Home » , » Membaca Takbiratul Ihram: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [1]

Membaca Takbiratul Ihram: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [1]

Beberapa ketentuan yang perlu difahami terkait dengan tata cara dalam shalat khususnya dalam pembahasan kali ini mengenai takbiratul ihram adalah sebagai berikut:

1.   Yang dimaksud dengan takbiratul ihram adalah ucapan: Allaahu Akbar yang dibaca pada setiap permulaan shalat. Adapun mengangkat kedua tangan hanyalah gerakan yang disunnahkan untuk dilakukan mengiringi ucapan takbiratul ihram. Jadi, sekali lagi, takbiratul ihram bukanlah mengenai mengangkat tangan, tapi ucapan Allaahu Akbar di permulaan shalat.

2.   Takbiratul Ihram adalah merupakan salah satu dari pada rukun shalat. Artinya, tidak sah shalat seseorang tanpa takbiratul ihram. Takbiratul ihram menjadi keharusan, baik bagi seorang imam, makmum, maupun ketika shalat sendirian. Rasulullan Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (HR. Abu Daud dan disahihkan Al Albani).

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyampaikan tuntunan shalat:

إذا قُمتَ إلى الصَّلاةِ فأسْبِغ الوُضُوءَ، ثم اسْتقبل القِبْلةَ فكبِّر

Jika engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah…” (HR. Bukhari 757, Muslim 397)

3.   Dinamainya ucapan Allaahu Akbar di awal shalat ini dengan istilah “takbiratul ihram,” menurut para ulama karena takbiratul ihram adalah batas seseorang mulai diharamkan melakukan hal-hal yang sebelumnya halal baginya, hingga shalat selesai. Sebagaimana hadits,

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

Pembuka shalat adalah bersuci (wudhu), yang mengharamkan adalah takbir dan yang menghalalkan adalah salam” (HR. Abu Daud 618, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Jadi dengan mengucapkan takbiratul ihram maka seseorang sudah masuk ke dalam keadaan shalat (batas awal shalat), sehingga diharamkan baginya melakukan hal-hal yang di luar dari pada rukun shalat seperti berbicara, makan, minum dan lain-lain hingga nanti shalatnya berakhir yang ditandai dengan salam.

4.   Takbiratul ihram harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong maupun rukuk. Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.

5.   Keadaan tangan ketika mengiringi takbiratul ihram.





Adapun keadaan tangan, yakni telapak tangan dan jari-jari, ketika mengucapkan takbiratul ikhram ada beberapa ketentuan:
  • Telapak tangan harus terbuka secara sempurna, tidak tertekuk dan tidak  dalam keadaan menggenggam.
  • Jarak antara jari-jari tangan disunnahkan terbuka, tidak terlalu renggang dan juga tidak terlalu rapat.
  • Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat dengan ujung jari setinggi pundak atau sejajar pangkal telinga.
Ketentuan ini didasarkan pada hadits-hadits berikut :

كان إذا قام إلى الصلاة قال هكذاوأشار أبو عامر بيده ولم يفرج بين أصابعه ولم يضمها

Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika shalat beliau begini, Abu Amir (perawi hadits) mengisyaratkan dengan gerakan tangannya, beliau tidak membuka jari-jarinya dan tidak merapatkannya” (HR. Ibnu Khuzaimah 459, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Khuzaimah).

Juga hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا استفتح أحدُكم الصلاةَ فليرفع يديْهِ ، وليستقبل بباطنِهما القِبلةَ

Jika salah seorang kalian memulai shalat hendaklah mengangkat kedua tangannya, lalu hadapkan kedua telapak tangannya ke arah kiblat” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 2/27)

لأنظرن الى صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم قال فلما افتتح الصلاة كبر ورفع يديه فرأيت إبهاميه قريبا من أذنيه

Sungguh aku menyaksikan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam shalat, ketika beliau memulai shalat beliau bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya sampai aku melihat kedua jempolnya dekat dengan kedua telinganya” (HR. An Nasa-i 1101, dishahihkan Al Albani dalam Sunan An Nasa-i)

6.   Cara mengangkat tangan ketika takbir

Mengenai cara mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, ada 3 cara yang dapat dipilih sesuai dengan hadits-hadits yang shahih mengenai hal ini:

a).  Mengangkat tangan lalu bersedekap sebelum takbir

Ini didasarkan pada Hadits dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu:

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا قام إلى الصلاة؛ رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه ثم كبَّر

Pernah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika shalat beliau mengangkat kedua tangannya sampai keduanya setinggi pundak, lalu bertakbir” (HR. Muslim 390)

b). Mengangkat tangan lalu bersedekap bersamaan dengan takbir

Hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu:

