Home » , » Sepakat 4 Imam Mazhab: Dahulukan Sunnah Tinggalkan yang Menyelisihinya

Sepakat 4 Imam Mazhab: Dahulukan Sunnah Tinggalkan yang Menyelisihinya


Dalam kitab Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa sallama min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, semoga Allah merahmatinya, beliau mengawalinya dengan sebuah Muqaddimah yang bejudul “Perkataan Para Imam (Madzhab) untuk Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Perkataan Mereka jika Menyelisihi Sunnah.”

Muqaddimah ini serasa sangat tepat mengingat banyaknya perselisihan di kalangan umat mengenai agama yang mulia ini, antara lain karena sifat taqlid buta sejumlah pengikut, yang memandang pendapat dan perkataan para imam seolah-olah turun langsung dari langit. Padahal para imam Islam itu, semoga Allah merahmati mereka semua, adalah hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh untuk berada tegak di atas Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Melalui riwayat-riwayat yang shahih yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani diketahui bahwa para imam Islam yang empat telah meninggalkan sejumlah nasihat dan memerintahkan pengikutnya untuk meninggalkan pendapat mereka, jika ternyata ditemukan bahwa ada di antara pendapat mereka tersebut yang menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah memerintahkan para sahabatnya untuk menisbatkan semua sunnah yang shahih kepadanya, meskipun beliau tidak pernah atau belum sempat mengambil sunnah tersebut semasa hidupnya.

Selengkapnya berikut ini terjemahan Muqaddimah kitab Shifatu Shalatiin Nabiy Shallallaahu ‘alaihi wasallam minat Takbir ilas Salaam karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yang penulis salin dari buku “Tegar di Atas Sunnah Ibarat Menggenggam Bara Api,” Kompilasi Para Ulama, diterbitkan oleh Media Tarbiyah, Bogor, Jawa Barat.

PERKATAAN PARA IMAM UNTUK MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN PERKATAAN MEREKA JIKA MENYELISIHI SUNNAH

Adalah sesuatu yang bermanfaat jika di sini kami bawakan sebagian pernyataan para imam yang kami ketahui. Semoga dalam perkataan mereka ada sesuatu yang menjadi nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang taqlid kepada mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta,[1] dan berpegang teguh dengan pendapat mereka, seolah-olah perkataan mereka itu turun langsung dari langit. Padahal Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

"Ikutilah oleh kalian apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Sungguh sedikit sekali kamu ingat kepadanya".  (QS. Al-A'raf : 3)

Berikut ini saya paparkan pernyataan para Imam Madzhab.

[1] IMAM ABU HANIFAH rahimahullaah

Imam madzhab yang pertama adalah Abu Hanifah an-Nu'man bin Tsabit rahimahullaah. Telah diriwayatkan dari beliau oleh para sahabat beliau perkataan-perkataan yang berbeda-beda dan ungkapan-ungkapan yang bermacam-macam, akan tetapi semuanya mengarah pada satu hal, yaitu wajibnya berpegang teguh dengan Al-Hadits dan meninggalkan taqlid pada pendapat-pendapat para Imam yang menyelisihi Al-Hadits.

Inilah beberapa perkataan Imam Abu Hanifah rahimahullaah:

1.   Apabila suatu Hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.”[2]

2.   Tidah halal bagi seorangpun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana (dengan dasar apa) kami mengambil pendapat tersebut.”[3]

Dalam riwayat lain disebutkan:

3.   Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku, untuk berfatwa dengan pendapatku.”

Dalam riwayat lain ditambahkan:

4.   Kami ini hanya manusia belaka, kami mengemukakan suatu pendapat pada hari ini, dan kami rujuk (tinjau) kembali esok hari.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

5.   Celaka engkau wahai Ya’qub (maksudnya Abu Yusuf)! Jangan engkau tulis setiap apa yang engkau dengar dariku. Sungguh aku ini terkadang berpendapat dengan suatu pendapat pada hari ini dan esok aku tinggalkan, dan terkadang esok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan esok lusa.[4]

6.   Apabila saya mengutarakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku![5]

 [2] IMAM MALIK BIN ANAS rahimahullah

Di antara perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah dengan riwayat yang shahih antara lain:

