Hadits-Hadits Shahih tentang Larangan Perbuatan Bid'ah

thumbnail

Sangat memprihatinkan, akhir-akhir ini semakin banyak orang Islam yang alergi dengan pembahasan mengenai perkara bid’ah.

Sangking alerginya, tidak perduli hadits-hadits dari Rasulullah yang membahas tentang bid’ah pun ikut diremehkan. Dipandang sebelah mata, dicurigai, bahkan ditentang.

Seolah-olah celaan terhadap perbuatan bid’ah itu hanya buatan orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu, dan bukan datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Semakin keras peringatan para ulama akan bahaya bid’ah, semakin keras pula para pelaku bid’ah melakukan pembelaan.

Dengan berbagai cara mereka melakukan pembenaran. Mencari-cari dan menghubung-hubungkan dengan dalil-dalil yang sesungguhnya tidak ada hubungan dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Semata-mata hanya untuk mempertahankan ego. Melanggengkan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan beribadah yang diwariskan turun-temurun, meskipun tidak diketahui asal-usulnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai bukti pengikut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sudah semestinya setiap pengikut mengikuti dan mengambil contoh langsung dari Rasulullah, dan tidak membuat perkara-perkara baru dalam beragama yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Apa-apa yang tidak menjadi agama di saat Rasulullah masih hidup, semestinya juga tidak pantas untuk menjadi agama setelah beliau wafat.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat setelah menyelesaikan semua tugas-tugas kenabian. Yakni, setelah agama Islam yang mulia ini dinyatakan sempurna oleh Rabb yang mengutusnya. Tidak seujung rambutpun perlu ditambah-tambah atau dikurangi.

Tentu kita tidak sedang berbicara mengenai handphone, internet, televisi, mobil, atau urusan-urusan dunia lainnya yang juga belum ada di zaman Rasulullah. Tapi kita sedang berbicara mengenai perkara bid’ah, yakni perkara-perkara baru di dalam urusan agama, yang tidak ada di zaman Rasulullah masih hidup, tapi kemudian diada-adakan setelah beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia.

Banyak yang membela perbuatan bid’ah dengan dalih berniat dan bermaksud melakukan kebaikan. Tapi mereka lupa ‘kebaikan’ menurut siapa? Apakah “baik” menurut Allah dan Rasul-Nya, ataukah baik menurut persangkaan mereka belaka?

Allahlah yang maha tahu hakekat setiap kebaikan, dan semua kebaikan dalam agama ini sudah disampaikan oleh Allah melalui perantaraan dan suri tauladan Rasul-Nya. Tidak ada suri tauladan yang lebih baik kecuali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini hadits-hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang melarang perbuatan bid’ah. Mudah-mudahan dengan mengingatkannya kembali, dapat menjadi terang bahwa celaan terhadap perbuatan bid’ah sesungguhnya datang langsung dari lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan menentangnya sama dengan menentang Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.

Hadits-1


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadits-2


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits-3


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadits-4


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ لْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Hadits-5


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadits-6


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata: “Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadits-7


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’. Nabi bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah'”. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

Hadits-8


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”)

Hadits-9


Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ ! إنا كنا بشرٌ . فجاء اللهُ بخيرٍ . فنحن فيه . فهل من وراءِ هذا الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : هل من وراءِ ذلك الشرِّ خيرٌ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : فهل من وراءِ ذلك الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : كيف ؟ قال ( يكون بعدي أئمةٌ لا يهتدون بهدايَ ، ولا يستنُّون بسُنَّتي . وسيقوم فيهم رجالٌ قلوبُهم قلوبُ الشياطينِ في جُثمانِ إنسٍ ) قال قلتُ : كيف أصنعُ ؟ يا رسولَ اللهِ ! إن أدركت ُذلك ؟ قال ( تسمعُ وتطيع للأميرِ . وإن ضَرَب ظهرَك . وأخذ مالَك . فاسمعْ وأطعْ )

“Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Aku bertanya: ‘Apa itu?’. Nabi bersabda: ‘akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’. Aku bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka?’. Nabi bersabda: ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

Hadits-10


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَنْ يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ

“Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)

Salah satu hikmah yang bisa diambil dari hadits yang mulia ini adalah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya telah mengabarkan bahwa akan ada orang di kemudian hari yang mengubah-ubah sunnah beliau. Dan perbuatan mengubah sunnah beliau adalah hal yang dicela.

Hadits-11


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits ini, ketiga orang yang dengan niat baik ingin beribadah kepada Allah melebihi ibadahnya Rasulullah, ternyata diingkari oleh Rasulullah. Hadits ini sekaligus mengingatkan, bahwa apa yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya.

Bahwa kebaikan dalam agama ini adalah kebaikan yang mengikuti syariat dari Allah dan tuntunan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Bahwa puasa dan shalat malam, sekalipun termasuk dalam amalan-amalan besar yang diperintahkan di dalam Islam, ia hanya akan bernilai ibadah di sisi Allah apabila dilaksanakan mengikuti contoh dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Menambah-nambah dan atau menguranginya, meskipun dengan maksud yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah, justru akan menjauhkannya dari Allah dan amalannya tertolak.

Karena hak untuk mensyariatkan segala sesuatu dalam agama yang mulia ini adalah hak Allah. Tak seorang pun berhak untuk membuat-buat syariat baru dalam Islam. Bahkan Rasulullah sekalipun hanyalah seorang utusan untuk menyampaikan syariat Islam yang datang dari Allah subhanahu wata’ala.

Sumber: https://muslim.or.id/11456-hadits-hadits-tentang-bidah.html
______________________


Download Kumpulan Bacaan Dzikir Petang Hari Sesuai Sunnah (PDF)

thumbnail


Untuk memudahkan pembaca yang ingin mendownload bacaan dzikir harian yang sesuai sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, berikut ini kami sajikan versi download Kumpulan Bacaan Dzikir Petang dalam format PDF.

Ini adalah bagian kedua versi download bacaan dzikir harian setelah sebelumnya secara terpisah disajikan versi download Kumpulan Bacaan Dzikir Pagi Sesuai Sunnah (PDF).

Selain memudahkan pembaca yang ingin mendownload bacaan dzikir harian, format PDF ini dimaksudkan juga terutama untuk menjaga susunan penulisan Arab agar tetap terpelihara dengan baik. Sebelumnya, sejumlah pembaca mengeluhkan susunan tulisan Arab yang rusak (berubah) saat dicopy-paste dari format web standar ke halaman Ms. Word.

Versi Download Kumpulan Bacaan Dzikir Petang Sesuai Sunnah ini seluruhnya memuat 19 bacaan dzikir yang shahih mengikuti tuntunan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Ini adalah format PDF dari dua tulisan sebelumnya, Kumpulan Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah (4) dan Kumpulan Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah (5).

Untuk mendownload selengkapnya bacaan dzikir pada petang hari silahkan klik link di bawah ini:


Adab dan Tata Cara Dzikir Petang


Kumpulan bacaan dzikir dalam bab ini memuat bacaan-bacaan dzikir yang disunnahkan untuk dibaca pada petang hari. Defenisi ”petang” sebagaimana telah diuraikan di dalam bab pengantar, adalah waktu yang terdapat di antara waktu ashar sehingga terbenamnya matahari.

Meski dijumpai terdapat perbedaan di kalangan mufassir berkenaan dengan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan waktu ”petang” hari, akan tetapi tulisan ini kiranya mencukupkan diri dengan mengikuti pemahaman Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah demikian.


Adapun menjawab soalan yang banyak ditanyakan mengenai apakah dalam mengamalkan bacaan-bacaan dzikir harian (pagi dan petang) wajib dibaca secara seluruhnya, ataukah boleh hanya membaca sebahagiannya?

