Zuhudlah... Niscaya Engkau Dicintai Allah sekaligus Dicintai Manusia

thumbnail
Hadits berikut ini adalah tentang sebuah amalan yang barangsiapa mengamalkannya, niscaya dia akan dicintai oleh Allah dan (sekaligus) dicintai oleh manusia.

Amalan tersebut adalah Zuhud.

عَنْ أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ


Dari Abul ‘Abbâs Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan]

Menurut Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hadits yang mulia ini mengandung dua wasiat yang agung :

Pertama, wasiat untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Zuhud ini bisa menguncang kecintaan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hambaNya.

Kedua, wasiat untuk bersikap zuhud terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Zuhud ini bisa menyebabkan seseorang dicintai oleh sesama manusia.




Memahami Pengertian Zuhud


Untuk memahami pengertian zuhud, kita mengutif tulisan yang sangat bagus dari Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Dalam tulisan berjudul “Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia,” beliau menulis Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena menganggapnya remeh, tidak bernilai, atau tidak meminatinya.

Para generasi Salaf dan generasi sesudah mereka banyak berbicara tentang makna zuhud terhadap dunia dengan redaksi yang beragam.

Abu Muslim al-Khaulâni rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia tidak dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Nnamun zuhud terhadap dunia ialah engkau lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa zuhud yang sesuai dengan syari’at adalah seseorang meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhiratnya dan hatinya yakin serta percaya terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya merupakan perbuatan hati. Oleh karena itu, Abu Sulaiman t mengatakan, “Janganlah engkau bersaksi untuk seseorang bahwa ia orang zuhud karena zuhud itu letaknya di hati.”

Tiga hal yang merupakan penafsiran zuhud yaitu :


Pertama : Hendaknya seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Sikap ini muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus, karena Allah Azza wa Jalla menjamin rezeki seluruh hamba-Nya dan menanggungnya, seperti yang Allah Azza wa Jalla firmankan 


وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfûzh).” [QS. Hûd : 6]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal [QS. an-Nahl: 96]

Abu Hâzim rahimahullah pernah ditanya, “Apa hartamu?” Ia menjawab, “Aku mempunyai dua harta yang menyebabkan aku tidak takut miskin; Pertama, percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan kedua, tidak mempunyai harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia.”

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, “Prinsip zuhud ialah ridha kepada Allah Azza wa Jalla .” Ia juga mengatakan, “Qanâ’ah adalah zuhud dan itulah kekayaan (merasa cukup).”

Barangsiapa mewujudkan keyakinannya, maka ia percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala urusannya, ridha dengan pengaturan-Nya dan tidak menggantungkan harapan dan kekhawatirannya pada makhluk.

Ini semua bisa mencegahnya dari usaha menggapai dunia dengan cara-cara yang ilegal. Orang yang seperti inilah orang yang benar-benar zuhud terhadap dunia dan ia adalah manusia terkaya, kendati ia tidak mempunyai apapun.

Kedua: Jika seorang hamba mendapatkan musibah pada dunianya, misalnya hartanya ludes, anaknya meninggal dunia, dan lain sebagainya, maka ia lebih senang kepada pahala musibah tersebut daripada dunianya yang hilang itu kembali lagi. Sikap seperti ini muncul karena keyakinannya yang penuh.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doanya,


اَللّٰــهُـــمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَـحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُـهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا


Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu; Anugerahkan kepada kami ketaatan kepada-Mu yang akan menghantarkan kami ke surga-Mu; Dan anugerahkan kepada kami keyakinan yang membuat kami merasa ringan atas seluruh musibah dunia ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang maknanya : "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfûzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kau tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” [QS. al-Hadîd: 22-23]

Ketiga : Pujian dan celaan dari orang tidak berpengaruh bagi hamba yang zuhud selama dia dalam kebenaran.

Ini juga pertanda zuhudnya terhadap dunia, menganggapnya rendah dan tidak berambisi kepadanya. Karena orang yang mengagungkan dunia, maka ia akan mencintai pujian dan membenci celaan. Ada kemungkinan, sikap mencintai pujian dan membenci celaan ini mendorongnya meninggalkan banyak kebenaran karena khawatir dicela serta mengerjakan berbagai perbuatan bathil karena mengharapkan pujian.

