Home » , » Membaca Do’a Iftitah: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [2]

Membaca Do’a Iftitah: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [2]




Setelah takbiratul ihram, pembahasan Tata Cara Shalat berikutnya adalah mengenai membaca Do’a Iftitah. Do’a iftitah atau disebut juga istiftah, adalah do’a yang disunnahkan untuk dibaca setelah takbiratul ihram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan ada beberapa macam lafaz do’a iftitah. Ini sekaligus mengisyaratkan anjuran agar setiap muslim membaca beberapa macam doa iftitah tersebut secara bergantian di dalam shalatnya, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membaca masing-masing doa tersebut dalam shalat yang berbeda.

Beberapa ketentuan dalam membaca doa iftitah adalah:

  • Do’a iftitah dibaca pelan. Ini berlaku baik untuk imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. 
  • Untuk makmum masbuq atau makmum yang ketinggalan, tidak perlu membaca do’a iftitah. 
  • Sunnah membaca macam-macam doa iftitah yang shahih secara bergantian (sekaligus untuk menjaga dan melestarikan macam-macam doa iftitah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

Berikut ini beberapa do’a iftitah yang shahih yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

(1)
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khothoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khothoyaaya bil maa-i wats tsalji wal barod.

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An Nasai no. 896)
Keterangan: Lafaz do'a iftitah ini berasal dari HR. An Nasai)


(2)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhaana-kallaah-humma wa biham-dika wa tabaa-rakas-muka wa ta-’aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk.

Artinya: “Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan Engkau dengan memuji-Mu, Nama-Mu penuh berkah, Maha tinggi keagungan-Mu. Dan Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Mu” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252).

(3) Sama dengan do’a iftitah di atas, namun dengan menambahkan bacaan berikut:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (ثَلاَثًا) اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا (ثَلاَثًا)

Laa-ilaaha-illallaah (3 kali) allaahu akbar kabii-raa (3 kali).

Artinya: Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah (3 kali), Allah maha besar lagi sempurna kebesaranya (3 kali). (HR.Abu Daud 1/124, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252).

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat shalat malam.

(4)
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa.

Artinya: Allah Maha Besar dengan segala kebesarannya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di pagi hari dan petang hari.(HR. Muslim 2/99)

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda: “Aku kagum dengan do’a ini. Pintu-pintu langit telah dibuka karena do’a ini.” Kata Ibn Umar: “Sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian Saya tidak pernah meninggalkan do’a ini.” (HR. Muslim)

(5)
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Al hamdu lil-laahi hamdan katsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih

Artinya: Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi penuh dengan berkah.(HR. Muslim 2/99)

Keterangan: Do’a ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat jamaah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat 12 malaikat berlomba siapakah di antara mereka yang mengantarkan nya (kepada Allah, ed.).

(6) 


وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Akan aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)

Keterangan: Doa ini biasa dibaca Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.

(7) 
 
اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ



Artinya: “Allah maha besar. Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Dishahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251) 



(8) 

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
 
Artinya: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)

Do’a-do’a iftitah berikut dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam:


(9)
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allaa-humma rabba jib-rooila wa mii-kaa-iil wa isroofiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. ‘aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumu bai-na ‘ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim.

Artinya: “Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit dan bumi (dari tidak ada sebelumnya)! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah)

(10)
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Al hamdu lil-laah (10 X)

Artinya: Segala puji bagi Allah

اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar (10 X)

Artinya: Allah Maha Besar 

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Laa-ilaaha-illallaah (10 X)
Artinya: Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah

سُبْحَانَ الله
Subhaa-nallaah (10 X)

Artinya: Maha suci Allah
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
As-tagh-firullaah (10 X)

Artinya: Aku memohon ampunan kepada Allah

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى وَعَافِنِى

Allaah-hummagh fir lii wah-dinii war-zuqnii wa ‘aa-finii (10 X )

Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ

Allaah-humma innii a-’uudzu bika minad Dhii-qi yaumal hisaab (10 X)

Artinya: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan). (HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi n, 1/267)