Maka pendapat kami dalam soalan ini, berdasarkan pada dalil-dalil yang kami ketahui, adalah baik untuk mengamalkan atau membaca bacaan dzikir harian secara seluruhnya pada setiap waktu pagi dan petang.

Tapi juga tidak ada halangan bagi yang hanya mengamalkan sebagiannya, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

Hanya saja, karena dzikir adalah ibadah, maka sudah barang tentu berdzikir yang banyak lebih utama dari pada berdzikir yang sedikit.

Adapun perkara susunan atau urutan dalam membaca bacaan dzikir yang juga banyak ditanyakan, kami tidak menemukan dalil dari Nabi yang mulia shallallaahu 'alaihi wasallam mengenai adanya urutan atau sistimatika tertentu dalam membaca bacaan dzikir harian.

Dibolehkan membaca bacaan dzikir dengan urutan yang dikehendaki.

Pemberian nomor dalam tulisan ini semata-mata hanya untuk keperluan penulisan, dan tidak dimaksudkan sebagai urutan atau sistimatika yang harus diikuti.
___________________


Zuhudlah... Niscaya Engkau Dicintai Allah sekaligus Dicintai Manusia

thumbnail
Hadits berikut ini adalah tentang sebuah amalan yang barangsiapa mengamalkannya, niscaya dia akan dicintai oleh Allah dan (sekaligus) dicintai oleh manusia.

Amalan tersebut adalah Zuhud.

عَنْ أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ


Dari Abul ‘Abbâs Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan]

Menurut Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hadits yang mulia ini mengandung dua wasiat yang agung :

Pertama, wasiat untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Zuhud ini bisa menguncang kecintaan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hambaNya.

Kedua, wasiat untuk bersikap zuhud terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Zuhud ini bisa menyebabkan seseorang dicintai oleh sesama manusia.




Memahami Pengertian Zuhud


Untuk memahami pengertian zuhud, kita mengutif tulisan yang sangat bagus dari Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Dalam tulisan berjudul “Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia,” beliau menulis Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena menganggapnya remeh, tidak bernilai, atau tidak meminatinya.

Para generasi Salaf dan generasi sesudah mereka banyak berbicara tentang makna zuhud terhadap dunia dengan redaksi yang beragam.

Abu Muslim al-Khaulâni rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia tidak dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Nnamun zuhud terhadap dunia ialah engkau lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa zuhud yang sesuai dengan syari’at adalah seseorang meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhiratnya dan hatinya yakin serta percaya terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya merupakan perbuatan hati. Oleh karena itu, Abu Sulaiman t mengatakan, “Janganlah engkau bersaksi untuk seseorang bahwa ia orang zuhud karena zuhud itu letaknya di hati.”

Tiga hal yang merupakan penafsiran zuhud yaitu :


Pertama : Hendaknya seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Sikap ini muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus, karena Allah Azza wa Jalla menjamin rezeki seluruh hamba-Nya dan menanggungnya, seperti yang Allah Azza wa Jalla firmankan 


وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfûzh).” [QS. Hûd : 6]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal [QS. an-Nahl: 96]

Abu Hâzim rahimahullah pernah ditanya, “Apa hartamu?” Ia menjawab, “Aku mempunyai dua harta yang menyebabkan aku tidak takut miskin; Pertama, percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan kedua, tidak mempunyai harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia.”

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, “Prinsip zuhud ialah ridha kepada Allah Azza wa Jalla .” Ia juga mengatakan, “Qanâ’ah adalah zuhud dan itulah kekayaan (merasa cukup).”

Barangsiapa mewujudkan keyakinannya, maka ia percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala urusannya, ridha dengan pengaturan-Nya dan tidak menggantungkan harapan dan kekhawatirannya pada makhluk.

