaq
  • At-Tahrim
  • Al-Mulk
  • Al-Qalam
  • Al-Haqqah
  • Al-Ma'arij
  • Nuh
  • Al-Jinn
  • Al-Muzzammil
  • Al-Muddatstsir
  • Al-Qiyamah
  • Al-Insan
  • Al-Mursalat

Surat-surat Mufashshal yang pertengahan (Wasath Mufashshal)


Adapun surat-surat mufashshal yang pertengahan biasa dibaca oleh Rasulullah pada shalat Isya.

Yang termasuk dalam surat-surat mufashshal yang pertengahan adalah:

  • An-naba'
  • An-Nazi'at
  • 'Abasa
  • At-Takwir
  • Al-Infithar
  • Al-Muthaffifin
  • Al-Insyiqaq
  • Al-Buruj
  • Ath-Thariq
  • Al-A'la
  • Al-Ghasyiyah
  • Al-Fajr
  • Al-Balad
  • Asy-Syams
  • Al-Lail

Surat-surat mufashshal yang pendek (qisar mufashshal)


Surat-surat mufashshal yang pendek ini biasa dibaca oleh Rasulullah pada saat Shlalat Maghrib.

Yang termasuk dalam surat mufashshal yang pendek adalah:

  • Adh-Dhuha
  • Asy-Syarh
  • At-Tin
  • Al-'alaq
  • Al qadr
  • Al-Bayyinah
  • Az-Zalzalah
  • Al-Adiyaat
  • Al-Qari'ah
  • At-Takatsur
  • Al-'Ashr
  • Al-Humazah
  • Al-Fil
  • Quraisy
  • Al-Ma'un
  • Al-Kautsar
  • Al-Kafirun
  • An-Nashr
  • Al-Lahab
  • Al-Ikhlash
  • Al-Falaq
  • An-Nas

    Surat-Surat Lain yang juga Pernah Dibaca Rasulullah


    Kaidah umum di atas menunjukkan keumuman bacaan surat yang dibaca oleh Rasulullah dalam shalat. Namun di luar kebiasaan itu, Nabi shallallahu’alaihi Wasallam dalam shalatnya juga didapati membaca sejumlah surat tertentu, sehingga dianjurkan juga untuk mencontoh beliau dalam hal ini. Berikut ini bacaan surat yang (pernah) dibaca oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di luar kaidah yang umum.

    a.    Surat At-Thur pada shalat maghrib

    Surat at-Thur terdiri dari 49 ayat dan termasuk di antara surat mufashshal yang panjang (thiwal mufashshal). Namun dalam riwayat yang shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga pernah membaca surat At-Thur ketika shalat maghrib. Dari Jubair bin Math’am, ia berkata,

    سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقرأُ بالطورِ في المغربِ

    Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membaca surat At-Thuur pada shalat maghrib” (HR. Muslim 463).

    b.   Surat Al-A’raf pada shalat maghrib

    Sebagaimana diketahui, surat al-A’raf adalah surat yang sangat panjang (206 ayat), dan tidak termasuk dalam surat mufashshal. Namun, diriwayatkan dari Marwan bin Hakam, Rasulullah juga pernah membaca surat al-A’raf pada suatu shalat maghrib. Marwan bin Hakam berkata,

    أنَّ زيدَ بنَ ثابتٍ قالَ : ما لي أراكَ تقرأُ في المغربِ بقصارِ السُّورِ ؟ قد رأيتُ رسولَ اللهِ يقرأُ فيها بأطول الطُّوليينِ ! قلتُ : يا أبا عبدِ اللهِ ، ما أطولُ الطُّوليينِ؟ قالَ : الأعراف

    Zaid bin Tsabit bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau membaca surat yang pendek-pendek ketika shalat maghrib? Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membaca surat yang paling panjang’. Marwan berkata, ‘wahai Abu Abdillah, apa yang engkau maksud surat yang paling panjang?’. Ia menjawab, Al A’raf” (HR. An Nasa-i 989, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa-i).

    c.    Surat Al-Mursalat pada shalat Maghrib

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah membaca surat al-Mursalat yang termasuk dalam surat mufashshal yang panjang (thiwal mufashshal) pada shalat maghrib. Dari Ibnu Abbas, ia berkata,