(11)
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar (3 kali)

Artinya: Allah Maha Besar

ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Dzul-malakuut wal jaba-ruut wal kib-riyaa’ wal ‘a-dza-mah 

Artinya: “Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122) 


Beberapa Kesalahan terkait membaca do’a iftitah:

  1. Tidak membaca do’a iftitah padahal ada kesempatan untuk membacanya. Karena sikap ini berarti menyia-nyiakan sunah dalam shalat. Imam Syafi’i rahimahullah mencela sikap orang yang tidak meniru cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Makmum yang ketinggalan menyibukkan diri dengan membaca doa iftitah, padahal imam sudah mau rukuk.
  3. Seperti dimaklumi, membaca do’a iftitah hukumnya adalah sunah sedangkan membaca al fatihah hukumnya wajib. Oleh karena itu, selayaknya makmum yang ketinggalan dan mendapati imam sudah mau rukuk maka sebaiknya makmum tidak perlu membaca doa iftitah namun langsung membaca al fatihah.
  4. Dikisahkan bahwa Ibnul Jauzi pernah shalat dibelakang gurunya Abu Bakr Ad Dainuri. Ibnul Jauzi ketinggalan dan imam sudah mau rukuk. Tetapi Ibnul Jauzi malah sibuk membaca do’a iftitah. Ketika mengetahui hal ini, gurunya menasehatkan:
  5. “Sesungguhnya ulama berselisih tentang wajibnya membaca surat al fatihah di belakang imam, namun mereka sepakat bahwa do’a iftitah adalah sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunah.” (Al Qoulul Mubin, dinukil dari Talbis Iblis).
  6. Imam membaca do’a iftitah terlalu panjang. Yang lebih tepat adalah selayaknya imam memilih doa iftitah yang pendek.
  7. Memilih hanya salah satu do’a iftitah untuk dibaca dalam setiap shalat, dan meninggalkan do’a iftitah yang lain. Ini akan mengakibatkan banyak bacaan doa iftitah lainnya lama kelamaan akan hilang dan jauh dari semangat untuk melestarikan sunnah.
Sumber: www.CaraSholat.com
_______________________

Thanks for reading Membaca Do’a Iftitah: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [2]

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

22 komentar:

  1. Sangat lengkap dan cocok untuk yang ingin memperkaya pengetahuan dan menyempurnakan ibadah shalat sesuai tuntunan Rasulullah saw/..

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah, terimakasih ilmunya

    ReplyDelete
  4. Terima kasih udah berbagi ilmu yg sngt bermanfaat ini. Alhamdulillah, apa yg saya cari ada di blog ini. Semoga Allah membalas segala kebaikan anda. Amien.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih sudah berbagi ilmu yang sangat berguna ini. Apa yang saya cari ada di blog ini, semoga Allah membalas segala kebaikan anda. Amien.

    ReplyDelete
  6. Trima kasih banyak
    kalangkong

    ReplyDelete
  7. AnonymousMay 12, 2017

    sepertinya arab sama latin bunyinya beda, coba cek di ALLAHUMMA BAID..., itu arabnya bunyinya MINAL, tapi kenapa ditulis MIN, lalu yang terakhir tidak ada arab MIN, kok dilatin ada tulisan MIN?

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah... koreksi yg sangat bermanfaat. Kami sudah perbaiki, terimakasih atas koreksinya. Jazakallah khairan.

      Delete
  8. Saya juga bingung dgn doa iftitah ALLAHUMMA BA'ID ini, kok beda2 diblog lain kok akhirnya bunyinya ...BITS TSALJI MA IWAL BAROD, tapi ada juga akhirnya bunyinya ... BIL MA IWAL TSALJI WAL BAROD, lalu ada juga seperti diatas yang pake MIN ada juga yang tidak?.
    Yang benar yang mana???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh…. terimakasih kepada saudara-saudaraku yang melakukan koreksi dengan teliti, khususnya terhadap doa iftitah yang pertama: “Allahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya…” Setelah meneliti lebih seksama, kami menemukan bahwa doa iftitah ini shahih dan diriwayatkan oleh sejumlah imam ahlul hadits seperti HR. Bukhari no.744, HR. Muslim no.598, dan HR. An-Nasa’i no.896. Namun dengan lafaz yang sedikit berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Adapun doa iftitah hasil koreksi seperti ditulis di atas, menggunakan lafaz dari HR. An-Nasa’i. Semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan yang disampaikan. Wallahu a’lam.

      Delete
  9. AnonymousJune 14, 2017

    Saya juga pny buku sifat shalat nabi thn 2007 dibuku itu bacaan ALLAHUMMA BA'ID nya beda dgn diblog ini, bunyinya ...ALLAHUMMANAQQINI MIN (pakai MIN, diblog ini kok MINAL) KHOTOYAYA KAMA YUNAQQOTS TSAUBUL AB YADLU MINAD DANAS, ALLAHUMMAGHSILNI MIN (pakai MIN, diblog ini tidak pakai MIN) KHOTOYAYA....dst.
    Di Blog lain bagian akhirnya juga beda bunyinya ....YAYA BITS TSALJI WALMA IWAL BAROD, pada umumnya yang beredar kan ....YAYA BILMA IWATS TSALJI WALBAROD,...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh…. terimakasih kepada saudara-saudaraku yang melakukan koreksi dengan teliti, khususnya terhadap doa iftitah yang pertama: “Allahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya…” Setelah meneliti lebih seksama, kami menemukan bahwa doa iftitah ini shahih dan diriwayatkan oleh sejumlah imam ahlul hadits seperti HR. Bukhari no.744, HR. Muslim no.598, dan HR. An-Nasa’i no.896. Namun dengan lafaz yang sedikit berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Adapun doa iftitah hasil koreksi seperti ditulis di atas, menggunakan lafaz dari HR. An-Nasa’i. Semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan yang disampaikan. Wallahu a’lam.

      Delete
  10. AnonymousJune 16, 2017

    alhamdulillah, terima kasih penjelasannya

    ReplyDelete
  11. AnonymousJune 22, 2017

    assalamualaikum, mau tanya ustadz, bgmn dengan doa iftitah yang sudah umum di baca skrg ini, dimana doanya sama dengan doa iftitah nomor 4 namun lebih panjang lg dgn tambahan INNI WAJJAHTU WAJHIYA...(dst)? apakah doa iftitah tsb sesuai Sunnah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikum salam... benar akhi, dalam HR. Muslim 2/185 – 186 terdapat lafaz doa iftitah “wajjahtu wajhiya….” Tapi tidak didahului dengan “Allahu Akbar kabiro walhamdulillaahi katsiro…”. Sedangkan dalam HR. An Nasa-i, 1/143, berbunyi: “Allahu Akbar. Wajjahtu wajhiya…..” InsyaAllah beberapa doa iftitah yang shahih namun belum termasuk dalam tulisan di atas akan segera kami tambahkan. Terimakasih.

      Delete
  12. AnonymousJune 30, 2017

    Yang benar WAJJAHTU WAJHIYA dst, INNI nya dihilangkan, klo ALLAHUAKBAR KABIRAWWAL dst itu ada hadisnya juga, itu memang digabung,

    ReplyDelete
  13. Apakah doa no 4 boleh di tambahkan atau begitu saja. karna banyak org setelah doa no 4 di tambah seperti inni wajjahtu wajhiya
    tolong balasan nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allahu a'lam. Yang shahih doa nomor 4 dicukupkan hanya sampai di situ. Adapun wajjahtu wajhiya dst... adalah doa tersendiri dan dibaca tersendiri (dengan lafaz seperti nomor 6 di atas)

      Delete
  14. Assalamualaikum, Akh. izin Copas y..? buat koleksi pribadi+dipelajari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikum salam... silahkan Akhi...

      Delete
  15. Assalamualaikum Akh, Izin Copas y buat belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikum salam... silahkan Akhi...

      Delete