Jadi, orang yang menilai pujian dan celaan manusia baginya itu sama selama dia dalam kebenaran, menunjukkan kedudukan seluruh makhluk telah runtuh dari hatinya. Hatinya penuh dengan kecintaan kepada kebenaran, dan ridha kepada Rabb-nya. Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla dan tidak takut celaan.

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. [QS. al-Mâidah: 54]

Bertolak dari definisi bahwa orang yang zuhud sejati ialah orang yang tidak memuji dirinya dan tidak pula mengagungkannya, Yûsuf bin al-Asbâth t berkata, “Zuhud terhadap kekuasaan itu lebih berat daripada zuhud terhadap dunia.”

Jadi, barangsiapa menghilangkan ambisi untuk berkuasa di dunia ini dari dalam hatinya dan menghilangkan perasaan lebih hebat dari orang lain, sungguh, dia orang yang zuhud sejati dan dialah orang yang pemuji dan pencelanya dalam kebenaran itu sama saja.



Sumber: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, “Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia,” dalam https://almanhaj.or.id/
______________________


Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7: Shirathalladzina An'amta 'Alaihim...(Ibnu Katsir)

thumbnail


Dalam membahas tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 “Shirathalladzina an'amta 'alaihim ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin”, Imam Ibnu Katsir antara lain menjelaskan mengenai 3 jalan yang disebut dalam ayat ini.

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Jalan orang-orang yang diberi nikmat ialah, jalan para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid, dan jalan orang-orang shalih. Yakni jalan orang-orang yang beriman, yang menjalankan agama atas dasar ilmu yang benar, dan mereka mengamalkannya (berilmu dan beramal).

Adapun jalan orang-orang yang dimurkai adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka memiliki pengetahuan tapi tidak memiliki amal. Ingkar dan tidak mengamalkannya, karena itu mereka dimurkai.

Sedangkan jalan orang-orang yang sesat adalah jalan orang-orang Nasrani. Mereka sesat karena tidak memiliki ilmu pengetahuan (agama). Mereka beragama tanpa ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Menurut Imam Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah ini mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat berkumpul bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

Selengkapnya, berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 7 kami salin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Pustaka Imam as-Syafi'i.


(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1: 7)

Firman-Nya, "Shirathalladzina an'amta 'alaihim" (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka) adalah sebagai tafsir dari firman-Nya, jalan yang lurus. Dan merupakan badal (kata benda atau isim yang mengikuti kepada isim sebelumnya) menurut para ahli nahwu dan boleh pula sebagai athaf bayan (berupa isim jamid, yakni isim yang bukan berasal dari kata kerja yang berfungsi seperti sifat/keterangan). Wallahu a'lam.

Orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu Wata'ala itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat An-Nisaa', Dia berfirman:

 
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (QS. An-Nisa': 69-70).

Dan, firman-Nya, "ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin" (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat). Jumhur ulama membaca "ghairi" dengan memberikan kasrah pada hurup “ر “ dan kedudukannya sebagai naat (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan, dibaca juga dengan memakai harakat fathah di atasnya, yang menunjukkan haal (keadaan). Itu adalah bacaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khaththab, dan riwayat dari Ibnu Katsir. Dzul haal adalah dhamir dalam kata "'alaihim", sedangkan 'amil ialah lafaz "an'amta".

Artinya, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepadanya. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata "لا" (bukan), guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, sementara itu orang-orang Yahudi tidak memiliki amal, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan bagi orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan bagi orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya itu berhak mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedang orang Nasrani tatkala mereka hendak menuju kepada sesuatu, mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalannya. Hal itu karena mereka tidak menempuhnya melalui jalan yang sebenarnya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka mereka pun masing-masing tersesat dan mendapat murka. Namun, sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala mengenai diri mereka (orang-orang Yahudi):
   
"Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah." (QS. Al-Maidah: 60).

Sedangkan sifat Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman-Nya mengenai ihwal mereka:
 
"Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan lurus." (QS. Al-Maidah: 77).

Masalah ini banyak disebutkan dalam hadis dan atsar, dan hal itu cukup jelas.

Catatan:

1. Surat yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wata'ala melalui penyebutan asmaul husna milik-Nya, disertai adanya sifat-sifat yang Mahasempurna. Juga mencakup penyebutan tempat kembali manusia, yaitu hari pembalasan. Selain itu berisi bimbingan kepada para hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepada-Nya serta melepaskan upaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya secara tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, meng-Esakan dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga (berisi) bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya ke jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka pada jalan tersebut, sehingga ditetapkan bagi mereka untuk menyeberangi jalan yang tampak konkrit pada hari kiamat kelak menuju ke surga di sisi para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh.

Surat Al-Fatihah ini juga mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal saleh agar mereka dapat bergabung bersama orang-orang yang beramal saleh, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebatilan supaya mereka tidak digiring bersama penempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

2. Seusai membaca Al-Fatihah dusunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan amin. Seperti ucapan yasin. Boleh juga mengucapkan amin dengan alif dibaca pendek, artinya adalah "ya Allah kabulkanlah". Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dari Wail bin Hujur, katanya aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhaalliin", lalu beliau mengucapkan, "Amin" dengan memanjangkan suaranya.

Sedangkan menurut riwayat Abu Dawud, dan beliau mengangkat suaranya. At-Tirmidzi mengatakan, hadis ini hasan. Hadis ini diriwayatkan juga dari Ali, Ibnu Mas'ud, dan lain-lainnya.

Dari Abu Hurairah, katanya, apabila Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca, "Ghairilmaghdhubi'alaihim waladhdhallin", maka beliau mengucapkan, "Amin." Sehingga terdengar oleh orang-orang yang di belakangnya pada barisan pertama. Hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadis tersebut dengan kalimat, "Sehingga masjid bergetar karenanya." Hadis ini juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, ia mengatakan, hadis ini berisnad hasan.

Sahabat kami dan lain-lainnya mengatakan, "Disunnahkan juga mengucapkan 'amin' bagi orang yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika munfarid (sendiri) maupun sebagai imam atau makmum, serta dalam keadaan apa pun, berdasarkan hadis dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika seorang imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, sesungguhnya barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan aminnya malaikat, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Menurut riwayat Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan amin di dalam shalat, dan malaikat di langit juga mengucapkan amin, lalu masing-masing ucapan amin dari keduanya saling bertepatan, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu."

Ada yang mengatakan, artinya, barangsiapa yang waktu ucapan amin-nya bersamaan dengan amin yang diucapkan malaikat. Ada juga yang berpendapat, bahwa maksudnya, bersamaan dalam pengucapannya. Dan ada yang berpendapat, kebersamaan itu dalam hal keikhlasan.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan hadis marfu' dari Abu Musa, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
  
"Jika seorang imam telah membacakan waladhdhaalliin, maka ucapkan, 'Amin'. Niscaya Allah mengabulkan permohonan kalian."

Mayoritas ulama mengatakan bahwa makna amin itu adalah ya Allah perkenankanlah untuk kami.

Para sahabat Imam Malik berpendapat, seorang imam tidak perlu mengucapkan amin, cukup makmum saja yang mengucapkannya. Berdasarkan pada hadis riwayat Imam Malik dari Sami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

"Jika seorang imam telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Mereka juga menggunakan hadis dari Abu Musa a-Asy'ari yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
"Jika ia telah membaca waladhdhaallin, maka ucapkan, 'Amin'."

Dan kami kemukakan di atas dalam hadis dalam muttafaq 'alaih: 
"Jika seorang imam telah mengucapkan, 'Amin', maka ucapkanlah, 'Amin'."

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri mengucapkan amin ketika beliau selesai membaca ghairil maghdhuubi'alaihim waladhdhaalliin.

Para sahabat kami telah berbeda pendapat mengenai jahr (suara keras) bagi makmum dalam mengucapkan amin dalam shalat jahrnya. Kesimpulan dari perbedaan pendapat itu, bahwa jika seorang imam lupa mengucapkan amin, maka makmum harus serempak mengucapkannya dengan suara keras. Dan jika sang imam telah mengucapkannya dengan suara keras, (menurut) pendapat yang baru menyatakan bahwa para makmum tidak mengucapkannya dengan suara keras.