    إن أم الفضل سمعته ، وهو يقرأ : { والمرسلات عرفا } . فقالت : يابني ، والله لقد ذكرتني بقراءتك هذه السورة ، أنها لآخر ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ بها في المغرب

    Bahwa Ummul Fadhl mendengarnya membaca surat wal mursalaati ‘urfaa. Kemudian Ummul Fadhl berkata, ‘wahai anakku, demi Allah engkau telah mengingatkan aku dengan bacaan surat ini bahwa ini adalah surat yang dibaca ketika shalat maghrib terakhir yang dilakukan rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam‘” (HR. Al Bukhari 763, Muslim 462).

    d.    Surat at-Takwir pada shalat Shubuh

    Seperti diterangkan, di antara sunnah Nabi dalam shalat shubuh adalah memanjangkan bacaan surat di dalamnya. Namun diriwayatkan dari ‘Amr bin Harits, Rasulullah pernah membaca surat at-Takwir (wasath mufashshal) pada shalat shubuh:
    Dari ‘Amr bin Harits ia berkata:

    سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

    Aku mendengar nabi shallallahu’alaihi wasallam pada shalat shubuh membaca idzas syamsu kuwwirat (surat At Takwir).” (HR. An Nasa-i dalam Ash Shughra 941, dengan sanad hasan).

    e.    Surat al-Zalzalah pada shalat shubuh

    Dari seorang laki-laki dari Juhainah dia berkata: “Bahwa dia telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam shalat shubuh IDZA ZULZILATIL-ARDHU ZILZALAHA pada kedua rakaatnya.” (HR. Abu Daud no. 816 dishahihkan Al-Albani dalam Sifatush Shalah)

    f.     Surat as-Sajadah pada shalat shubuh

    Surat as-Sajadah merupakan surat yang ke-32 dalam al-Quran. Meski tidak terlalu panjang (30 ayat), as-Sajadah tidak termasuk surat dalam kelompok mufashshal.  Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat subuh membaca: “ALIF LAAM MIIM TANZIIL AS-Sajadah (Surah As-Sajadah), dan ‘HAL ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI (Surah Al-Insaan).” (HR. Al-Bukhari no.  891 dan Muslim no. 879)

    g.    Surat ar-Rum pada Shalat Shubuh

    Surat ar-Rum juga tidak termasuk surat mufashshal. Berdasarkan hadits al-Aghra al-Muzani radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, Rasulullah pernah membaca surat ar-Rum pada suatu shalat shubuh. (Hadits ini hasan dengan syahid yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, no. 947).

    h.   Surat al-Mu’minun pada shalat Shubuh

    Ini didasarkan pada hadits Abdullah ibnus Sa’ib, dia mengatakan: “dalam suatu shalat subuh di Makkah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al-Mu’minun. Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun atau Isa (ada keraguan pada perawi) Rasulullah batuk, beliau pun ruku’.” (Hadits diriwayatkan Imam Bukhari dalam “Kitabul Adzan, Bab al-Jam’u bainas Suratain fir Rak’ah.” Juga Imam Muslim no. 1022).

    i.     Surat ash-shaffat pada shalat shubuh

    Seperti surat al-Mu’minun dan surat ar-Rum, surat ash-Shaffat tidak termasuk surat mufashshal. Namun Rasulullah pernah membaca surat ash-Shaffat pada saat shalat shubuh. Ini disebutkan dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/40) dengan sanad yang hasan (al-Ashlu, 2/443).

    j.     Surat at-Tiin pada shalat Isha

    Surat at-Tiin adalah kelompok surat mufashshal yang pendek (qishar mufashshal). Dari Al-Bara’ bin Azib radhiallahu anhu ia berkata:
    “Saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat shalat Isya membaca ‘WATTIINI WAZZAITUUN (surah At-Tiin) ‘. Dan belum pernah kudengar seorang pun yang lebih indah suaranya, atau bacaannya daripada beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 766 dan Muslim no. 464)

    Memperpanjang Rakaat Pertama, Memperpendek Rakaat Kedua


    Salah satu yang juga disunnahkan dalam membaca surat al-Quran dalam shalat adalah memilih bacaan surat yang lebih panjang pada rakaat pertama, dan surat yang lebih pendek pada rakaat kedua.

    Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu dia berkata: “Rasulullah shalat mengimami kami lalu beliau membaca surah al-fatihah dan dua surah dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua rakaat yang pertama. Dan terkadang beliau memperdengarkan (bacaan) ayatnya kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama shalat zhuhur dan memendekkan yang kedua. Dan demikian juga yang beliau lakukan dalam shalat shubuh.” (HR. Al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 451)

    Dari Abu Sa’id Al Khudri,

    كنا نحزرُ قيامَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في الظهرِ والعصرِ . فحزرنا قيامَه في الركعتين الأوليين من الظهر قدرَ قراءةِ الم تنزيل – السجدة . وحزرنا قيامَه في الأخريين قدرَ النصفِ من ذلك وحزرنا قيامه في الركعتين الأوليين من العصرِ على قدرِ قيامِه في الأخريين من الظهرِ وفي الأخريين من العصرِ على النصفِ من ذلك . ولم يذكر أبو بكرٍ في روايته : الم تنزيل . وقال : قدر ثلاثين آيةً

    Kami mengira-ngira panjang shalat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika shalat zhuhur dan ashar. Kami mengira-ngira dua rakaat pertama beliau pada shalat zhuhur yaitu sekadar bacaan surat Alif laam miim tanzil (As Sajdah). Dan kami mengira-ngira dua rakaat terakhir beliau sekitar setengah dari itu. Dan kami mengira-ngira dua rakaat pertama beliau pada shalat ashar itu seperti dua rakaat akhir beliau pada shalat zhuhur. Dan dua rakaat terakhir beliau pada shalat ashar itu sekitar setengahnya dari itu.  Dalam riwayat Abu Bakar tidak disebutkan Alif laam miim tanzil, namun ia berkata: “sekitar 30 ayat” (HR. Muslim 452).


    Kekhususan Memperpendek Bacaan Dalam Keadaan Safar


    Terdapat banyak riwayat yang shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau membaca surat-surat yang pendek pada saat safar. Karenanya, banyak ulama berkesimpulan bahwa dalam keadaan safar, disyariatkan untuk memperingan bacaan surat-surat Al-Quran setelah Al-Fatihah, untuk semua shalat.

    Di antara bacaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada saat safar yang memiliki sandaran hadits yang shahih adalah:
    • Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah membaca qul a’udzubirabbinnas dan qul a’udzu birabbil falaq dalam suatu shalat shubuh. (Hadits  diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dari ‘Uqbah bin Amir dan dishahihkan oleh Abu Hatim).
    • Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah membaca li iila fi quraisy pada shalat shubuh ketika Rasulullah sedang safar berhaji. (Hadits diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Ma’rur bin Suwaid dari ‘Umar bin Khattab).
    • Surat pendek lainnya yang juga pernah dibaca Rasulullah pada saat safar yakni qul yaa ayyuhal kafirun dan qul huwallahu ahad.  (Hadits diriwayatkan dari Amr bin Maimun, Sifat Shalat Nabi, halaman 105).

     

    Anjuran Agar Imam Menyesuaikan Kondisi Makmum


    Bagaimanapun telah terdapat hadits-hadits yang shahih agar setiap imam dianjurkan untuk menyesuaikan dengan keadaan makmum yang shalat di belakangnya. Khususnya apabila terdapat di antaranya orang yang lemah, orang sakit, atau anak-anak.

    إذا أمَّ أحدُكم الناسَ فليخفِّفْ . فإن فيهم الصغيرَ والكبيرَ والضعيفَ والمريضَ . فإذا صلَّى وحده فليصلِّ كيف شاء

    Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi suatu kaum, maka permudahlah shalatnya. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Jika kalian shalat sendirian maka silakan shalat sebagaimana kalian mau” (HR. Al Bukhari 90, Muslim 467).

    Kendati demikian, para ulama juga sepakat  bahwa pengertian “meringankan shalat” tidak boleh sampai mengurangi syarat dan kesempurnaan rukunnya.