1.   Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah pendapat tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah pendapat itu![6]

2.   Tidak ada seorangpun sepeninggal Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau bisa juga ditolak, kecuali Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam.”[7]

3.   Berkata Ibnu Wahab: "Saya pernah mendengar Imam Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kedua kaki ketika wudhu’. Beliaupun menjawab: 'Manusia tidak wajib melakukannya’. Berkata Ibnu Wahhab: 'Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata kepadanya : 'Menurut kami hal itu adalah sunnah.’ Beliau (Imam Malik) bertanya: apa dalilnya? Saya jawab: ‘Telah mengabarkan kepada kami al-'Laits bin Sa'ad dan Ibnu Luhai'ah dan Amr bin Al-Harits, dari Yazid bin 'Amr Al-Mu'afiri, dari Abi 'Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bij Syaddad Al-Qurasyiyyi, ia berkata : 'Saya melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam menggosok sela-sela jari kedua kakinya dengan jari kelingking'. Lalu beliau (Malik) berkata: 'Itu adalah Hadits yang hasan, dan saya tidak pernah mendengar sebelumnya, kecuali saat ini.’

”Kemudian di lain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari-jari kakinya".[8]

[3] IMAM AS-SYAFI’I rahimahullah

Adapun nukilan dari Imam As-Syafi’i rahimahullah adalah lebih banyak dan lebih baik,[9] dan pengikut beliau lebih banyak mengamalkan pesan beliau tersebut dan mereka lebih beruntung. Di antara perkataan Imam As-Syafi’i adalah:

1.   Tidak ada seorangpun kecuali ia memiliki kemungkinan untuk lupa terhadap Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam dan tersembunyi darinya. Setiap perkataanku atau setiap ushul (asas) yang saya letakkan, kemudian ternyata riwayat dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menyelisihi perkataanku, maka pendapat yang harus diikuti adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, dan akupun berpendapat dengannya.”[10]

2.   Kaum muslimin telah ijma’ (sepakat) bahwa barangsiapa yang mengetahui secara jelas suatu Sunnah dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut karena perkataan (pendapat) seseorang.”[11]

3.   Jika kalian dapati dalam kitabku hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, maka berpendapatlah sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, dan tinggalkan apa yang aku katakan.” (Dalam riwayat yang lain:Maka ikutilah Sunnah tersebut, dan janganlah kalian hiraukan pendapat seorangpun.”)[12]

4.   Jika suatu hadits telah jelas shahih, maka itulah madzhabku.”[13]

5.   Engkau[14] (maksudnya Imam Ahmad bin Hanbal) lebih mengetahui tentang hadits dan para perawi dibandingkan aku. Jika didapati suatu hadits yang shahih maka beritahulah aku, darimana pun hadits tersebut berasal, baik dari orang Kufah, Bashrah, ataupun Syam; hingga aku dapat berpendapat dengannya, apabila hadits itu shahih.”

6.   Setiap permasalahan yang berkenaan dengannya ada hadits shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menurut para ahli periwayatan (hadits), dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku menarik kembali pendapatku, baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati.”[15]

7.   Apabila kalian melihat aku mengucapkan suatu pendapat, padahal telah shahih (hadits) Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam suatu yang menyelisihi pendapatku, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah hilang![16]

8.   Setiap apa yang aku katakan, sedangkan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi adalah lebih utama, janganlah kalian bertaqlid kepadaku.”[17]

9.   Setiap hadits dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam maka itu adalah pendapatku juga, walaupun kalian tidak pernah mendengarnya dariku.”[18]

[4] IMAM AHMAD BIN HANBAL rahimahullah

Adapun Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah adalah imam yang paling banyak menghimpun Hadits dan paling berpegang teguh kepada hadits, sampai-sampai dikatakan: “Beliau membenci menulis buku yang berisi masalah furu' dan ra'yu.”[19]

Di antara perkataan beliau tentang wajibnya mendahulukan sunnah adalah:

1.   "Jangan kalian bertaqlid kepadaku dan jangan pula kalian bertaqlid kepada Malik, as-Sayfi'i, al-Auza'i, dan as-Tsauri, tetapi ambillah dari mana mereka mengambil.”[20]

