Home » » Hampir Pasti, Rezim Assad Dibalik Penggunaan Senjata Kimia

Hampir Pasti, Rezim Assad Dibalik Penggunaan Senjata Kimia

Akhirnya Tim Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemarin resmi mengumumkan hasil temuan mereka dan memastikan adanya penggunaan senjata kimia (senjata pemusnah massal berupa gas sarin) dalam insiden yang menewaskan 1.400 warga sipil di Ghouta Timur, dekat Ibu Kota Damaskus, Suriah, bulan lalu.

Laporan itu belum menyebut siapa yang bertanggungjawab atas penggunaan senjata pemusnah massal tersebut, namun sangat berat dugaan pelakunya adalah rezim Syi’ah yang berkuasa di Suriah pimpinan Presiden Basyar al-Assad. 

Meskipun Assad sendiri dan sekutunya Rusia berulang kali menyampaikan bantahan dan berupaya membangun opini lain dengan menuding para mujahidin sebagai pelakunya.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta komitmen bersama dari semua masyarakat internasional untuk mencegah terulangnya horor yang mengerikan itu. 

"Ini adalah bukti sangat penting soal pemakaian senjata kimia terhadap warga sipil sejak terakhir sekali Saddam Husain melakukan hal serupa di Halabja, Irak, tahun 1988 lalu," kata Ban Ki-moon seperti dilansir kantor berita Reuters. 

Sarin adalah jenis cairan kimia yang sangat berbahaya dan mematikan. Ia tidak berwarna dan tidak berbau, tapi jenis senyawa kimia sarin sangat mematikan bahkan meskipun dalam dosis yang sangat rendah. Orang yang menghirupnya secara langsung bisa tewas dalam hitungan satu menit. Meski sudah terdapat  obat penawarnya (atropin dan pralidoksim), para korban gas Sarin jarang bisa diselamatkan karena biasanya mereka sudah tewas lebih dulu sebelum menyadari terkena gas mematikan ini.

Dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 687 pada tahun 1991, sarin digolongkan ke dalam jenis senjata pemusnah massal. 





Menindaklanjutinya, Konvensi Senjata Kimia sejak 1993 kemudian menyatakan larangan resmi, baik menghasilkan maupun menyimpan sarin.

Dalam kasus di Ghouta, ketua komite penyelidikan PBB Ake Sellstrom dari Swedia mengungkapkan gas sarin tersebut ditembakkan dengan menggunakan roket jenis darat ke darat, 21 Agustus 2013 lalu.  

"Kesimpulannya adalah senjata kimia telah digunakan dalam konflik antar kelompok di Suriah terhadap penduduk sipil, termasuk anak-anak, dalam skala cukup besar," katanya dalam penjelasan resmi hasil penyelidikan tim itu. 

Perang dengan menggunakan senjat kimia di Ghouta Timur ini, dalam laporan intelijen Amerika Serikat menewaskan 1.400 orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Rezim Assad sebelumnya berusaha membalikkan opini internasional dengan menuding kelompok mujahidin sebagai pelakunya. Assad dan kelompoknya membangun opini seolah-olah kelompok mujahidin telah menyusup ke pasukan rezim dan menembakkan senjata itu ke daerah yang dikuasai oleh kelompok mujahidin. Taktik ini kemudian diikuti dengan kebijakan Assad yang seolah-olah sangat wellcome dengan penyelidikan PBB, untuk mengesankan kepada dunia internasional bahwa rezim Assad tidak terlibat dalam serangan menggunakan senjata pembunuh massal tersebut. 

Namun upaya Assad tampaknya gagal. Presiden Dewan Keamanan PBB, Gary Quinlan, mengatakan laporan Tim Inspeksi PBB atas Suriah mempertegas dugaan selama ini bahwa rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia dalam perang melawan kelompok pemberontak. 

"Itu menegaskan pandangan kami, bahwa tidak ada keraguan yang tersisa rezim telah menggunakan senjata kimia," kata Gary seperti diberitakan CNN, Selasa (17/9/2013).

Meski demikian, belum dijelaskan langkah-langkah selanjutnya bagaimana PBB dan dunia internasional akan menangani persoalan Suriah ini.

Perang di Suriah bagi negara-negara Barat umumnya dipandang sebagai perang biasa antara rezim yang berkuasa dengan sekelompok rakyat sipil yang memberontak. Namun bagi negara-negara Islam dan Arab, perang yang sesungguhnya terjadi di Suriah adalah perang ideologi antara rezim penguasa yang beragama Syi’ah dengan kelompok muslim yang menolak Suriah dijadikan menjadi negara Syi’ah. 

Karena itu, Iran sebagai negara penganut Syi’ah terbesar dunia, terang-terangan mendukung rezim Assad. Sementara negara-negara Arab lainnya serta negara-negara berpenduduk muslim di luar Arab, umumnya mendukung kelompok mujahidin yang menganut Islam sunni. 

Konflik antara Islam dengan Syi’ah sendiri sudah berlangsung lama. Islam pada umumnya menilai ajaran Syi’ah sangat jauh menyimpang dan sesat sehingga ia dinyatakan keluar dari Islam dan kufur. 

Sebaliknya Syi’ah juga mengkafirkan semua orang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Bahkan beberapa ulama Syiah mengeluarkan fatwa yang menghalalkan darah kaum muslimin, dan menyatakan musuh utama mereka adalah kelompok Islam yang bukan Syiah. (Tentang Syi’ah baca ulasan artikeal ”MengapaMengkafirkan Syi’ah”).

*****
____________________

Thanks for reading Hampir Pasti, Rezim Assad Dibalik Penggunaan Senjata Kimia

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment