Hadits-hadits tentang Keutamaan Orang yang Menegakkan Ramadan

thumbnail

Hadits-hadits berikut ini adalah tentang keutamaan orang yang menegakkan Ramadan. Yakni, orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih pada malam Ramadan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala semata.

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Bukhari dengan judul "Bab: Keutamaan orang yang menegakkan Ramadan". 




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata tentang bulan Ramadhan: "Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". (Shahih Bukhari – Hadits No.1869) 




Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menegakkan Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu. (Shahih Bukhari – Hadits No.1870) 


Dan dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (Shahih Bukhari – Hadits No.1871)





Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendirikan shalat. Dan itu pada bulan Ramadhan. (Shahih Bukhari – Hadits No.1872) 


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepada saya 'Urwah bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah Beliau selesai shalat Fajar, Beliau menghadap kepada orang banyak kemudian Beliau membaca syahadat lalu bersabda: "Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya". Kemudian setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia, tradisi shalat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu. (Shahih Bukhari – Hadits No.1873) 


Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Sa'id Al Maqbariy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur". (Shahih Bukhari – Hadits No.1874) 
____________________

Daftar Isi Kitab Shalat Tarawih: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari

thumbnail

Tulisan “Daftar Isi Kitab Shalat Tarawih: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Sebagai tuntunan untuk mempermudah melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shalat Tarawih” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Bukhari. Isinya, menampilkan hadits-hadits seputar shalat Tarawih. Kitab ini termasuk kitab yang paling ringkas, hanya berisi 6 Bab dan 16 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 1868 sampai dengan nomor 1884.

Pada versi download Shahih Bukhari (format PDF ukuran kecil) yang terdapat di dalam blog ini, Kitab: Shalat Tarawih berada pada fail Shahih Bukhari-2 (halaman 328-334).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shalat Tarawih”, yakni shalat malam yang khusus diperintahkan di bulan Ramadhan.

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Bukhari Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir (II/no.1876-1877/hal.331). Artinya, hadits-hadits tentang mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir bulan ramadhan, dimuat dalam Shahih Bukhari-2, yakni hadits nomor 1876-1877, dimulai dari halaman 331.

Berikut ini daftar isi “Kitab: Shalat Tarawih” Shahih Bukhari selengkapnya:



  • Bab: Keutamaan orang yang menegakkan Ramadan (II/no.1869-1874/hal.328)
  • Bab: Keutamaan malam lailatur qadar (II/no.1875/hal.330)
  • Bab: Mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir (II/no.1876-1877/hal.331)
  • Bab: Mencari malam lailatul qadar pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir (II/no.1878-1882/hal.332)
  • Bab: Waktu lailatul qadar dijadikan "Misteri" karena percekcokan sahabat (II/no.1883/hal.334)
  • Bab: Beramal di sepuluh hari terakhir (II/no.1884/hal.334)
____________________

Daftar Isi Kitab Shaum atau Kitab Puasa: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari

thumbnail

Tulisan “Daftar Isi Kitab Shaum: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Sebagai tuntunan untuk memudahkan dalam melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shaum” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Bukhari, khusus mengetengahkan hadits-hadits seputar shaum atau puasa. Kitab ini berisi 67 Bab dan 110 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 1758 sampai dengan nomor 1868.

Pada versi download Shahih Bukhari (format PDF ukuran kecil) yang terdapat dalam blog ini, Kitab: Shaum berada pada fail Shahih Bukhari-2 (halaman 283-327).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shaum” atau puasa, baik puasa wajib atau puasa ramadhan maupun puasa sunnah.

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Bukhari Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Kewajiban puasa Ramadan (II/no.1758-1760/hal.283). Artinya, hadits-hadits tentang diwajibkannya puasa Ramadan dimuat dalam Shahih Bukhari-2, yakni hadits nomor 1758-1760, dimulai dari halaman 283.

Berikut ini daftar isi “Kitab: Shaum” Shahih Bukhari selengkapnya:

  • Bab: Kewajiban puasa Ramadan (II/no.1758-1760/hal.283)
  • Bab: Keutamaan puasa (II/no.1761/hal.284)
  • Bab: Kafarah puasa (II/no.1762/hal.285)
  • Bab: Ar rayyan untuk orang yang berpuasa (II/no.1763-1764/hal.285)
  • Bab: Disebut ramadan atau bulan ramadan? (II/no.1765-1767/hal.286)
  • Bab: Barangsiapa berpuasa ramadan karena iman dan mengharap pahala (II/no.1768/hal.287)
  • Bab: Di bulan ramadan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih banyak beramal Kebaikan (II/no.1769/hal.287)
  • Bab: Orang yang tidak meninggalkan ucapan kotor (II/no.1770/hal.288)
  • Bab: Apakah harus mengatakan 'Aku sedang berpuasa' ketika hina? (II/no.1771/hal.288)
  • Bab: Puasa bagi orang yang khawatir atas dirinya karena (nafsu) kelajangannya (II/no.1772/hal.289)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Jika kalian melihat hilal..." (II/no.1773-1778/hal.289)
  • Bab: Dua bulan Id tidak berkurang (II/no.1779/hal.291)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Kami (kaum) yang tidak menulis dan menghitung..." (II/no.1780/hal.291)
  • Bab: Ramadan tidak didahului dengan puasa satu atau dua hari (II/no.1781/hal.292)

  • Bab: Firman Allah "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu..." (II/no.1782/hal.292)
  • Bab: Firman Allah "...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar...." (II/no.1783/-1784/hal.293)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Janganlah makan sahur kalian terhalangi..." (II/no.1785/hal.294)
  • Bab: Mengakhirkan makan sahur (II/no.1786/hal.294)
  • Bab: Berapa waktu antara sahur hingga shalat subuh (II/no.1787/hal.294)
  • Bab: Berkah makan sahur (II/no.1788-1789/hal.295)
  • Bab: Niat puasa di siang hari (II/no.1790/hal.295)
  • Bab: Orang yang berpuasa junub di pagi hari (II/no.1791/hal.295)
  • Bab: Orang yang berpuasa bercumbu (II/no.1792/hal.296)
  • Bab: Orang yang berpuasa mencium (II/no.1793-1794/hal.297)
  • Bab: Mandinya orang yang berpuasa (II/no.1795-1796/hal.298)
  • Bab: Orang yang berpuasa makan dan minum karena lupa (II/no.1797/hal.298)
  • Bab: Siwak basah dan kering bagi orang yang berpuasa (II/no.1798/hal.299)
  • Bab: Jika bersetubuh di (siang hari) Ramadan (II/no.1799/hal.299)
  • Bab: Jika seseorang bersetubuh di (siang hari) ramadan, semantara tidak memiliki sesuatu untuk ia sedekahkan... (II/no.1800/hal.300)
  • Bab: Orang yang bersetubuh di siang hari bulan ramadan, apakah ia boleh memberikan makanan untuk keluarganya sebagai kafarah? (II/no.1801/hal.300)
  • Bab: Berbekam dan muntah bagi orang yang berpuasa (II/no.1802-1804/hal.301)
  • Bab: Puasa dan berbuka dalam safar (II/no.1805-1807/hal.302)
  • Bab: Berpuasa beberapa hari di bulan ramadan kemudian pergi bersafar (II/no.1808-1809/hal.303)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada orang yang dipayungi dan panas yang sangat... (II/no.1810/hal.303)
  • Bab: Sebagian sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mencela sebagian kepada sebagian yang lain... (II/no.1811/hal.304)
  • Bab: Berbuka saat safar supaya dilihat oleh orang (II/no.1812/hal.304)
  • Bab: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (II/no.1813/hal.304)
  • Bab: Kapan mengganti puasa Ramadan (II/no.1814/hal.305)
  • Bab: Wanita haid meninggalkan puasa dan shalat (II/no.1815/hal.305)
  • Bab: Orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa (II/no.1816-1817/hal.305)
  • Bab: Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka (II/no.1818-1819/hal.307)
  • Bab: Berbukan dengan air atau selainnya sekadarnya (II/no.1820/hal.308)
  • Bab: Mesegerakan buka puasa (II/no.1821-1822/hal.308)
  • Bab: Jika berbuka puasa ramadan kemudian matahari muncul kembali (II/no.1823/hal.309)
  • Bab: Puasanya anak kecil (II/no.1824/hal.309)
  • Bab: Puasa wishal, dan pendapat bahwa pada malam hari tidak ada puasa (II/no.1825-1828/hal.309)
  • Bab: Ancaman bagi orang yang memperbanyak puasa wishal (II/no.1829-1830/hal.311)
  • Bab: Puasa wishal hingga makan sahur (II/no.1831/hal.311)
  • Bab: Barangsiapa bersumpah agar saudaranya mau berbuka puasa (II/no.1832/hal.312)
  • Bab: Puasa Sya'ban (II/no.1833-1834/hal.313)
  • Bab: Penjelasan tentang puasa dan berbukanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (II/no.1835-1837/hal.313)
  • Bab: Hak tamu dalam hal puasa (II/no.1838/hal.315)
  • Bab: Hak badan dalam hal puasa (II/no.1839/hal.315)
  • Bab: Puasa dahr (II/no.1840/hal.316)
  • Bab: Hak keluarga dalam hal puasa (II/no.1841/hal.317)
  • Bab: Berpuasa satu hari dan berbuka satu hari (II/no.1842/hal.317)
  • Bab: Puasa Daud (II/no.1843-1844/hal.318)
  • Bab: Puasa pada hari-hari bidl (tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas) (II/no.1845/hal.319)
  • Bab: Barangsiapa mengunjungi suatu kaum kemudian berbuka bersama mereka (II/no.1846/hal.319)
  • Bab: Puasa di akhir bulan (II/no.1847/hal.320)
  • Bab: Puasa khusus di hari jumat (II/no.1848-1850/hal.320)
  • Bab: Boleh mengkhususkan satu hari tertentu (II/no.1851/hal.321)
  • Bab: Puasa di hari Arafah (II/no.1852-1853/hal.322)
  • Bab: Puasa di hari Idul Fitri (II/no.1854-1855/hal.322)
  • Bab: Puasa di hari Idul Adlha (II/no.1856-1858/hal.323)
  • Bab: Puasa di hari-hari tasyriq (II/no.1859-1860/hal.324)
  • Bab: Puasa Asyura`(II/no.1861-1868/hal.325)
 _____________________