2.   Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Janganlah kalian taqlid dalam agama kalian kepada salah seorang di antara mereka (para imam). Apapun yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka ambillah, kemudian pendapat para Tabi’in. Dan setelah mereka barulah boleh dipilih.” Suatu saat beliau juga berkata: "Yang dinamakan ittiba' adalah seseorang yang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat. Kemudian setelah pendapat para Tabi’in ia boleh memilih".[21]

3.   "Pendapat Al-Auza'i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semuanya hanya pendapat atau ra'yu (pikiran). Dan bagi saya semua ra'yu sama, yang menjadi hujjah hanyalah atsar (Hadits)."[22]

4.   "Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia berada pada jurang kehancuran."[23]

Demikianlah perkataan empat imam mazhab – semoga Allah meridhoi mereka -- dalam masalah berpegang teguh kepada Hadits (As-Sunnah) dan larangan taqlid kepada mereka tanpa ilmu. Pernyataan mereka itu sudah jelas tidak bisa dibantah dan diputarbalikkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua hadits yang shahih sekalipun bertentangan dengan sebagian pendapat mereka tersebut dan sikap semacam itu tidak dikatakan menyalahi madzhab mereka dan keluar dari metode mereka, bahkan sikap itulah yang disebut mengikuti mereka dan berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Akan tetapi, tidaklah demikian halnya bila seseorang meninggalkan Hadits-hadits yang shahih karena dipandang menyalahi pendapat mereka. Bahkan orang yang berbuat demikian telah durhaka kepada mereka dan menyalahi pendapat-pendapat mereka yang telah dikemukakan di atas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka Demi Robb-mu, mereka itu tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam menyelesaikan sengketa diantara mereka, kemudian mereka tidak berkeberatan terhadap keputusanmu dan menerimanya dengan sepenuh ketulusan hati." [QS.An-Nisa': 65]

Allah juga berfirman.

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (dalam hatinya) atau ditimpa adzab yang pedih." [QS.An-Nur : 63]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata : "Kewajiban orang yang telah menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyampaikan kepada ummat, menasihati mereka, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya sekalipun bertentangan dengan pendapat mayoritas ummat. Perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti dibandingkan dengan pendapat tokoh mana pun yang menyalahi perintahnya, yang terkadang pendapat mereka itu salah. Oleh karena itulah, para sahabat dan para tabi'in selalu menolak pendapat yang menyalahi Hadits yang shahih dengan penolakan yang keras,[24] yang mereka lakukan bukan karena benci, tetapi karena rasa hormat. Akan tetapi, rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jauh lebih tinggi daripada yang lain dan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jauh diatas mahluk lainnya. Apabila perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata berlawanan dengan perintah yang lain, perintah beliau lebih utama didahulukan dan diikuti, tanpa sikap merendahkan orang yang berbeda dengan  perintah beliau, sekalipun orang itu mendapatkan ampunan dari Allah.[25] Bahkan orang yang mendapat ampunan dari Allah, yang pendapatnya menyalahi perintah Rasuluallah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak merasa benci bila seseorang meninggalkan pendapatnya, ketika ia mendapati bahwa ketentuan Rasulullah berlawanan dengan pendapatnya.[26]

Komentar Saya (Syaikh Al-Albani): Bagaimana mungkin mereka (para imam) membenci sikap semacam itu, padahal mereka sendiri menyuruh para pengikutnya untuk berbuat begitu, seperti yang telah disebut keterangannya di atas.  Mereka mewajibkan para pengikutnya untuk meninggalkan pendapat-pendapat mereka, bila bertentangan dengan Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan Imam Syafi'i menyuruh para muridnya untuk mengatasnamakan dirinya terhadap setiap Hadits yang shahih, sekalipun beliau tidak meriwayatkannya, atau bahkan pendapatnya bertentangan dengan Hadits itu. Oleh karena itu, Ibnu Daqiq Al-'Id mengumpulkan berbagai Hadits yang dikategorikan bertentangan dengan pendapat dari salah satu atau seluruh imam yang empat, dalam sebuah buku besar. Beliau mengatakan di awal kitab tersebut:

"Mengatasnamakan para imam mujtahid tentang berbagai masalah yang bertentangan dengan Hadits shahih adalah haram". Para ahli fiqih yang taqlid kepada mereka wajib mengetahui bahwa tidak boleh mengatasnamakan masalah itu kepada mereka, sehingga berdusta atas nama para Imam.[27]
  
****


[1] Sikap taqlid inilah yang disindir oleh Imam Thahawi ketika beliau menyatakan : "Tidak akan taqlid kecuali orang yang lemah pikirannya atau bodoh". Ucapan ini dinukil oleh Ibnu Abidin dalam kitab Rasmu Al-Mufti (I/32), dari kitab Majmu'atul Rasail-nya.

[2] Ibnu Abidin dalam kitab Al-Hasyiyah (I/63) dan Kitab Rasmul Mufti (I/4) dari kumpulan-kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih Al-Filani dalam Kitab Iqazhu Al-Humam hal. 62 dan lain-lain, Ibnu Abidin menukil dari Syarah Al-Hidayah, karya Ibnu Syhahnah Al-Kabir, seorang guru Ibnul Humam, yang berbunyi.
"Bila suatu Hadits shahih sedangkan isinya bertentangan dengan madzhab kita, yang diamalkan adalah Hadits". Hal ini merupakan madzhab beliau dan tidak boleh seorang muqallid menyalahi Hadits shahih dengan alasan dia sebagai pengikut Hanafi, sebab secara sah disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beliau berpesan : "Jika suatu Hadits itu shahih, itulah madzhabku". Begitu juga Imam Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari Abu Hanifah dan para imam lain pesan semacam itu.

Saya katakan : Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan mereka. Mereka mengisyaratkan bahwa mereka tidaklah menguasai semua Hadits. Hal ini dengan tegas dinyatakan oleh Imam Syafi'i seperti akan tersebut di belakang nanti. terkadang  di antara para imam itu pendapatnya menyalahi Hadits karena hal itu belum sampai kepada mereka. Oleh karena itu, mereka menyuruh kita untuk berpegang pada Hadits dan menjadikannya sebagai madzhab mereka.

[3] Ibnu 'Abdul Barr dalam kitab Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al-Fuqaha hal. 145, Ibnul Qayyim, I'lamul Muwaqqi'in (II/309), Ibnu 'Abidin dalam Hasyiyah Al-Bahri Ar-Raiq (VI/293), dan Rasmu Al-Mufti hal. 29 dan 32, Sya'rani dalam Al-Mizan (I/55) dengan riwayat kedua, sedang riwayat ketiga diriwayatkan Abbas Ad-Darawi dalam At-Tarikh, karya Ibnu Ma'in (VI/77/1) dengan sanad shahih dari Zufar. Semakna dengan itu diriwayatkan dari beberapa orang sahabatnya, yaitu Zufar, Abu Yusuf, dan Afiyah bin Yazid, seperti termaktub dalam Al-Iqazh hl. 52. Ibnu Qayyim menegaskan shahihnya riwayat ini dari Abu Yusuf (II/344) dan memberi keterangan tambahan dalam Ta'liqnya terhadap kitab Al-Iqazh hal. 65, dikutip dari Ibnu 'Abdul Barr, Ibnul Qayyim dan lain-lain.

Saya katakan : Jika ucapan semacam ini yang mereka katakan terhadap orang-orang yang tidak mengetahui dalil mereka, bagaimana lagi ucapan mereka terhadap orang-orang yang tahu bahwa dalil (Hadits) berlawanan dengan pendapat mereka, lalu mereka mengeluarkan fatwa yang berlawanan dengan Hadits? Harap Anda perhatikan pernyataan ini, sebab pernyataan tersebut sudahlah cukup untuk menghentikan sikap taqlid buta. Oleh karena itulah, sebagian ulama yang bertaqlid menolak untuk menisbatkan pesan tersebut kepada Abu Hanifah, sebab Abu Hanifah melarang seseorang mengikuti omongannya bila dia tahu dalilnya.

[4] Hal itu terjadi karena Imam Abu Hanifah banyak mendasarkan pedapatnya dengan qiyas, lalu tampak baginya qiyas yang lebih kuat ; atau telah sampai kepadanya Hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam, lalu ia ambil Hadits ini, lalu dia meninggalkan pendapatnya yang terdahulu. Sya'rani, dalam kitab Al-Mizan (I/62), berkata yang ringkasnya.

"Keyakinan kami dan keyakinan semua orang yang arif tentang Imam Abu Hanifah ialah jika beliau masih hidup sampai masa pembukuan Hadits dan sesudah ahli Hadits menjelajah semua negeri dan pokok wilayah Islam untuk mencarinya, niscaya beliau akan berpegang pada Hadits-Hadits dan meninggalkan setiap qiyas yang dahulu digunakannya, sehingga qiyas hanya sedikit dipakai pada madzhab beliau sebagaimana pada madzhab-madzhab lainnya. Akan tetapi, karena pada masanya dalil-dalil Hadits ada pada para pengikutnya yang terpencar-pencar di berbagai kota, kampung, dan pojok-pojok negeri Islam, penggunaan qiyas pada madzhab Hanafi lebih banyak dibanding dengan madzhab lainnya, karena keadaan terpaksa, sebab tidak ada nash tentang masalah-masalah yang beliau tetapkan berdasarkan qiyas. Hal ini berlainan dengan madzhab-madzhab lain. Para ahli hadits pada saat itu telah menjelajah berbagai penjuru wilayah Islam untuk mencari Hadits dan mengumpulkannya dari berbagai kota dan kampung sehingga Hadits-hadits tentang hukum bisa terkumpul semuanya. Inilah yang menjadi sebab banyaknya pemakaian qiyas dalam madzhab beliau, sedangkan pada madzhab-madzhab yang lain sedikit.

Sebagian besar dari pendpat-pendapat Hanafi ini dinukil oleh Abu Al-Hasanat dalam kitab An-Nafi' Al-Kabir hal. 135 dan beliau memberi komentar dengan keterangan yang dapat mejelaskan dan menguatkan pendapatnya. Silakan baca kitab tersebut.

Saya katakan : Menjadi suatu udzur dari Abu Hanifah bila pendapatnya ternyata bertentangan dengan Hadits-hadits shahih dan udzur dia ini pasti termaafkan. Allah tidak memaksa seseorang di luar kemampuannya. Jadi, beliau tidak boleh dicerca dalam hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang bodoh. Orang justru wajib hormat kepada beliau, sebab dia adalah salah seorang di antara imam kaum muslimin yang telah memelihara agama ini dan menyampaikan kepada kita berbagai bagian dari agama. Beliau mendapat pahala atas segala usahanya, yang benar atau yang keliru. Di samping itu, tidak seseorang yang menghormati beliau boleh terus meneru berpegang pada pendapat-pendapat beliau yang bertentangan dengan Hadits-hadits shahih, sebab cara semacam itu bukanlah madzhabnya, sebagaimana telah Anda lihat sendiri pernyataan-pernyataanya dalam hal ini. Mereka para imam yang saling berbeda pendapat itu, ibarat lembah-lembah dan kebenaran bisa ada pada lembah yang satu atau mungkin pada lembah lainnya. Oleh karena itu, wahai Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan ; janganlah Engkau jadikan hati kami dengki kepada orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

[5] Al-Filani  dalam kitab Al-Iqazh hal. 50, menisbatkannya kepada Imam Muhammad juga, kemudian ujarnya.

"Hal semacam ini dan lain-lainnya yang serupa bukanlah menjadi sifat mujtahid, sebab dia tidak mendasarkan hal itu pada pendapat mereka, bahkan hal semacam ini merupakan sifat muqallid".

Saya katakan : Berdasarkan hal diatas, Sya'rani dalam Kitab Al-Mizan (I/26) berkata : "Jika saya berkata, apa yang harus saya lakukan terhadap Hadits-hadits shahih setelah kematian imamku, dimana beliau dahulu tidak mengambil Hadits tersebut." Maka jawabannya, yang wajib engkau lakukan adalah engkau mengamalkan Hadits tersebut, sebab sekiranya imam Anda mengetahui Hadits-hadits itu dan menurutnya shahih, tentu beliau akan menyuruh Anda juga berbuat begitu sebab para imam itu semuanya terikat pada Syari'at. Barangsiapa yang mengikuti hal itu, kedua tangannya akan meraih kebajikan. Akan tetapi, barangsiapa yang mengatakan :"Saya tidak mau mengamalkan suatu Hadits kecuali kalau hal itu diamalkan oleh imam saya", akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang taqlid kepada imam madzhab. Yang lebih utama untuk mereka adalah mengamalkan setiap Hadits yang shahih yang ada sepeninggal imam mereka, demi melaksanakan pesan para imam tersebut. Menurut keyakinan kami, sekiranya mereka itu masih hidup dan mendapatkan Hadits-hadits yang shahih sepeninggal mereka ini, niscaya mereka akan mengambilnya dan melaksanakan isinya serta meninggalkan semua qiyas yang dahulu pernah mereka lakukan atau setiap pendapat yang dahulu pernah mereka kemukakan.”


[6] Ibnu 'Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149), begitu pula Al-Filani hal. 72.

[7] Dikalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (1/227). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami' (II/291), Ibnu Hazm dalam kitab Ushul Al-Ahkam (VI/145, 179), dari ucapan Hakam bin Utaibah dam Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam kitab Al-Fatawa (I/148) dari ucapan Ibnu Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata : "Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri".

Saya katakan : Kemudian Imam Ahmad pun mengambil ucapan tersebut. Abu Dawud dalam kitab Masaail Imam Ahmad hal. 276 mengatakan : "Saya mendengar Ahmad berkata : Setiap orang pendapatnya ada yang diterima dan ditolak, kecuali Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

[8] Muqaddimah kitab Al-Jarh Wa At-Ta'dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 31-32 dan diriwayatkan secara lengkap oleh Baihaqi dalam Sunnan-nya (I/81).

[9] Ibnu Hazm berkata dalam kita VI/118
        "Para ahli fiqh yang ditaqlidi telah menganggap batal taqlid itu sendiri. Mereka melarang para pengikutnya untuk taqlid kepada mereka. Orang yang paling keras dalam melarang taqlid ini adalah Imam Syafi'i. Beliau dengan keras menegaskan agar mengikuti Hadits-hadits yang shahih dan berpegang pada ketetapan-ketetapan yang digariskan dalam hujjah selama tidak ada orang lain yang menyampaikan hujjah yang lebih kuat serta beliau sepenuhnya berlepas diri dari orang-orang yang taqlid kepadanya dan dengan terang-terangan mengumumkan hal ini. Semoga Allah memberi manfaat kepada beliau dan memperbanyak pahalanya. Sungguh pernyataan beliau menjadi sebab mendapatlan kebaikan yang banyak".

[10] Hadits Riwayat Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi'i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu 'Asakir XV/1/3, I'lam Al-Muwaqqi'in (II/363-364), Al-Iqazh hal.100

[11] Ibnul Qayyim (II/361), dan Al-Filani hal. 68

[12] Al-Harawi dalam kitab Dzamm Al-Kalam (III/47/1), Al-Khathib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi'i (VIII/2), Ibnu Asakir (XV/9/1), Nawawi dalam Al-Majmu' (I/63), Ibnul Qayyim (II/361), Al-Filani hal. 100 dan riwayat lain oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (IX/107) dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (III/284, Al-Ihsan) dengan sanad yang shahih dari beliau, riwayat semakna.

[13] Imam An-Nawawi, dalam Al-Majmu', Sya'rani (I/57) dan ia nisbatkan kepada Hakim dan Baihaqi, Filani hal. 107. Sya'rani berkata : " Ibnu Hazm menyatakan Hadist ini shahih menurut penilaiannya dan penilaian imam-imam yang lain".

Saya katakan : Pernyataan beliau yang akan diuraikan setelah komentar dibawah ini menunjukkan pengertian yang dimaksud secara jelas. An-Nawawi berkata ringkasnya :

"Para sahabat kami mengamalkan Hadits ini dalam masalah tatswib (mengulang kalimat adzan), syarat orang ihram melakukan tahallul karena sakit, dan lain-lain hal yang sudah populer dalam kitab-kitab madzhab kami. Ada di antara sahabat-sahabat kami yang memberikan fatwa berdasarkan Hadits antara lain : "Abu Ya'qub Buwaiti, Abu Al-Qasim Ad-Dariqi, dan sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli Hadits yang juga berbuat demikian, yaitu Imam Abu bakar, Baihaqi, dan lain-lain. Mereka adalah sejumlah sahabat kami dari kalangan terdahulu. Bila mereka melihat pada suatu masalah ada Haditsnya, sedangkan Hadits tersebut berlainan dengan madzhab Syafi'i, mereka mengamalkan Hadits tersebut dan berfatwa : "Madzhab Syafi'i sejalan dengan Hadits ini".

