38 Doa Para Nabi dan Hamba-Hamba Pilihan Langsung dari Al Qur’anul Karim

thumbnail


Doa-doa berikut ini adalah doa-doa yang masyhur karena dinukil langsung di dalam Al Quranul Karim. Yakni doa-doa dari hamba-hamba Allah yang terpilih: para Nabi, para Rasul, serta umat-umat terdahulu yang beriman, yang Allah subhanahu wata’ala ridho kepada do’a mereka.


1. Doa mohon tidak dihukum atas kehilapan dan kesalahan, tidak dibebankan beban yang berat (yang tidak sanggup untuk memikulnya); serta memohon diberi maaf, ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah. 


رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaa laa tuakhidznaa inna siinaa aw akhtho’naa, Robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishrong kamaa hamaltahu ‘alalladzina mingqoblinaa, Robbana wa laa tuhammilnaa maa laa thoo qotalanaabih, wa’fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa, anta maw laa naa fanshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Baqarah: 286).

Doa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala terkhusus kepada orang-orang yang beriman dari umat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

2. Doa mohon ampunan dan rahmat Allah

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ



Robbanaa aamanna faghfirlanaa warhamnaa wa anta khoirur roohimiin

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS. Al Mu’minun: 109).

Doa dari segolongan hamba-hamba Allah yang beriman.

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ


Robbighfir, warham, wa anta khoirur roohimiin

“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS. Al Mu’minun: 118).

Doa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada kekasihnya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaghfirlanaa dzunuu banaa wa isroo fanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaa manaa wansurnaa ‘alal qoumil kafiriin.

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Imran: 147).

Doa para Nabi dan pengikutnya yang bertaqwa.

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa innanaa aamanna faghfirlanaa dzunubana wakinaa ‘adzabannaar.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Imran: 16).

Doa dari hamba-hamba Allah yang bertaqwa, yakni orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang tetap taat, orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan-jalan ketaatan, dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Robbanaa innanaa sami’naa munaa diyan yunaadii lil iimaani an aaminuu birobbikum fa aamannaa. Robbanaa faghfirlanaa dzunuu banaa wa kaffir ‘anna sayyiaatinaa watawaffanaa ma’al abroor. Robbanaa wa aatina ma wa’attanaa ‘ala rusulika walaa tukhzinaa yawmal qiyaamah. Innaka la tukhliful mii’ad.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 193-194).

Doa dari hamba-hamba yang beraqal, yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Robbii innii zholamtu nafsii faghfirlii faghofaro lahu. Innahu huwal ghofurur rohiim

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. (QS. Al Qashash: 16).

Berasal dari doa nabi Musa ‘alaihis salam.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


Robbanaa zholamnaa amfusinaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuu nanna minal khosiriin.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 23).

Berasal dari doa Nabi Adam ‘alaihis salam dan istrinya Siti Hawa.

3. Doa berlindung kepada Allah dari memohon sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.



رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Robbana inni a’udzu bika an as aluka ma laisa lii bihi ‘ilmun wa illa taghfirlii wa tarhamnii akun minal khosiriin.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Huud: 47).

Berasal dari doa Nabi Nuh ‘Alaihis salam.

4. Doa agar tergolong orang-orang yang shaleh

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

Robbi hablii hukman wa alhiqnii bishshoolihiin. Wa aj’al lii lisaana shiddiqin fil aakhiriin. Waj’alnii min warotsati jannatin na’iim.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy Syu’ara: 83-85).

رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Robbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syahidiin

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)” (QS. Al Maidah: 83).

5. Doa meminta diberi istri dan anak yang menentramkan dan membahagiakan hati

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Robbanaa hablanaa min azwaa jinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaaman.

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

6. Doa agar diberikan keturunan yang shalih

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Robbanaa laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al Anbiya: 89).

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Robbi hablii minash shoolihiin.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100).

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Robbi hablii min ladungka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii’ud du’a’.

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Al Imran: 38).

7. Doa mohon ampunan bagi diri, kedua orang tua, dan kaum mukminin

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Robbanaagh firlii wali walidayya walil mukminiina yawma yaqumul hisaab.

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Robbanaagh firlanaa wa li ikhwaninalladziina sabaquunaa bil iimaan. Wa laa taj’al fii qulubinaa ghillan lil ladziina aamanuu, Robbanaa innaka ro’uufurrohiim.

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

Robbighfirlii wa li walidayya wa li man dakhola baitiya mu’minan walil mu’mininaa wal mu’minaati, wa la tazididz dzolimiina illa tabaaron.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh: 28).

8. Doa berlindung dan dijauhkan dari orang yang zhalim

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Robbi najjinii minal qowmidz dzolimiin.

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim” (QS. Al Qashash: 21).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Robbanaa laa taj’alnaa ma’al qoumidz dzoolimiin

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim” (QS. Al A’raf: 47).

رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Robbin shurnii ‘alal qoumil mufsidiin

“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan” (QS. Al Ankabut: 30).

9. Doa mohon ketetapan bagi diri dan keluarga dalam mendirikan shalat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Robbij ‘alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyyatii. Robbanaa wa taqobbal du’a’.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

10. Doa agar ditambahkan ilmu

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Robbi zidnii ‘ilman.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (QS. Thaha: 114).

11. Doa agar dilapangkan hati, dimudahkan urusan, dan dilancarkan lisan

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Robbisy rohlii shodrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaanii yafqohuu qowlii.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha: 25-28).