Hadits tentang Bolehnya Menghajikan Orang yang Sudah Lemah atau Sudah Meninggal

thumbnail



Dua hadits berikut ini adalah tentang bolehnya seseorang menunaikan haji untuk dan atau atau atas nama orang lain. Semisal, seorang anak menunaikan haji untuk orang tua yang sudah lemah atau sudah meninggal dunia.


Hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul "Bab: Haji untuk orang yang sudah lemah atau untuk orang yang sudah meninggal".




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata; Fadl bin Abbas pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba seorang wanita dari Khats'am meminta fatwa kepada beliau. Fadll menengok kepada perempuan itu dan perempuan itu pun menengok Fadll. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memalingkan wajah Fadll ke arah lain. Perempuan itu berkata, "Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?" beliau menjawab: "Boleh." Dan hal itu terjadi pada saat haji wada'. (Shahih Muslim – Hadits No.2375)



Telah menceritakan kepadaku Ali bin Khasyram telah mengabarkan kepada kami Isa dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas dari Al Fadll bahwasanya; Seorang wanita dari Khats'am berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku adalah seorang yang sudah tua renta, ia masih memiliki kewajiban haji, sementara ia tidak mampu lagi menunggang di atas Untaranya." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Kalau begitu, hajikanlah ia." (Shahih Muslim – Hadits No.2376)
___________________

Hadits tentang Kewajiban Haji Hanya Satu Kali Seumur Hidup, Namun…

thumbnail



Hadits berikut ini adalah mengenai kewajiban haji bagi kaum muslimin hanya satu kali seumur hidup. Namun bagi yang mampu, Rasulullah mengisyaratkan wajibnya menunaikan haji sebanyak kemampuan.

Hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul “Bab: Kewajiban haji hanya satu kali dalam seumur hidup.”



Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Ar Rabi' bin Muslim Al Qarasyi dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami seraya bersabda: "Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, tunaikanlah ibadah haji." Kemudian seorang laki-laki bertanya, "Apakah setiap tahun ya Rasulullah?" beliau terdiam beberapa saat, hingga laki-laki itu mengulanginya hingga tiga kali. Maka beliau pun bersabda: "Sekiranya aku menjawab, 'Ya' niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun dan kalian tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena itu, biarkanlah apa adanya masalah yang kutinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu mendapat celaka karena mereka banyak tanya dan suka mendebat para Nabi mereka. karena itu, bila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah sebisa-bisanya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera." (Shahih Muslim – Hadits No.2380)
_____________________

Hadits tentang Bolehnya Mengqadla atau Membayar Hutang Puasa Orang yang Sudah Meninggal

thumbnail



Hadits-hadits berikut ini adalah tentang bolehnya mengqadha atau membayar hutang puasa untuk orang yang sudah meninggal. Bahkan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mengatakan, bahwa hutang kepada Allah (hutang puasa) lebih berhak untuk dilunasi dari pada hutang kepada manusia (hutang uang).

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul "Bab: Mengqadla puasa untuk mayit."



Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa'id Al Aili dan Ahmad bin Isa keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami Amru bin Harits dari Ubaidullah bin Ja'far dari Muhammad bin Ja'far bin Zubair dari Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya." (Shahih Muslim – Hadits No.1935)



Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa ada seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia masih memiliki hutang puasa selama satu bulan." Maka beliau pun bersabda: Bagaimana menurutmu jika ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu akan melunasinya?" wanita itu menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda: "Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi." (Shahih Muslim – Hadits No.1936)





Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Umar Al Waki'i telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Sulaiman dari Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata,

"Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia memiliki hutang puasa selama satu bulan. Apakah saya harus membayarkan untuknya?" beliau menjawab: "Sekiranya ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu harus membayarnya?" laki-laki itu menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda: "Kalau begitu, maka hutang kepada Allah adalah lebih berhak untuk dilunasi." 

Sualaiman berkata; Dan juga telah berkata; Al Hakam dan Salamah bin Kuhail semuanya. Dan kami dalam posisi duduk saat Muslim menceritakan hadits ini. Keduanya berkata, kami mendengar Mujahid menyebutkan hadits ini dari Ibnu Abbas. Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyajj telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Salamah bin Kuhail dan Al Hakam bin Utaibah dan Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dan Mujahid dan Atha` dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan hadits ini. (Shahih Muslim – Hadits No.1937)



Dan Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur dan Ibnu Abu Khalaf dan Abdu bin Humaid semuanya dari Zakariya bin Adi - Abdu berkata-telah menceritakan kepadaku Zakariya bin Adi telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abu Unaisah telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Utaibah dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku telah meninggal, sedangkan beliau masih memiliki hutang puasa Nadzar, bolehkah aku membayarnya?" beliau menjawab: "Bagaimana menurutmu, jika ibumu memiliki hutang, lalu kamu membayarnya, apakah hal itu dapat melunasi hutangnya?" wanita itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu, berpuasalah untuknya." (Shahih Muslim – Hadits No.1938)



Dan telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujr As Sa'di telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir Abul Hasan dari Abdullah bin 'Atha` dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Ketika saya sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba dating lah seorang wanita dan berkata, "Aku pernah memberikan seorang budak wanita kepada ibuku, dan kini ibuku telah meninggal. Bagaimana dengan hal itu?" beliau menjawab, "Kamu telah mendapatkan pahala atas pemberianmu itu, dan sekarang pemberianmu itu telah kembali kepadamu sebagai pusaka." Wanita itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, Ibuku punya hutang puasa satu bulan, bolehkah saya membayar puasanya?" beliau menjawab: "Ya, bayarlah puasanya itu." wanita itu berkata lagi, "Ibuku juga belum menunaikan haji, bolehkah aku yang menghajikannya?" beliau menjawab: "Ya, hajikanlah ia." Dan Telah meceritakannya kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Abdullah bin 'Atha` dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Saya pernah duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. yakni serupa dengan haditsnya Ibnu Mushir, hanyanya saja ia mengatakan; "Puasa selama dua bulan." Dan Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Abdullah bin Atha` dari Ibnu Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu ia berkata; Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka ia pun menyebutkan hadits semisalnya. Dan ia juga mengatakan; "Puasa selama satu bulan." Dan telah meceritakannya kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Sufyan dengan isnad ini, dan ia mengatakan; "(Hutang) Puasa selama dua bulan." Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Khalaf Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Abdullah bin Atha` Al Makki dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yakni serupa dengan hadits mereka, dan ia juga mengatakan; "Puasa satu bulan." (Shahih Muslim – Hadits No.1939)

___________________