Syaikh Abu Amer berkata : "Bila seorang dari golongan Syafi'i menemukan Hadits bertentangan dengan madzhabnya, hendaklah ia mempertimbangkan Hadits tersebut. Jika memenuhi syarat untuk berijtihad, secara umum atau hanya mengenai hal tersebut, dia mempunyai kebebasan untuk berijtihad, secara umum atau hanya mengenai hal tersebut, dia mempunyai kebebasan untuk berijtihad, Akan tetapi, jika tidak memenuhi syarat, tetap berat untuk menyalahi Hadits sesudah melakukan kajian dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas perbedaan tersebut, hendaklah ia mengamalkan Hadits jika ada Imam selain Syafi'i yang mengamalkan Hadits tersebut. Hal ini menjadi hal yang dimaafkan bagi yang bersangkutan untuk meninggalkan imam madzhabnya dalam masalah tersebut dan apa yang menjadi pendapatnya adalah pilihan yang baik. wallahu A'lam.

Saya katakan : Ada suatu keadaan lain yang tidak dikemukakan oleh Ibnu Shalah, yaitu bagaimana kalau ternyata orang itu tidak mendapatkan imam lain sebelumnya yang mengamalkan Hadits tersebut? Apa yang harus ia lakukan? Hal ini dijawab oleh Taqiyuddin Subuki dalam Risalah-nya tentang maksud ucapan Imam Syafi'i "Apabila ada Hadits yang shahih ..." Juz 3 hal, 102 :

"Menurut pendapatku, yang lebih utama adalah mengikuti Hadits. Hendaklah yang bersangkutan menganggap seolah-olah dia berada di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ia mendengar beliau bersabda seperti itu. Apakah ia layak untuk mengesampingkan pengamalan Hadits semacam itu? Demi Allah, tidak. Setiap orang mukallaf bertanggung jawab sesuai dengan tingkat pemahamannya (dalam mengamalkan Hadits)".

Pembahasan tentang hal ini dapat Anda baca pada kitab I'lam Al-Muwaqqi'in (II/302 dan 370), Al-Filani dalam kitab Iqazhu Humami Ulil Abrar..., sebuah kitab yang tidak ada duanya dalam masalah ini. Para pencari kebenaran wajib mempelajarinya dengan serius dan penuh perhatian terhadap kitab ini.

[14] Ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabu Asy-Syafi'i hal. 94-95, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (IX/106), Al-Kahtib dalam Al-Ihtijaj (VIII/1), diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir dari beliau (XV/9/1), Ibnu 'Abdil Barr dalam Intiqa hal. 75, Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hal. 499, Al-Harawi (II/47/2) dengan tiga sanad, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari bapaknya, bahwa Imam Syafi'i pernah berkata kepadanya : "..... Hal ini shahih dari beliau. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim menegaskan penisbatannya kepada Imam Ahmad dalam Al-I'lam (II/325) dan Filani dalam Al-Iqazh hal. 152". Selanjutnya, beliau berkata : "Baihaqi berkata : 'Oleh karena itu, Imam Syafi'i banyak mengikuti Hadits. Beliau mengambil ilmu dari ulama Hizaz, Syam, Yaman, dan Iraq'. Beliau mengambil semua Hadits kepada madzhab yang tengah digandrungi oleh penduduk negerinya, sekalipun kebenaran yang dipegangnya menyalahi orang lain. Padahal ada ulama-ulama sebelumnya yang hanya membatasi diri pada madzhab yang dikenal di negerinya tanpa mau berijtihad untuk mengetahui kebenaran pendapat yang bertentangan dengan dirinya". Semoga Allah mengampuni kami dan mereka".