12. Doa memohon diberi petunjuk yang lurus dalam urusan

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Robbanaa aatinaa min ladunka rohmah wa hayyi’ lanaa min amrinaa rosyadaa.

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al Kahfi: 10).

13. Doa agar bisa bertawakkal hanya kepada Allah

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Robbanaa ‘alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir.

“Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS. Al Mumtahanah: 4).

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Hasbiyalloohu laa ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul ‘arsyil ‘adziim.

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At Taubah: 129).

14. Doa agar disempurnakan cahayanya

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfirlanaa innaka ‘ala kulli syai’in qodiir.

“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. At Tahrim: 8).

15. Doa agar dijadikan hamba yang bersyukur dan mengerjakan amal saleh

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Robbi awzi’nii an asykuro ni’matika allatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adhilnii birohmatika fii ‘ibadikash shoolihiin.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. An Naml: 19).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Robbanaa aw zi’nii an asykuro ni’matika allatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhoohu wa ashlihlii fii dzurriyyatii inni tubtu ilayka wa innii minal muslimiin.

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Ahqaf: 15).

16. Doa berlindung dari saytan

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Robbi a’uudzubika minal hamazaatisy syayaatiini wa a’uudzubika robbi an yahshuruuni.

“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku” (QS. Al Mu’minun: 97-98).

17. Doa agar hati ditetapkan dalam hidayah dan dikaruniai rahmat Allah

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Robbanaa laa tuzi’ quluubanaa ba’da idzhadaitanaa wa hablanaa min ladunka rohmah, innaka antal wahhab.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Al Imran: 8).

18. Doa agar diterima amal ibadah dan taubat

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Robbanaa taqobbal minnaa, innaka anta samii’ul ‘aliim. …watub ‘alainaa innaka antat tawwaburrohiim.

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 127 dan 128).

19. Doa berlindung dari sasaran fitnah orang-orang kafir

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Robbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilladziina kafaruu waghfirlanaa robbanaa innaka antal ‘aziizul hakiim.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Mumtahanah: 5).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaa laa taj’alnaa fitnatal lil qoumidz dzolimiin wa najjina bi rohmatika minal qoumil kaafiriin.

“Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir” (QS. Yunus: 85-86).


20. Doa meminta keamanan negeri dan berlindung dari syirik

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Robbij ‘al hadzaal balada aaminan wajnubnii wa baniyya an na’budal ashnaama

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS. Ibrahim: 35).

21. Doa berlindung dari api neraka

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Robbanaa ashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannam. Inna ‘adzaabahaa kaana ghoroman, innahaa saa at mustaqorron wa muqooman.

“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al Furqan: 65-66).

22. Doa memohon kebaikan dunia dan akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah wa qinaa ‘adzabannaar.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 201). 
____________________

Daftar Isi Kitab Shalat: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Muslim

thumbnail


Tulisan “Daftar Isi Kitab Shalat: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Muslim” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Muslim. Sebagai tuntunan dalam melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shalat” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Muslim. Kitab ini berisi 52 Bab dan 240 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 568 sampai dengan nomor 807.

Pada versi download Shahih Muslim (format PDF ukuran kecil) yang terdapat dalam blog ini, Kitab: Shalat berada pada bagian Shahih Muslim-2 (halaman 121-199) dan bersambung hingga Shahih Muslim-3 (halaman 1 – 32).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shalat.”

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Muslim Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Perintah untuk para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.713-723/hal.195). Artinya, hadits yang memerintahkan “para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan” dimuat dalam Shahih Muslim-2 hadits nomor 713-723 dimulai dari halaman 195.




Berikut ini daftar isi “Kitab: Shalat” Shahih Muslim selengkapnya:

  • Bab: Memulai adzan (2/no.568/hal.121)
  • Bab: Perintah untuk menggenapkan dalam adzan dan mengganjilkan dalam iqamah (2/no.569-571/hal.121)
  • Bab: Sifat adzan (2/no.572/hal.122)
  • Bab: Disunahkan untuk memperkerjakan beberapa muadzin dalam satu masjid (2/no.573/hal.123)
  • Bab: Bolehnya orang buta melakukan adzan jika ada yang memberitahukan akan waktunya (2/no.574/hal.123)
  • Bab: Menahan diri dari melakukan penyergapan di wilayah kaum kafir jika terdengar suara adzan dari mereka (2/no.575/hal.124)
  • Bab: Sunahnya mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin bagi yang mendengarnya (2/no.576-579/hal.124)
  • Bab: Keutamaan adzan dan terbirit-biritnya setan saat mendengarnya (2/no.580-585/hal.126)
  • Bab: Sunahnya mengangkat kedua tangan sebatas kedua pundak saat takbiratul ikram (2/no.586-589/hal.129)
  • Bab: Penetapan adanya takbir setiap akan turun dan naik dalam shalat, kecuali (2/no.590-594/hal.131)
  • Bab: Wajibnya membaca al Fatihah pada setiap rakaat (2/no.595-602/hal.133)
  • Bab: Larangan bagi makmum untuk mengeraskan suara di belakang imam (2/no.603-604/hal.138)
  • Bab: Hujah bagi pendapat yang mengatakan "Basmalah tidak dikeraskan" (2/no.605-606/hal.139)
  • Bab: Hujah bagi pendapat yang mengatakan "Basmalah adalah ayat untuk awal setiap surat selain surat al Bara`ah" (2/no.607/hal.140)
  • Bab: Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram (2/608/141)
  • Bab: Tasyahud dalam shalat (2/609-612/142)
  • Bab: Shalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam setelah tasyahud (2/no.613-616/hal.146)
  • Bab: Mendengar, mengucapkan hamdalah dan amin (2/no.617-621/hal.149)
  • Bab: Makmum mengikuti imam (2/no.622-625/hal.151)
  • Bab: Larangan bagi imam dari bersegera melakukan takbir dan selainnya (2/no.626-628/hal.154)
  • Bab: Imam mencari pengganti jika ada udzur seperti sakit, safar dan selainnya (2/no.629-638/hal.155)
  • Bab: Segera melaksanakan shalat jamaah jika imam terlambat, dan tidak khawatir (2/no.639-640/hal.163)
  • Bab: Laki-laki membaca tasbih dan perempuan menepuk tangan jika ingin mengingatkan sesuatu dalam shalat (2/no.641/hal.166)
  • Bab: Perintah untuk membaguskan shalat, menyempurnakan dan khusyu' (2/no.642-645/hal.167)
  • Bab: Haramnya mendahului Imam saat rukuk, sujud dan selainnya (2/no.646-648/hal.168)
  • Bab: Larangan mengangkat pandangan ke langit dalam shalat (2/no.649-650/hal.170)
  • Bab: Perintah untuk tenang dalam shalat dan larangan dari berisyarat dan mengangkat tangan (2/no.651-653/hal.170)
  • Bab: Meluruskan barisan dan keutamaan shaff pertama (2/no.654-664/hal.172)
  • Bab: Perintah untuk wanita yang shalat di belakang kaum laki-laki untuk mengangkat kepala (2/no.665/hal.176)
  • Bab: Keluarnya wanita ke masjid jika tidak ada fitnah (2/no.666-676/hal.176)
  • Bab: Sedang dalam memperpanjang bacaan dalam shalat yang bacaannya dikeraskan atau yang tidak (2/no.677-678/hal.180)
  • Bab: Mendengar bacaan (2/no.679-680/hal.181)
  • Bab: Mengeraskan bacaan dalam shalat subuh dan membaca untuk jin (2/no.681-684/hal.183)
  • Bab: Bacaan dalam shalat zhuhur dan asar (2/no.685-692/hal.185)
  • Bab: Bacaan dalam shalat subuh (2/no.693-705/hal.189)
  • Bab: Bacaan dalam shalat isya (2/no.706-712/hal.193)
  • Bab: Perintah untuk para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.713-723/hal.195)
  • Bab: Seimbang dalam rukun-rukun shalat dan meringankannya dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.724-727/hal.199)
  • Bab: Mengikuti Imam dan melakukannya setelahnya (3/no.728-732/hal.1)
  • Bab: Apa yang dibaca saat mengangkat kepala dari rukuk (3/no.733-737/hal.3)
  • Bab: Larangan membaca Al-Qur'an dalam rukuk dan sujud (3/no.738-743/hal.6)
  • Bab: Apa yang dibaca saat rukuk dan sujud (3/no.744-752/hal.9)
  • Bab: Keutamaan sujud dan anjuran untuk melakukannya (3/no.753-754/hal.13)
  • Bab: Anggota sujud dan larangan dari menahan rambut, pakaian dan mengikat rambut (3/no.755-761/hal.14)
  • Bab: Seimbang dalam sujud, meletakkan kedua tangan di atas tanah dan mengangkat kedua siku (3/no.762-763/hal.16)
  • Bab: Himpunan sifat shalat, pembukaan, penutupan, dan rukuk (3/no.764-768/hal.17)
  • Bab: Sutrah dalam shalat (3/no.769-781/hal.19)
  • Bab: Melarang orang yang melintas di depan orang yang sedang shalat (3/no.782-785/hal.24)
  • Bab: Mendekatnya orang yang shalat kepada sutrah (3/no.786-788/hal.27)
  • Bab: Kadar yang bisa menjadi sutrah (3/no.789-790/hal.27)
  • Bab: Berbaring melintang di hadapan orang yang sedang shalat (3/no.791-798/hal.29)
  • Bab: Shalat dengan mengenakan satu kain dan cara mengenakannya (3/no.799-807/hal.32)
____________________


Hadits tentang Sunnahnya Menjilat Jari dari Sisa Makanan setelah Selesai Makan

thumbnail

Hadits-hadits berikut ini adalah tentang salah satu adab makan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan disunnahkannya menjilat jari dari sisa makanan seusai makan sebelum mencucinya.

Dalam salah satu hadits, Rasulullah mengatakan, "Sesungguhnya setan akan mendatangi salah seorang diantara kalian setiap saat, hingga dalam masalah makan. Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan, apabila telah selesai hendaklah dia jilati jari-jemarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah."

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul “Bab: Sunahnya menjilat jari dan piring.” 


Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, 'Amru An Naqid, Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu 'Umar, Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lain berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari 'Atha dari Ibnu Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang diantara kalian makan, maka janganlah dia mengusap tangannya hingga menjilatinya dahulu atau dijilati." (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3787) 






Telah menceritakan kepadaku Harun bin 'Abdullah; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepada kami 'Abdu bin Humaid; Telah menceritakan kepadaku Abu 'Ashim -seluruhnya- dari Ibnu Juraij; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain, dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Rauh bin 'Ubadah; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; Aku mendengar `Atha berkata; Aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah dia mengusap tangannya hingga menjilatinya dahulu atau dijilati." (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3788) 



Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Hatim mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Sufyan dari Sa'd bin Ibrahim dari Ibnu Ka'b bin Malik dari Bapaknya ia berkata; "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjilati ketiga jarinya dari sisa makanan." Namun Ibnu Hatim tidak menyebutkan 'ketiga'. Dan Ibnu Syaibah berkata dalam meriwayatkannya; dari Abdurrahman bin Ka'ab dari Bapaknya. (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3789) 

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Hisyam bin 'Urwah dari 'Abdurrahman bin Sa'd dari Ibnu Ka'b bin Malik dari Bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan dengan tiga jari, dan beliau menjilatinya sebelum mencuci tangannya. (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3790) 



Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair; Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari 'Abdurrahman bin Sa'd bahwa Abdurrahman bin Ka'b bin Malik atau 'Abdullah bin Ka'ab Telah mengabarkan kepadanya dari Bapaknya yaitu Ka'b; dia telah menceritakan kepada mereka, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan dengan tiga jari. Apabila telah selesai makan, beliau menjilatinya. Dan Telah menceritakannya pula kepada kami Abu Kuraib Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari 'Abdurrahman bin Sa'd bahwa 'Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik dan 'Abdullah bin Ka'ab; Telah menceritakan kepadanya -- atau salah seorang dari mereka -- dari Bapaknya yaitu Ka'ab bin Malik, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam -- dengan Hadits yang serupa. (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3791) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Abu Az Zubair dari Jabir, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh menjilati jari jemari tangan dan piring. Beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dimana letak barakahnya." (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3792) 


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan, dan janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah." Dan telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami Abu Dawud Al Hafari; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Rafi'; Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razaq keduanya dari Sufyan dengan sanad ini. Di dalam Hadits keduanya di sebutkan; 'Dan janganlah dia meyapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya atau di jilati.' (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3793) 


Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya setan akan mendatangi salah seorang diantara kalian setiap saat, hingga dalam masalah makan. Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan, apabila telah selesai hendaklah dia jilati jari-jemarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah." 
Telah menceritakannya pula kepada kami Abu Kuraib dan Ishaq bin Ibrahim -secara keseluruhan- dari Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dengan sanad ini, namun mereka tidak menyebutkan redaksi awal Hadits yang berbunyi; 'Sesungguhnya setan akan mendatangi salah seorang diantara kalian…" dst. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Al 'Amasy dari Abu Shalih dan Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam-mengenai menjilati jari. Dan dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi dengan menyebutkan -suapan- sebagaimana Hadist di atas. (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3794) 


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim dan Abu Bakr bin Nafi' Al 'Abdi mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Bahz; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah; Telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila selesai makan, dia menjilati ke tiga jari tangannya. Anas berkata; Beliau bersabda: 'Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan." Dan beliau menyuruh kami untuk menjilati piring. Beliau bersabda: 'Karena kalian tidak tahu makanan mana yang membawa berkah." (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3795) 


Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim; Telah menceritakan kepada kami Bahz; Telah menceritakan kepada kami Wuhaib; Telah menceritakan kepada kami Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Jika salah seorang diantara kalian selesai makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, karena dia tidak tahu ada dimana berkahnya."
Dan telah menceritakannya kepada kami Abu Bakr bin Nafi'; Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman yaitu Ibnu Mahdi ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad dengan sanad ini, hanya saja dia berkata dengan lafazh; 'Dan hendaklah salah seorang di antara kalian menjilati piring. Juga sabda beliau: 'Kalian tidak tahu mana makanan yang ada berkahnya. (Shahih Muslim – Hadits Nomor: 3796)
_________________________

Hadits tentang Wajibnya Mentaati Pemimpin Selama Bukan dalam Kemaksiatan

thumbnail

Hadits-hadits berikut ini adalah tentang wajibnya mentaati pemimpin dalam Islam selama bukan dalam kemaksiatan.

Rasulullah mengatakan, siapa yang mentaati pemimpin, maka sungguh ia telah mentaatiku. Dan siapa yang mentaatiku, maka ia telah mentaati Allah.

Begitu pula, siapa yang bermaksiat kepada pemimpin, maka ia telah bermaksiat kepada Rasul. Dan siapa yang bermaksiat kepada Rasulullah, maka ia telah bermaksiat kepada Allah.

Namun juga ditegaskan, bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah dalam rangka kebajikan. Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan dan kemungkaran. Dan “kewajiban” taat menjadi gugur ketika pemimpin nyata-nyata melakukan kekufuran yang jelas kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul “Bab: Wajibnya taat kepada pemimpin selama bukan dalam kemaksiatan.”


Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Harun bin Abdullah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhahammad dia berkata; Ibnu Juraij berkata (Ayat): '(Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu ...) ' (Qs. An Nisaa': 59), turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin 'Adiy As Sahmiy, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutusnya dalam sebuah ekspedisi militer." Ya'la bin Muslim memberitahukan hadits ini kepadaku, dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas.” (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3416)




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Al Mughirah bin Abdurrahman Al Hizami dari Abu Az Zannad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, dan siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku." 

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Uyainah dari Abu Az Zinad dengan isnad ini, namun dia tidak menyebutkan, 'Barangsiapa bermaksiat kepada seorang pemimpin'." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3417)


Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadanya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

"Barangsiapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barangsiapa mentaati pemimpinku sungguh dia telah mentaatiku, barangsiapa bermaksiat kepada pemimpinku maka dia telah bermaksiat kepadaku." 

