Home » , » Hukum Berhukum kepada Selain Hukum Allah

Hukum Berhukum kepada Selain Hukum Allah


Catatan Kajian


Ini adalah catatan penulis dari sebuah majelis kajian Islam tentang hukum “berhukum kepada selain hukum Allah.” 

Tema ini merupakan kajian terhadap tafsir Firman Allah Subahanahu Wata’ala dalam Surat Al-Maidah ayat 44,45,47.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ


Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (al-Maidah [5]: 44).


وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُون

Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (al-Maidah [5]: 45).


وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (al-Maidah [5]: 47).

Dalam penjelasannya, ustadz yang memberikan tausiyah mengatakan, sejumlah ulama yang membahas perkara ini berpendapat bahwa, berhukum atau menetapkan hukum selain dengan hukum Allah, bisa dihukumi dengan tiga macam hukum yang berbeda sesuai dengan Surat Al-Maidah ayat 44,45,47, tergantung dari motivasinya. Yakni sebab musabab dan keyakinan yang mendasari seseorang berhukum kepada selain hukum Allah.

Pertama, berhukum kepada selain hukum Allah bisa menjadikan seseorang dihukumi kafir atau keluar dari Islam, apabila :

a.    Yang bersangkutan beranggapan atau berkeyakinan “bolehnya” berhukum kepada selain hukum Allah.
b.    Yang bersangkutan beranggapan atau berkeyakinan “samanya” antara hukum Allah dengan selain hukum Allah.
c.    Yang bersangkutan beranggapan atau berkeyakinan “lebih baik” hukum selain hukum Allah.

Kedua, berhukum kepada selain hukum Allah dinyatakan zalim apabila :



“menganggap bahwa hukum Allah sudah tidak lagi tepat, tidak cocok, atau tidak relevan dengan zaman sekarang ini.” (sebahagian di antara ulama tidak membedakan dan tetap menghukumi sama kelompok ini dengan kelompok pertama, yakni kafir).

Ketiga, berhukum kepada selain hukum Allah dinyatakan fasik apabila :

”melaksanakan hukum selain hukum Allah, akan tetapi tetap meyakini bahwa hukum Allah adalah sebaik-baik hukum, serta mempercayai sebaiknya manusia berhukum kepada hukum Allah.”

Yang terakhir inilah, menjadi fasik, merupakan hukum yang paling ringan bagi orang yang berhukum atau menetapkan hukum dengan berdasarkan kepada selain hukum Allah.

Namun juga diingatkan bahwa yang dinamakan dengan ”bukan hukum Allah” adalah hukum buatan manusia yang tidak sejalan atau bertentangan dengan hukum Allah. Dengan demikian sepanjang ia sejalan atau  tidak bertentangan dengan hukum Allah, meskipun ia adalah hukum buatan manusia, maka tidak ada larangan untuk berhukum dengannya.  

Contohnya adalah hukum yang mengatur tentang lalu lintas. Atau undang-undang yang mengatur tentang perkawinan bagi umat Islam di Indonesia, yang meskipun ia merupakan hukum buatan manusia, tetapi sebahagian besar pasal-pasalnya didasarkan dan tidak bertentangan dengan hukum Allah tentang perkawinan di dalam Islam. Wallahu A’lam.

Demikianlah catatan singkat kajian kali ini. Kebenaran datangnya dari Allah, adapun kesalahan dan kekeliruan pastilah dari saya pribadi dan dari syetan. Kapada Allah saya memohon ampun dan kepada pembaca saya memohon maaf. Semoga amal-amal kita diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.

 ****
Thanks for reading Hukum Berhukum kepada Selain Hukum Allah

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment

loading...