[15] Au Nu'aim dalam Al-Hilyah (IX/107), Al-Harawi (47/1), Ibnu Qayyim dalam Al-I'lam (II/363) dan Al-Filani hal. 104

[16] Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi'i hal. 93, Abul Qasim Samarqandi dalam Al-Amali seperti pada Al-Muntaqa, karya Abu Hafs Al-Muaddib (I/234), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (IX/106), dan Ibnu Asakir (15/101) dengan sanad shahih.

[17] Ibnu Abi Hatim hal 93, Abu Nu'aim dan Ibnu 'Asakir (15/9/2) dengan sanad shahih.

[18] Ibnu Abi Hatim, hal. 93-94

[19 Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hal. 192

[20] Al-Filani hal. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I'lam (II/302)

[21]  Abu Dawud dalam Masa'il Imam Ahmad hal. 276-277

[22] Ibnu Badul Barr dalam Al-Jami' (II/149)

[23] Ibnul Jauzi hal. 142

[24] Saya katakan : "Meskipun mereka harus membantah bapak-bapak dan ulama-ulama mereka! Sebagaimana diriwayatkan oleh Thahawi dala Syarah Ma'anil Atsar (I/372). Abu Ya'la dalam Musnad-nya (III/1317) dengan sanad jayyid dan rawi-rawinya orang kepercayaan, dari Salim bin Abdullah bin Umar, ujarnya : "Saya pernah duduk bersama Ibnu 'Umar di dalam masjid. Tiba-tiba salah seorang laki-laki dari penduduk Syam datang kepadanya, lalu menanyakan masalah umrah dalam haji tamattu". Ibnu Umar menjawab :"Baik". Orang itu bertanya lagi : "Benarkan bapakmu dahulu melarang melakukan hal ini?" Jawabnya "Celakalah engkau. Sekiranya bapakku dulu pernah melarang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya dan menyuruh berbuat seperti itu. Apakah engkau akan mengambil ucapan bapakku ataukah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?" Orang itu berkata : "Mengambil perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam". Ibnu Umar berkata : "Pergilah dari aku" (Hadits Riwayat Ahmad, Hadits No. 5700). Semakna dengan riwayat ini disebutkan oleh Tirmidzi pada Syarah Tahfah (II/82) dan disahkan  olehnya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir (VII/51/1) dari Ibnu Abu Dzi'ib. Ia berkata : "Sa'ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf pernah menjatuhkan hukuman kepada seseorang berdasarkan pendapat Rabi'ah bin Abi Abdurrahman, lalu saya sampaikan kepadanya riwayat dari Rasulullah yang berlainan dengan hukum yang telah ditetapkannya. Sa'ad berkata kepada Rabi'ah : 'Orang ini adalah Ibnu Abi Dzi'ib, seorang yang saya pandang dapat dipercaya. Dia meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam riwayat yang berlainan dengan ketetapan yang aku putuskan. 'Rabi'ah berkata kepadanya : 'Anda telah berijtihad dan keputusan Anda ada lebih dulu'. Sa'ad berkata :'Duhai, apakah ketetapan Saad terus berlaku dan ketetapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak diberlakukan ? Mestinya aku menolak ketetapan Sa'ad bin Ummi Sa'ad dan aku jalankan ketetapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam'. Lalu Sa'ad meminta surat keputusannya, kemudian merobeknya dan membuat ketetapan baru ini kepada orang yang dikenai putusan".

[25]  Bahkan orang seperti itu mendapat pahala sebagaimana sabda Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam : "Apabila seorang hakim berijtihad dalam menetapkan suatu hukum dan ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala ; jika ia berijtihad dalam menetapkan hukum dan ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala". (Hadits Riwayat  Bukhari dan Muslim dan selainnya).

[26]  Beliau nukil dalam Kitab Ta'liq 'ala Iqazhul Humam hal. 93

[27] Al-Filani hal. 99
_____________________________

Thanks for reading Sepakat 4 Imam Mazhab: Dahulukan Sunnah Tinggalkan yang Menyelisihinya

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

2 komentar:

  1. Pelajaran Yang Menarik ...
    Di Tingkatkn Lagi Postingan Tentang Islam Nya

    ReplyDelete