رأيت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر حتى يجعلهما
حذو منكبيه، وإذا كبَّر للركوع؛ فعل مثله

Aku melihat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga keduanya setinggi pundak. Jika beliau hendak ruku, beliau juga melakukan demikian” (HR. Bukhari 738)

c). Mengangkat tangan lalu bersedekap sesudah takbir

Hadits dari Abu Qilabah,

أنه رأى مالك بن الحويرث ، إذا صلى كبر . ثم رفع يديه . وإذا أراد أن يركع رفع يديه . وإذا رفع رأسه من الركوع رفع يديه . وحدث ؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل هكذا

“Ia melihat Malik bin Al Huwairits radhiallahu’anhu jika shalat ia bertakbir, lalu mengangkat kedua tangannya. Jika ia ingin ruku, ia juga mengangkat kedua tangannya. Jika ia mengangkat kepala dari ruku, juga mengangkat kedua tangannya. Dan ia pernah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga melakukan seperti itu” (HR. Muslim 391)

7.   Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang.

8.   Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat. Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.

9.   Makmum (dalam shalat berjamaah) serta orang yang shalat sendirian, maka takbirnya dibaca pelan. Cukup terdengar dirinya sendiri.

10.   Jika ada kebutuhan, misalnya suara imam terlalu pelan, sehingga dikhawatirkan tidak terdengar makmum yang di belakang, maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk mengulang suara imam dengan keras. Namun, jika tidak ada kebutuhan maka tidak boleh. Misalnya suara imam sudah ada pengeras suara (mikrofon). Hal ini berlaku untuk semua shalat.

11.   Cara membaca takbir: Allaahu akbar. Yang dipanjangkan hanya lafal: Allaa..h. sedangkan Akbar dibaca pendek.

§  Beberapa Kesalahan ketika Takbiratul Ihram


1.   Telapak tangan tidak dibuka sempurna, tetapi agak menggenggam.

2.   Telapak tangan tidak dihadapkan ke kiblat.

3.   Mengangkat tangan tidak setinggi bahu atau telinga.

4.   Was-was ketika takbir, sehingga dilakukan secara berulang-ulang.

5.   Takbir sambil tergesa-gesa untuk melakukan rukuk. Hal ini biasa dilakukan untuk makmum masbuq yang menjumpai imam sedang rukuk. Agar mendapatkan satu rakaat bersama imam. Namun kesalahan ini menyebabkan batalnya takbir yang dia lakukan. Karena syarat sahnya takbir adalah dilakukan sambil berdiri. Dan jika takbiratul ihram batal maka shalatnya juga batal. Mula Ali Qari mengatakan, “Adapun orang yang bertakbir sambil menunduk sebagimana yang dilakukan orang-orang awam karena terburu-buru maka shalatnya tidak sah. Karena berdiri adalah syarat sahnya takbiratul ihram bagi yang mampu.”


6.   Kesalahan dalam membaca takbir:
  • Aaallaa..hu (AaaL..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Aaa..k-bar (Aaa..k..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Akbaa…r (baa..r..dibaca panjang). Akbaa..r artinya beduk. Sehingga kalimat Allaahu  Akbaa..r artinya Allah adalah beduk. Maha Suci Allah…
  • Kesalahan-kesalahan dalam membaca lafal takbir menyebabkan kesalahan arti. Semua arti yang salah di atas merupakan kalimat kekufuran. Orang mengatakan: “Apakah Allah Maha Besar??” Berarti telah meragukan sifat Maha Besar Allah.

    7.   Makmum membaca takbir dengan suara keras sehingga mengganggu orang lain ketika shalat berjamaah. Yang boleh bertakbir dengan keras hanyalah imam.


    8.   Ada sebagian makmum yang mengulang suaranya imam padahal suara imam sudah keras dan terdengar ke semua jamaah. Biasanya ini dilakukan ketika shalat id, karena meniru yang ada di masjidil haram. Padahal ini adalah satu hal yang tidak perlu dilakukan. Karena riwayat yang menyebutkan Abu Bakr mengeraskan suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat jamaah terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, sehingga suara beliau pelan.


    9.   Tidak menggerakkan lidah ketika membaca takbir, atau bertakbir namun di hati. Sebagian ulama menganggap orang yang bertakbir di batin (hati) dan tidak diucapkan bisa membatalkan shalat. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Syafi’i. Karena shalat adalah ibadah zikir dan gerakan. Bertakbir merupakan bagian dari zikir ketika shalat. Bertakbir baru bisa dianggap sah jika diucapkan.


    Sumber: www.CaraSholat.com; http://muslim.or.id
    ___________________


    Thanks for reading Membaca Takbiratul Ihram: Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah [1]

    « Previous
    « Prev Post
    Next »
    Next Post »

    0 komentar:

    Post a Comment