    Ibnu Abdil Barr seperti ditulis Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, mengatakan, “Saya tidak mengetahui khilaf (perbedaaan) di antara para ulama mengenai dianjurkannya memperingan shalat bagi siapa saja yang menjadi imam untuk kaumnya, selama memenuhi syarat yang kami jelaskan, yaitu tetap sempurna rukun shalatnya.

    Sempurnanya syarat dan rukun harus tetap terpenuhi dalam setiap shalat, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga melarang orang yang shalatnya terlalu cepat seperti burung gagak mematuk.

    Larangan Memperpanjang Bacaan Surat pada Shalat Isya’


    Dikutif dari Sifat Shalat Nabi (hal. 104), Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi menyatakan, “Dimakruhkan memperpanjang bacaan surat pada shalat Isya’ sebagaimana larangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam terhadap Muadz.” Yang dianjurkan ketika shalat Isya adalah membaca surat-surat wasath mufashshal (surat mufashshal yang pertengahan) seperti yang telah dijelaskan.

    أنَّ مُعاذَ بنَ جبلٍ رضي الله عنه كان يُصلِّي معَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، ثم يأتي قَومَه فيُصلِّي بهمُ الصلاةَ، فقَرأ بهمُ البقرةَ، قال : فتجوَّز رجلٌ فصلَّى صلاةً خفيفةً، فبلَغ ذلك مُعاذًا فقال : إنه منافقٌ، فبلَغ ذلك الرجلَُ، فأَتَى النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقال : يا رسولَ اللهِ، إنا قومٌ نعمَل بأيدينا، ونَسقي بنَواضِحنا، وإن مُعاذًا صلَّى بنا البارِحةَ، فقرَأ البقرةَ، فتجوَّزتُ، فزعَم أني منافقٌ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( يا مُعاذُ، أفتَّانٌ أنت – ثلاثًا – اقرَأْ : { وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا} . و{ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى } . ونحوَها )

    “Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu pernah shalat bersama nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian ia kembali kepada kaumnya dan shalat bersama mereka menjadi imam. Kemudian ia membaca surat Al-Baqarah. Kemudian seorang lelaki mangkir dari shalat dan ia shalat sendiri dengan shalat yang ringan. Hal ini terdengar oleh Mu’adz, sehingga ia pun berkata, ‘ia munafik‘. Perkataan Muadz ini pun terdengar oleh si lelaki tersebut. Maka ketika datang nabi shallallahu’alaihi wasallam ia bertanya, ‘wahai rasulullah, siang hari saya bekerja dengan tangan saya dan mengairi ladang dengan unta-unta saya. Kemarin Muadz shalat mengimami kami dan membaca Al Baqarah, sehingga saya mangkir dari shalat. Dan ia mengatakan saya munafik‘. Lalu nabi shallallahu’alaihi wasallam pun bersabda, ‘wahai Muadz, apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah?’ Sebanyak 3x. Bacalah was syamsi wad dhuhaaha (Asy Syams) dan sabbihisma rabbikal a’laa (Al A’laa) atau semisalnya’” (HR. Muslim 465).

    Dalam riwayat Al-Bukhari: “Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’, atau dengan ‘Wasysyamsi wa dluhaahaa’ atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’?” Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”

    Demikian pembahasan kita seputar bacaan surat al-Quran dalam shalat yang sesuai sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Semoga jadi manfaat.

    ****
    ** Dari berbagai sumber dengan rujukan utama Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi, dalam: Sifatu Shalatin Nabi.
    __________________




    Thanks for reading Bacaan Ayat-Ayat Rasulullah dalama Shalat: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [4]

    « Previous
    « Prev Post
    Next »
    Next Post »

    4 komentar:

    1. Semoga bisa dibuatkan buku saku tentang shalat,zikir, zakat, puasa, dan haji sesuai dalil2 shahih dan pendapat jumhur ulama, karena akhir zaman ini banyak tambahan2 ibadah yang sebenarnya tdk dicontohkan oleh nabi, syukrn jzk

      ReplyDelete
    2. ini link nya kalau mau bukunya akhi.. insyaAllah bagus. Allahu'alam..
      http://pustakaibnuumar.com/

      ReplyDelete
    3. This comment has been removed by the author.

      ReplyDelete
    4. Tolong dilanjutkan panduan tata cara sholatnya sampai akhir. Terima Kasih.

      ReplyDelete