Ini semua bisa mencegahnya dari usaha menggapai dunia dengan cara-cara yang ilegal. Orang yang seperti inilah orang yang benar-benar zuhud terhadap dunia dan ia adalah manusia terkaya, kendati ia tidak mempunyai apapun.

Kedua: Jika seorang hamba mendapatkan musibah pada dunianya, misalnya hartanya ludes, anaknya meninggal dunia, dan lain sebagainya, maka ia lebih senang kepada pahala musibah tersebut daripada dunianya yang hilang itu kembali lagi. Sikap seperti ini muncul karena keyakinannya yang penuh.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doanya,


اَللّٰــهُـــمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَـحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُـهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا


Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu; Anugerahkan kepada kami ketaatan kepada-Mu yang akan menghantarkan kami ke surga-Mu; Dan anugerahkan kepada kami keyakinan yang membuat kami merasa ringan atas seluruh musibah dunia ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang maknanya : "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfûzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kau tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” [QS. al-Hadîd: 22-23]

Ketiga : Pujian dan celaan dari orang tidak berpengaruh bagi hamba yang zuhud selama dia dalam kebenaran.

Ini juga pertanda zuhudnya terhadap dunia, menganggapnya rendah dan tidak berambisi kepadanya. Karena orang yang mengagungkan dunia, maka ia akan mencintai pujian dan membenci celaan. Ada kemungkinan, sikap mencintai pujian dan membenci celaan ini mendorongnya meninggalkan banyak kebenaran karena khawatir dicela serta mengerjakan berbagai perbuatan bathil karena mengharapkan pujian.

Jadi, orang yang menilai pujian dan celaan manusia baginya itu sama selama dia dalam kebenaran, menunjukkan kedudukan seluruh makhluk telah runtuh dari hatinya. Hatinya penuh dengan kecintaan kepada kebenaran, dan ridha kepada Rabb-nya. Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla dan tidak takut celaan.

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. [QS. al-Mâidah: 54]

Bertolak dari definisi bahwa orang yang zuhud sejati ialah orang yang tidak memuji dirinya dan tidak pula mengagungkannya, Yûsuf bin al-Asbâth t berkata, “Zuhud terhadap kekuasaan itu lebih berat daripada zuhud terhadap dunia.”

Jadi, barangsiapa menghilangkan ambisi untuk berkuasa di dunia ini dari dalam hatinya dan menghilangkan perasaan lebih hebat dari orang lain, sungguh, dia orang yang zuhud sejati dan dialah orang yang pemuji dan pencelanya dalam kebenaran itu sama saja.



Sumber: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, “Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia,” dalam https://almanhaj.or.id/
______________________


Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7: Shirathalladzina An'amta 'Alaihim...(Ibnu Katsir)

thumbnail


Dalam membahas tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 “Shirathalladzina an'amta 'alaihim ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin”, Imam Ibnu Katsir antara lain menjelaskan mengenai 3 jalan yang disebut dalam ayat ini.

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Jalan orang-orang yang diberi nikmat ialah, jalan para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid, dan jalan orang-orang shalih. Yakni jalan orang-orang yang beriman, yang menjalankan agama atas dasar ilmu yang benar, dan mereka mengamalkannya (berilmu dan beramal).

Adapun jalan orang-orang yang dimurkai adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka memiliki pengetahuan tapi tidak memiliki amal. Ingkar dan tidak mengamalkannya, karena itu mereka dimurkai.

Sedangkan jalan orang-orang yang sesat adalah jalan orang-orang Nasrani. Mereka sesat karena tidak memiliki ilmu pengetahuan (agama). Mereka beragama tanpa ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Menurut Imam Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah ini mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat berkumpul bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

Selengkapnya, berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 kami salin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Pustaka Imam as-Syafi'i.