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ziyad dari Ibnu Syihab bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas." Dan telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Ya'la bin 'Atha' dari Abu 'Alqamah dia berkata, telah menceritakan kepadaku, dari mulutnya ke mulutku (secara lisan), dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam..." (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami ayahku. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atha bahwa dia pernah mendengar Abu 'Alqamah mendengar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits mereka." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami Abdur Razaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits mereka." Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dari Haiwah bahwa Abu Yunus budak Abu Hurairah, telah bercerita kepadanya, dia berkata; saya pernah mendengar Abu Hurairah berkata, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti itu. Beliau bersabda: 'Barangsiapa mentaati seorang pemimpin...', tidak mengatakan, 'Barangsiapa mentaati kepemimpinanku'. begitu juga dalam hadits riwayat Hammam dari Abu Hurairah." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3418)
Dan telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur dan Qutaibah bin Sa'id keduanya dari Ya'qub, Sa'id mengatakan; telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari Abu Hazim dari Abu Shalih As Samman dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam perkara yang disukai dan dibenci dan biarpun merugikan kepentinganmu." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3419).
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abdullah bin Barrad Al Asy'ari dan Abu Kuraib mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari Syu'bah dari Abu Imran dari Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar dia berkata, "Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah) berwasiat kepadaku untuk selalu mendengar dan taat walaupun terhadap budak yang pesek hidungnya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami An Nadlr bin Syumail mereka semua dari Syu'bah dari Abu 'Imran dengan isnad ini, dan dia menyebutkan dalam haditsnya, "Seorang budak Habsyi yang berhidung pesek." Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu 'Imran dengan isnad ini, sebagaimana perkataan Ibnu Idris, yaitu, "Seorang budak yang berhidung pesek." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3420)

Kepemimpinan yang Ditegakkan di Atas Kitabullah


 
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Yahya bin Hushain dia berkata, saya mendengar nenekku menceritakan bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah ketika haji wada', beliau bersabda:

"Seandainya kalian dipimpin oleh seorang budak yang memimpinmu dengan kitabullah, maka dengarkanlah dan ta'atilah dia." 

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dan Abdurrahman bin Mahdi dari Syu'bah dengan isnad seperti ini, dan beliau bersabda: "Seorang budak Habsyi." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' bin Jarrah dari Syu'bah dengan isnad ini, namun dia tidak menyebutkan, "Seorang budak Habsyi yang berhidung pesek." Dan telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu'bah dengan sanad ini, namun tidak menyebutkan: "...Orang Habsyi yang berhidung pesek." dia menambahkan, bahwa neneknya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika di Mina atau di 'Arafah.” (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3421)

 
Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A'yan yta Ma'qil dari Zaid bin Abi Unaisah dari Yahya bin Hushain dari neneknya Ummu Al Hushain dia (Yahya bin Hushain) berkata, "Saya mendengarnya (nenek) berkata, "Saya pernah melaksanakan haji Wada' bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Ummu Hushain berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat dengan wasiat yang banyak sekali, kemudian saya mendengar beliau bersabda: "Seandainya kalian dipimpin oleh seorang hamba (budak) yang pesek -- namun saya mengira dia (nenek) berkata; hitam -- dengan kitabullah, maka dengarkan dan taatilah dia." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3422) 

Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan kepada Allah


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: 

"Wajib setiap orang untuk mendengar dan taat, baik terhadap sesuatu yang dia suka atau benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat." 

Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya -- yaitu Al Qatthan --. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami ayahku keduanya dari 'Ubaidullah dengan isnad seperti ini." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3423)


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyar sedangkan lafadznya dari Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Zubaid dari Sa'd bin 'Ubaidah dari Abu Abdurrahman dari Ali, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim suatu pasukan dan mengangkat seorang laki-laki menjadi komandannya. Kemudian ia menyalakan api (unggun) seraya berkata, "Masuklah kalian ke dalam api tersebut." Maka sebagian anak buahnya hendak masuk ke dalam api tersebut, sedangkan sebagian anak buahnya yang lain mengatakan, "Kita harus menjauhi api tersebut." Kemudian peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lantas beliau bersabda kepada orang-orang yang hendak melompat ke dalam api tersebut: "Sekiranya kalian masuk ke dalam api tersebut, maka kalian akan senantiasa di dalamnya hingga hari Kiamat." Kemudian beliau berkata pula kepada yang lain dengan lemah lembut, sabdanya:

"Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, hanyasanya ketaatan itu di dalam kebajikan." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3424)


Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Zuhair bin Harb dan Abu Sa'id Al Asyaj sedangkan lafadznya saling berdekatan, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'd bin ‘Ubaidah dari Abu Abdurrahman dari 'Ali dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus suatu ekspedisi dan mengangkat seorang laki-laki dari Anshar sebagai pemimpinnya, mereka diperintahkan untuk taat dan mendengar kepadanya, suatu ketikan pemimpinnya marah terhadap anak buahnya karena suatu perkara, dia berkata, "Kumpulkanlah kayu bakar." Setelah kayu bakar terkumpul dia berkata, "Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kalian untuk mendengarkanku dan mentaatiku?" mereka menjawab, "Ya." Dia berkata, "Oleh karena itu, masuklah kalian ke dalam api tersebut." Ali berkata, "Lalu sebagian yang lain saling memandang kepada yang lainnya, sambil berkata, "Kita harus lari kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari api tersebut." Anak buahnya masih saja (dalam kebimbangan) seperti itu, hingga kemarahannya mereda dan api dimatikan. Ketika mereka kembali, mereka memberitahukan peristiwa itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Sekiranya kalian masuk ke dalamnya, niscaya kalian tidak akan dapat keluar dari api tersebut, ketaatan itu hanya dalam kebajikan." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dengan isnad seperti ini.” (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3425)

Taat dalam Suka Maupun Tidak Suka, Menguntungkan Maupun Tidak 



Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Yahya bin Sa'id dan Ubaidullah bin Umar dari 'Ubadah bin Walid bin 'Ubadah dari ayahnya dari kakeknya dia berkata,

"Kami pernah membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat atau terpaksa dan lebih mementingkan kepentingannya dari pada diri sendiri, tidak menentang pemerintahan yang berwenang dan untuk mengatakan kebenaran di mana saja kami berada, serta tidak takut (dalam menegakkan kalimat) Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela." 

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abdullah -- yaitu Ibnu Idris -- telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ajlan dan 'Ubaidullah bin Umar dan Yahya bin Sa'id dari 'Ubadah bin Walid dengan isnad seperti ini." Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -- yaitu Ad Darawardi -- dari Yazid yaitu -- Ibnu Abdul Hadi -- dari 'Ubadah bin Walid bin 'Ubadah bin Shamit dari ayahnya telah menceritakan kepadaku ayahku dia berkata, "Kami pernah berbai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti haditsnya Ibnu Idris." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3426)


Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb bin Muslim telah menceritakan kepada kami pamanku Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepada kami Amru bin Al Harits telah menceritakan kepadaku Bukair dari Busr bin Sa'id dari Junadah bin Abu Umayyah dia berkata, "Kami pernah menjenguk 'Ubadah bin Shamit yang sedang sakit, kami lalu berkata, "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Dia menjawab,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memanggil kami, lantas kami membai'at beliau. Dan di antara yang kami ambil janji adalah, berbai'at untuk selalu taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau terpaksa, mementingkan kepentingannya dari pada kepentingan diri sendiri, dan tidak memberontak pemerintahan yang berwenang." Beliau bersabda: "Kecuali jika kalian melihat ia telah melakukan kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki hujjah di sisi Allah." (Shahih Muslim - Hadits Nomor: 3427)



_______________________
 

Daftar Isi Kitab Shalat: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari

thumbnail

Tulisan “Daftar Isi Kitab Shalat” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Sebagai tuntunan dalam melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shalat” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Bukhari Jilid-I. Kitab ini berisi 105 Bab dan 155 nomor hadits. Dimulai dari halaman 157 sampai dengan halaman 223. Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan mengenai “Shalat.”

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya : Download Kitab Hadits Shahih Bukhori Teks Arab Terjemahan Indonesia Format PDF. Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor jilid/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Jika seorang dari kalian memasuki masjid hendaklah shalat dua rakaat sebelum dia duduk (425/194). Artinya, hadits yang memerintahkan “Jika seorang dari kalian memasuki masjid hendaklah shalat dua rakaat sebelum dia duduk,” dimuat dalam Jilid I Shahih Bukhari hadits nomor 425 halaman 194.


Berikut ini daftar isi “Kitab: Shalat” Shahih Bukhari selengkapnya:



  • Bab: Bagaimana shalat diwajibkan pada malam Isra' (I/no.336-337/hal.157)
  • Bab: Wajibnya melaksanakan shalat dengan menggunakan pakaian (I/no.338/hal.159)
  • Bab: Mengikatkan pakaian di tengkuk ketika shalat (I/no.339-340/hal.160)
  • Bab: Shalat dengan menggunakan sehelai pakaian (I/no.341-345/hal.160)
  • Bab: Jika shalat menggunakan sehelai pakaian hendaklah mengikatkannya ke pundaknya (I/no.346-347/hal.162)
  • Bab: Apabila pakaian yang dikenakan untuk shalat sempit (I/no.348-349/hal.162)
  • Bab: Shalat dengan menggunakan jubah buatan negeri Syam (I/no.350/hal.163)
  • Bab: Tidak disukainya badan terbuka (selain penutup aurat) ketika shalat dan juga di luar shalat (I/no.351/hal.164)
  • Bab: Shalat dengan menggunakan kemeja, celana panjang, celana dalam, dan selendang (I/no.352-353/hal.164)
  • Bab: Sesuatu yang digunakan untuk menutup aurat (I/no.354-356/hal.165)
  • Bab: Shalat tanpa meggunakan rida' (selendang yang lebar) (I/no.357/hal.166)
  • Bab: Masalah berkenaan paha (apakah termasuk aurat?) (I/no.358/hal.167)
  • Bab: Dalam berapa lembar pakaian seharusnya wanita melaksanakan shalat? (I/no.359/hal.168)
  • Bab: Jika seseorang shalat dengan pakaian yang ada gambanya lalu dia memperhatikan gambar tersebut (I/no.360/hal.168)
  • Bab: Jika seseorang shalat dengan pakaian yang ada salibnya atau gambar, apakah dapat merusak shalatnya? Apa yang terlarang berkaitan masalah ini? (I/no.361/hal.169)
  • Bab: Shalat mengenakan baju luar yang terbuat dari sutera lalu menanggalkannya (I/no.362/hal.169)
  • Bab: Shalat mengenakan baju berwarna merah (I/no.363/hal.169)
  • Bab: Shalat di atap, di atas mimbar dan atau di atas kayu (I/no.364-365/hal.170)
  • Bab: Jika orang yang shalat ketika sujud pakaiannya menyentuh istrinya (I/no.366/hal.171)
  • Bab: Shalat di atas tikar (I/no.367/hal.172)
  • Bab: Shalat di atas al-khumrah (alas kecil khusus untuk tempat sujud) (I/no.368/hal.172)
  • Bab: Shalat di atas alas tidur (kasur) (I/no.369-371/hal.172)
  • Bab: Sujud di atas kain dalam cuaca sangat panas (I/no.372/hal.173)
  • Bab: Shalat dengan memakai sandal (I/no.373/hal.173)
  • Bab: Shalat dengan memakai khuff (sepatu yang menutupi maka kaki) (I/no.374-375/hal.174)
  • Bab: Shalat bila tidak menyempurnakan sujud (I/no.376/hal.174)
  • Bab: Menampakkan ketiak dan merenggangkan lengan saat sujud (I/no.377/hal.175)
  • Bab: Keutamaan menghadap qiblat dengan menghadapkan jari jemari kedua kaki (I/no.378-379/hal.175)
  • Bab: Arah qiblat bagi penduduk Madinah, Syam dan penduduk Timur ( dari Ka'bah) (I/no.380/hal.176)
  • Bab: Firman Allah "Dan jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat" (I/no.381-383/hal.176)
  • Bab: Menghadap qiblat bagaimanapun keadaannya (I/no.384-386/hal.178)
  • Bab: Masalah qiblat dan mereka yang memandang tidak perlu mengulang shalat bagi siapa yang telah shalat namun keliru arah qiblatnya (I/no.387-389/hal.179)
  • Bab: Mengerik dahak yang ada di masjid dengan tangan (I/no.390-392/hal.180)
  • Bab: Mengerik dahak yang ada di masjid dengan kerikil (I/no.393/hal.181)
  • Bab: Tidak boleh meludah ke arah kanan ketika shalat (I/no.394-395/hal.182)
  • Bab: Hendaklah membuang dahak ke sebeleh kiri atau di bawah kaki kiri ketika Shalat (I/no.396-397/hal.182)
  • Bab: Kafarat (tebusan) akibat membuang dahak di dalam masjid (I/no.398/hal.183)
  • Bab: Menutupi (mengubur) dahak di masjid (I/no.399/hal.183)
  • Bab: Jika terpaksa meludah hendaklah meludahnya dengan mengunakan ujung pakaiannya (I/no.400/hal.184)
  • Bab: Nasehat imam kepada para ma'mum tentang menyempurnakan shalat dan mengingatkan qiblat (I/no.401-402/hal.184)
  • Bab: Bolehkah menamakan masjid dengan Masjid Suku anu? (I/no.403/hal.185)
  • Bab: Orang yang mengundang makan di masjid dan orang yang memenuhi undangan tersebut (I/no.404/hal.185)
  • Bab: Memutuskan perkara-perkara dan li'an (sumpah dan saling melaknat) antara suami dan istri di masjid (I/no.405/hal.185)
  • Bab: Jika seseorang memasuki suatu rumah apakah ia boleh shalat dimana saja dia mau atau dimana diperintahkan tanpa menyelidiki terlebih dahulu? (I/no.406/hal.186)
  • Bab: Masjid-masjid yang ada di rumah-rumah (I/no.407/hal.186)
  • Bab: Mendahului kaki kanan ketika memasuki masjid dan lainnya (I/no.408/hal.187)
  • Bab: Bolehkan membongkar kuburan orang musyrik jahiliyyah lalu membangun masjid di atasnya? (I/no.409-410/hal.188)
  • Bab: Shalat di kandang kambing (I/no.411/hal.189)
  • Bab: Shalat di kandang unta (I/no.412/hal.189)
  • Bab: Orang yang melakukan shalat di hadapan tungku atau api atau sesuatu yang biasa disembah orang sedangkan dia melaksanakan shalat karena Allah Ta'ala (I/no.413/hal.189)
  • Bab: Dibencinya shalat di kuburan (I/no.414/hal.190)
  • Bab: Shalat di tempat reruntuhan atau tempat yang pernah terkena siksa (I/no.415/hal.190)
  • Bab: Shalat di dalam gereja (atau tempat ibadah orangYahudi dan Nashrani) (I/no.416-418/hal.190)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam: "Dan bumi telah dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan tempat bersuci" (I/no.419/hal.191)
  • Bab: Tidurnya seorang wanita di dalam masjid (I/no.420/hal.192)
  • Bab: Tidurnya seorang laki-laki di dalam masjid (I/no.421-423/hal.193)
  • Bab: Shalat sekembalinya dari bepergian (I/no.424/hal.194)
  • Bab: Jika seorang dari kalian memasuki masjid hendaklah shalat dua rakaat sebelum dia duduk (I/no.425/hal.194)
  • Bab: Berhadats di dalam masjid (I/no.426/hal.194)
  • Bab: Membagun masjid (I/no.427/hal.195)
  • Bab: Tolong menolong dalam membangun masjid (I/no.428/hal.195)
  • Bab: Meminta bantuan tukang kayu dan tukang bangunan dalam membuat mimbar dan mendirikan masjid (I/no.429-430/hal.196)
  • Bab: Balasan pahala orang yang membangun masjid (I/no.431/hal.196)
  • Bab: Memegangi mata panah ketika memasuki masjid (I/no.432/hal.197)
  • Bab: Berjalan melewati masjid (I/no.433/hal.197)
  • Bab: Membaca sya'ir di dalam masjid (I/no.434/hal.197)
  • Bab: Bermain tombak di dalam masjid (I/no.435/hal.198)
  • Bab: Membicarakan perdagangan dan jual beli di atas mimbar di dalam masjid (I/no.436/hal.198)
  • Bab: Menagih hutang dan meminta kepastian pelunasan di dalam masjid (I/no.437/hal.199)
  • Bab: Petugas kebersihan masjid dan membuang kotoran dari masjid (I/no.438/hal.199)
  • Bab: Haramnya memperdagangkan khamer di dalam masjid (sebelum turun ayat pengharaman meminumnya) (I/no.439/hal.200)
  • Bab: Pelayan masjid (I/no.440/hal.200)
  • Bab: Para tawanan dan orang yang bermaksiat diikat di masjid (I/no.441/hal.200)
  • Bab: Mandi bagi orang yang baru masuk Islam dan mengikat tawanan di masjid (I/no.442/hal.201)
  • Bab: Kemah di dalam masjid bagi orang yang sakit dan selain mereka (I/no.443/hal.201)
  • Bab: Memasukkan unta ke dalam masjid karena suatu alasan (I/no.444-445/hal.202)
  • Bab: Pintu dan jalan untuk berlalu lalang di masjid (I/no.446-447/hal.202)
  • Bab: Pintu-pintu dan kunci untuk Ka'bah atau masjid (I/no.448/hal.203)
  • Bab: Masuknya orang musyrik ke dalam masjid (I/no.449/hal.204)
  • Bab: Mengeraskan suara di masjid (I/no.450-451/hal.204)
  • Bab: Membuat halaqah (majelis) dan duduk-duduk di masjid (I/no.452-454/hal.205)
  • Bab: Terlentang dan meluruskan kaki di masjid (I/no.455/hal.207)
  • Bab: Masjid yang terletak di jalan hendaklah tidak mengganggu orang (I/no.456/hal.207)
  • Bab: Shalat di masjid pasar (I/no.457/hal.207)
  • Bab: Menyilangkan jari-jari tangan di masjid dan lainnya (I/no.458-460/hal.208)
  • Bab: Masjid-masjid yang terletak di jalan kota Madinah dan tempat-tempat dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pernah shalat di dalamnya (I/no.461-462/hal.210)
  • Bab: Sutrah (pembatas) tempat shalat (I/no.463-465/hal.213)
  • Bab: Sutrah bagi imam juga sebagai sutrah bagi orang yang shalat di belakangnya (I/no.466-467/hal.214)
  • Bab: Shalat menghadap tombak kecil (I/no.468/hal.214)
  • Bab: Shalat menghadap tongkat (I/no.469-470/hal.215)
  • Bab: Sutrah ketika shalat di Makkah dan tempat lain (I/no.471/hal.215)
  • Bab: Shalat di hadapan tiang (I/no.472-473/hal.216)
  • Bab: Shalat di antara dua tiang dengan tidak berjama'ah (I/no.474-476/hal.216)
  • Bab: Shalat di hadapan hewan tunggangan, unta, pohon ataupun pelana (I/no.477/hal.217)
  • Bab: Shalat di hadapan tempat tidur (I/no.478/hal.218)
  • Bab: Orang yang sedang shalat mencegah orang yang lewat di depannya (I/no.479/hal.218)
  • Bab: Dosa orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat (I/no.480/hal.219)
  • Bab: Orang yang shalat menghadap orang yang juga sedang shalat (I/no.481/hal.219)
  • Bab: Shalat di belakang orang yang sedang tidur (I/no.482/hal.220)
  • Bab: Shalat sunnah di belakang seorang wanita (I/no.483/hal.220)
  • Bab: Pendapat yang menyatakan bahwa shalat tidak dapat diputus oleh suatu apapun (I/no.484-485/hal.220)
  • Bab: Memanggul anak kecil di pundak ketika sedang shalat (I/no.486/hal.221)
  • Bab: Shalat menghadap tempat tidur yang ditempati wanita yang sedang haid (I/no.487-488/hal.222)
  • Bab: Apakah boleh seseorang yang sedang shalat menepuk istrinya yang tidur melintang di hadapannya agar dapat sujud dengan sempurna (I/no.489/hal.222) 
  • Bab: Wanita menghilangkan kotoran dari orang yang sedang shalat (I/no.490/hal.223)
________________________

Hadits tentang Wanita yang Mengalami Tiga Kali Masa Haidl dalam Sebulan

thumbnail



Hadits berikut ini adalah tentang wanita yang mengalami keluarnya darah menyerupai haidl hingga tiga kali dalam sebulan.

Hadits ini menerangkan keluarnya darah di luar siklus haidl normal, dikategorikan sebagai istihadlah atau darah penyakit, sehingga tidak wajib baginya untuk meninggalkan shalat.

Hadits ini dimuat dalam Shahih Bukhari dengan judul “Bab: Jika seorang wanita mengalami tiga kali masa haidl dalam sebulan dan apa yang harus dilakukannya dalam masa-masa haidl.”








Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Raja' berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah berkata, Aku mendengar Hisyam bin 'Urwah berkata, telah mengabarkan kepadaku Bapakku dari 'Aisyah bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, katanya, "Aku mengeluarkan darah istihadlah (penyakit). Apakah aku tinggalkan shalat?" Beliau menjawab: "Jangan, karena itu hanyalah darah penyakit seperti keringat. Tinggalkanlah shalat selama masa haidlmu, setelah itu mandi dan kerjakanlah shalat." (Kitab Shahih Bukhari – Hadits Nomor: 314) 
_______________________ 


loading...