(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1: 7)

Firman-Nya, "Shirathalladzina an'amta 'alaihim" (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka) adalah sebagai tafsir dari firman-Nya, jalan yang lurus. Dan merupakan badal (kata benda atau isim yang mengikuti kepada isim sebelumnya) menurut para ahli nahwu dan boleh pula sebagai athaf bayan (berupa isim jamid, yakni isim yang bukan berasal dari kata kerja yang berfungsi seperti sifat/keterangan). Wallahu a'lam.

Orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu Wata'ala itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat An-Nisaa', Dia berfirman:

 
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (QS. An-Nisa': 69-70).

Dan, firman-Nya, "ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin" (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat). Jumhur ulama membaca "ghairi" dengan memberikan kasrah pada hurup “ر “ dan kedudukannya sebagai naat (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan, dibaca juga dengan memakai harakat fathah di atasnya, yang menunjukkan haal (keadaan). Itu adalah bacaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khaththab, dan riwayat dari Ibnu Katsir. Dzul haal adalah dhamir dalam kata "'alaihim", sedangkan 'amil ialah lafaz "an'amta".

Artinya, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepadanya. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata "لا" (bukan), guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, sementara itu orang-orang Yahudi tidak memiliki amal, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan bagi orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan bagi orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya itu berhak mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedang orang Nasrani tatkala mereka hendak menuju kepada sesuatu, mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalannya. Hal itu karena mereka tidak menempuhnya melalui jalan yang sebenarnya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka mereka pun masing-masing tersesat dan mendapat murka. Namun, sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala mengenai diri mereka (orang-orang Yahudi):
   
"Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah." (QS. Al-Maidah: 60).

Sedangkan sifat Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman-Nya mengenai ihwal mereka:
 
"Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan lurus." (QS. Al-Maidah: 77).

Masalah ini banyak disebutkan dalam hadis dan atsar, dan hal itu cukup jelas.

Catatan:

1. Surat yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wata'ala melalui penyebutan asmaul husna milik-Nya, disertai adanya sifat-sifat yang Mahasempurna. Juga mencakup penyebutan tempat kembali manusia, yaitu hari pembalasan. Selain itu berisi bimbingan kepada para hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepada-Nya serta melepaskan upaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya secara tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, meng-Esakan dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga (berisi) bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya ke jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka pada jalan tersebut, sehingga ditetapkan bagi mereka untuk menyeberangi jalan yang tampak konkrit pada hari kiamat kelak menuju ke surga di sisi para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh.

Surat Al-Fatihah ini juga mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat bergabung bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

2. Seusai membaca Al-Fatihah dusunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan amin. Seperti ucapan yasin. Boleh juga mengucapkan amin dengan alif dibaca pendek, artinya adalah "ya Allah kabulkanlah". Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dari Wail bin Hujur, katanya aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin", lalu beliau mengucapkan, "Amin" dengan memanjangkan suaranya.

Sedangkan menurut riwayat Abu Dawud, dan beliau mengangkat suaranya. At-Tirmidzi mengatakan, hadis ini hasan. Hadis ini diriwayatkan juga dari Ali, Ibnu Mas'ud, dan lain-lainnya.

Dari Abu Hurairah, katanya, apabila Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin", maka beliau mengucapkan, "Amin." Sehingga terdengar oleh orang-orang yang di belakangnya pada barisan pertama. Hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadis tersebut dengan kalimat, "Sehingga masjid bergetar karenanya." Hadis ini juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, ia mengatakan, hadis ini berisnad hasan.

Sahabat kami dan lain-lainnya mengatakan, "Disunnahkan juga mengucapkan 'amin' bagi orang yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika munfarid (sendiri) maupun sebagai imam atau makmum, serta dalam keadaan apa pun, berdasarkan hadis dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika seorang imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, sesungguhnya barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan aminnya malaikat, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Menurut riwayat Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan amin di dalam shalat, dan malaikat di langit juga mengucapkan amin, lalu masing-masing ucapan amin dari keduanya saling bertepatan, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Ada yang mengatakan, artinya, barangsiapa yang waktu ucapan amin-nya bersamaan dengan amin yang diucapkan malaikat. Ada juga yang berpendapat, bahwa maksudnya, bersamaan dalam pengucapannya. Dan ada yang berpendapat, kebersamaan itu dalam hal keikhlasan.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan hadis marfu' dari Abu Musa, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
  
"Jika seorang imam telah membacakan waladhdhaalliin, maka ucapkan, 'Amin'. Niscaya Allah mengabulkan permohonan kalian."

Mayoritas ulama mengatakan bahwa makna amin itu adalah ya Allah perkenankanlah untuk kami.

Para sahabat Imam Malik berpendapat, seorang imam tidak perlu mengucapkan amin, cukup makmum saja yang mengucapkannya. Berdasarkan pada hadis riwayat Imam Malik dari Sami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

"Jika seorang imam telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Mereka juga menggunakan hadis dari Abu Musa a-Asy'ari yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
"Jika ia telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Dan kami kemukakan di atas dalam hadis dalam muttafaq 'alaih: 
"Jika seorang imam telah mengucapkan, 'Amin', maka ucapkanlah, 'Amin'."

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri mengucapkan amin ketika beliau selesai membaca ghairil maghdhuubi'alaihim waladhdhaalliin.

Para sahabat kami telah berbeda pendapat mengenai jahr (suara keras) bagi makmum dalam mengucapkan amin dalam shalat jahrnya. Kesimpulan dari perbedaan pendapat itu, bahwa jika seorang imam lupa mengucapkan amin, maka makmum harus serempak mengucapkannya dengan suara keras. Dan jika sang imam telah mengucapkannya dengan suara keras, (menurut) pendapat yang baru menyatakan bahwa para makmum tidak mengucapkannya dengan suara keras.

(Pendapat) yang terakhir ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah dan sebuah riwayat dari Imam Malik, karena amin itu merupakan salah satu bentuk zikir sehingga tidak perlu dikeraskan sebagaimana halnya zikir-zikir shalat lainnya. Sedangkan pendapat yang lama menyatakan bahwa para makmum juga perlu mengucapkannya dengan suara keras. Hal itu merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan sebuah riwayat yang lain dari Imam Malik seperti yang telah disebutkan di atas. Berdasarkan hadits: 
"Sehingga masjid bergetar (karenanya)."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
____________________

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6: Ihdinashshirathal mustaqim (Ibnu Katsir)

thumbnail


Tulisan ini membahas tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fatihah ayat 6 yang berbunyi: "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Imam Ibnu Katsir dalam membahas surat al-Fatihah ayat 6 menyebutkan, yang paling sempurna bagi seseorang yang ingin mengajukan permintaan adalah dengan memuji Rabb-nya terlebih dahulu, Rabb yang hanya kepada-Nya semua permintaan diajukan. Setelahnya, baru kemudian diikuti dengan menyampaikan apa-apa yang menjadi keperluannya.

Karena sesuai dengan firmannya, yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 6 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i).



"Tujukilah kami jalan yang lurus." (QS. 1: 6)

Jumhur ulama membacanya dengan memakai huruf "ص". Ada pula yang membaca dengan huruf “ز" (azzirath). Al-Farra' mengatakan, "Ini merupakan bahasa Bani Udzrah dan Bani Kalb."

Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya, "Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama ia memuji Rabb yang akan ia minta dan kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya, "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Karena yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan. Untuk itu Allah Tabaraka wa Ta'ala membimbing kita agar senantiasa melakukannya, sebab yang demikian itu yang lebih sempurna.

Permohonan juga dapat diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihis salam:  

"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24).

Permintaan itu bisa di dahului dengan menyebutkan sifat-sifat siapa yang akan dimintai, seperti ucapan Dzun Nun (Nabi Yunus ‘alaihis salam):


"Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87).

Tetapi terkadang hanya dengan memuji kepada-Nya, ketika meminta, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:


Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malumu
Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaanmu
Jika suatu hari seseorang memberikan pujian kepadamu, niscaya engkau akan memberinya kecukupan

Kata hidayah pada ayat ini berarti bimbingan dan taufik. Terkadang kata hidayah (muta addi/transitif) dengan sendirinya (tanpa huruf lain yang berfungsi sebagai pelengkapnya), seperti pada firman-Nya di sini, "Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus." Dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizki kepada kami, atau berikanlah anugerah kepada kami.

Sebagaiamana yang ada pada firman-Nya:
 
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad: 10). Artinya, kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Selain itu, dapat juga menjadi muta addi' (transitif) dengan memakai kata "ila", sebagaimana firman-Nya:
 
"Allah telah memilihnya dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 121).

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas ialah dengan pengertian bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: 
"Dan sesungguhnya engkau (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura': 52).

Terkadang ia (kata hidayah) menjadi muta addi dengan memakai kata "li" sebagaimana yang diucapkan oleh para penghuni surga:

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini." (QS. Al-A'raf: 43), Artinya, Allah memberikan taufik kepada kami untuk memperoleh surga ini dan Dia jadikan kami sebagai penghuninya.

Sedangkan mengenai firman-Nya, "Syirathal mustaqim", Imam Abu Ja'far bin Jarir mengatakan, ahlut tafsir secara keseluruhan sepakat bahwa ash-shirathal mustaqim itu adalah jalan yang terang dan lurus.

Kemudian terjadi perbedaan ungkapan para mufassir, baik dari kalangan ulama salaf maupun khalaf dalam menafsirkan kata ash-shirath, meskipun pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Jika ditanyakan, mengapa seorang mukmin meminta hidayah pada setiap saat, baik pada waktu mengerjakan shalat maupun di luar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk tahshilul bashil (berusaha memperoleh sesuatu yang sudah ada)?

Jawabnya adalah tidak. Kalau bukan karena dia perlu memohon hidayah siang dan malam hari, niscaya Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membimbing ke arah itu. Sebab, seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah setiap saat dan situasi agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan, dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasa memberikan manfaat atau mudharat kepada dirinya sendiri kecuali Allah menghendaki.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala selalu membimbingnya agar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikan pertolongan, keteguhan, dan taufik.

Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon kepada-Nya. Sebab, Allah telah menjamin akan mengabulkan permohonan seseorang jika ia memohon kepada-Nya, apalagi permohonan orang yang dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya, pada tengah malam dan siang hari. Firman Allah Subhanahu wata’ala:


"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS. An-Nisa': 136).

Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tetap beriman. Dan hal itu bukan termasuk tahshilul hashil, karena maksudnya adalah ketetapan, kelangsungan, dan kesinambungan amal yang dapat membantu kepada hal tersebut.

Allah Subhanahu wata’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan (doa):


"Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8).

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu pernah membaca ayat ini dalam rekaat ketiga pada salat Maghrib secara sirri (tidak keras) setelah selesai membaca Al-Fatihah.

Dengan demikian, makna firman-Nya, "Ihdinashshirathal mustaqim" adalah "Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus itu dan jangan Engkau simpangkan ke jalan yang lainnya."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________


Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Ibnu Katsir)

thumbnail



Berikut ini adalah tafsir Surat Al-Fatihah ayat 5 yang berbunyi :  Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan).

Dalam menjelaskan keutamaan ayat ini, Imam Ibnu Katsir dengan mengutif perkataan beberapa ulama salaf menyebutkan, surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia dari surat Al-Fatihah itu sendiri terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in.

Dengan mengamalkan makna ayat: "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu," menurut Imam Ibnu Katsir ini adalah puncak dari kesempurnaan ketaatan. Dan agama Islam itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna tersebut.

Adapun didahulukannya Iyya kana'budu (hanya kepada-Mu kami beribadah) sebelum wa iyya kanasta'in (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), tidak lain karena ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala adalah merupakan tujuan utama. Sedangkan permohonan pertolongan esensinya hanyalah sarana agar seorang hamba dapat beribadah kepada Rabb-nya.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 5 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i). 



Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Para ahli qira'at sab'ah dan jumhurul ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf ‘ya' pada kata ‘iyyaka’. Sedangkan kata ‘nasta’iin’ dibaca dengan memfathahkan huruf nun yang pertama.

Menurut bahasa, kata ibadah berarti tunduk patuh. Sedangkan menurut syariat, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan, dan ketakutan.

Didahulukannya maf'ul (objek), yaitu kata iyyaka, dan (setelah itu) diulangi lagi, adalah dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dan juga sebagai pembatasan.

Artinya, "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu." Dan inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan dien (agama) itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna di atas.

Yang demikian itu seperti kata sebagian ulama salaf, bahwa surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia Al-Fatihah terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.”

Penggalan pertama, yakni "Hanya kepada-Mu kami beribadah" merupakan pernyataan lepas dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yaitu, "Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekutan serta berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Makna seperti ini tidk hanya terdapat dalam satu ayat Alquran saja, seperti firman-Nya:


"Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud: 123).

Dalam ayat tersebut (Al-Fatihah: 5) terjadi perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhathab (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf kaf pada kata iyyaka. Yang demikian itu memang selaras karena ketika seorang hamba memuji kepada Allah, maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir di hadapan-Nya. oleh karena itu, Dia berfirman, "Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in."
Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pada awal-awal surat Al-Fatihah merupakan pemberitahuan dari Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.

Dalam shahih Muslim, diriwayatkan dari al-'Ala' bn Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan, "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam", maka Allah berfirman, "Hambaku telah memuji-Ku". Dan jika ia mengucapkan: “Mahapemurah lagi Mahapenyayang,” maka Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika ia mengucapkan, “Yang menguasai hari pembalasan,” maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memulikan-Ku'. Jika ia mengucapkan, “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,” maka Allah berfirman, 'Inilah bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta'. Dan jika ia mengucapkan,'"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau enugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nashrani)', maka Allah berfirman, "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang ia minta'."

Iyya kana'budu didahulukan dari wa iyya kanasta'in, karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan merupakan sarana untuk beribadah. Yang terpenting lebih didahulukan dari yang sekedar penting. Wallahu a'lam.
Jika ditanyakan, “lalu apa makna huruf nun pada firman Allah Subhanahu wata’ala: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in." Jika nun itu dimaksudkan sebagai bentuk jama', padahal orang yang mengucapkan hanya satu orang, dan jika untuk pengagungan, maka yang demikian itu tidak sesuai dengan kondisi?

Pertanyaan di atas dapat dijawab, bahwa yang dimaksudkan dengan huruf nun (kami) itu adalah, untuk memberitahukan mengenai jenis hamba, dan orang yang shalat merupakan salah satu darinya, apalagi jika orang-orang melakukannya secara berjamaah. Atau, imam dalam salat memberitahukan tentang dirinya sendiri dan juga saudara-saudaranya yang beriman tentang ibadah, yang untuk tujuan inilah mereka diciptakan.

Ibadah merupakan maqam (kedudukan) yang sangat agung, yang dengannya seorang hamba menjadi mulia, karena kecondongannya kepada Allah Ta'ala saja, dan Dia telah menyebut Rasul-Nya sebagai hamba-Nya yang menempati maqam yang paling mulia. Firman Allah:



"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-isra': 1).

Allah telah menyebutkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang hamba ketika menurunkan Alquran kepadanya, ketika beliau menjalankan dakwahnya dan ketika diperjalankan pada malam hari. Dan Dia membimbingnya untuk senantiasa menjalankan ibadah pada saat-saat hatinya merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya, Dia berfirman:


"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 97-99).



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________