(Pendapat) yang terakhir ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah dan sebuah riwayat dari Imam Malik, karena amin itu merupakan salah satu bentuk zikir sehingga tidak perlu dikeraskan sebagaimana halnya zikir-zikir shalat lainnya. Sedangkan pendapat yang lama menyatakan bahwa para makmum juga perlu mengucapkannya dengan suara keras. Hal itu merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan sebuah riwayat yang lain dari Imam Malik seperti yang telah disebutkan di atas. Berdasarkan hadits: 
"Sehingga masjid bergetar (karenanya)."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
____________________

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6: Ihdinashshirathal mustaqim (Ibnu Katsir)

thumbnail


Tulisan ini membahas tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fatihah ayat 6 yang berbunyi: "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Imam Ibnu Katsir dalam membahas surat al-Fatihah ayat 6 menyebutkan, yang paling sempurna bagi seseorang yang ingin mengajukan permintaan adalah dengan memuji Rabb-nya terlebih dahulu, Rabb yang hanya kepada-Nya semua permintaan diajukan. Setelahnya, baru kemudian diikuti dengan menyampaikan apa-apa yang menjadi keperluannya.

Karena sesuai dengan firmannya, yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 6 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i).



"Tujukilah kami jalan yang lurus." (QS. 1: 6)

Jumhur ulama membacanya dengan memakai huruf "ص". Ada pula yang membaca dengan huruf “ز" (azzirath). Al-Farra' mengatakan, "Ini merupakan bahasa Bani Udzrah dan Bani Kalb."

Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya, "Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama ia memuji Rabb yang akan ia minta dan kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya, "Ihdinashshirathal mustaqim" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Karena yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan. Untuk itu Allah Tabaraka wa Ta'ala membimbing kita agar senantiasa melakukannya, sebab yang demikian itu yang lebih sempurna.

Permohonan juga dapat diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihis salam:  

"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24).

Permintaan itu bisa di dahului dengan menyebutkan sifat-sifat siapa yang akan dimintai, seperti ucapan Dzun Nun (Nabi Yunus ‘alaihis salam):


"Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87).

Tetapi terkadang hanya dengan memuji kepada-Nya, ketika meminta, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:


Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malumu
Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaanmu
Jika suatu hari seseorang memberikan pujian kepadamu, niscaya engkau akan memberinya kecukupan

Kata hidayah pada ayat ini berarti bimbingan dan taufik. Terkadang kata hidayah (muta addi/transitif) dengan sendirinya (tanpa huruf lain yang berfungsi sebagai pelengkapnya), seperti pada firman-Nya di sini, "Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus." Dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizki kepada kami, atau berikanlah anugerah kepada kami.

Sebagaiamana yang ada pada firman-Nya:
 
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad: 10). Artinya, kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Selain itu, dapat juga menjadi muta addi' (transitif) dengan memakai kata "ila", sebagaimana firman-Nya:
 
"Allah telah memilihnya dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 121).

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas ialah dengan pengertian bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: 
"Dan sesungguhnya engkau (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura': 52).

Terkadang ia (kata hidayah) menjadi muta addi dengan memakai kata "li" sebagaimana yang diucapkan oleh para penghuni surga:

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini." (QS. Al-A'raf: 43), Artinya, Allah memberikan taufik kepada kami untuk memperoleh surga ini dan Dia jadikan kami sebagai penghuninya.

Sedangkan mengenai firman-Nya, "Syirathal mustaqim", Imam Abu Ja'far bin Jarir mengatakan, ahlut tafsir secara keseluruhan sepakat bahwa ash-shirathal mustaqim itu adalah jalan yang terang dan lurus.

Kemudian terjadi perbedaan ungkapan para mufassir, baik dari kalangan ulama salaf maupun khalaf dalam menafsirkan kata ash-shirath, meskipun pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Jika ditanyakan, mengapa seorang mukmin meminta hidayah pada setiap saat, baik pada waktu mengerjakan shalat maupun di luar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk tahshilul bashil (berusaha memperoleh sesuatu yang sudah ada)?

Jawabnya adalah tidak. Kalau bukan karena dia perlu memohon hidayah siang dan malam hari, niscaya Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membimbing ke arah itu. Sebab, seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah setiap saat dan situasi agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan, dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasa memberikan manfaat atau mudharat kepada dirinya sendiri kecuali Allah menghendaki.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala selalu membimbingnya agar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikan pertolongan, keteguhan, dan taufik.

Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon kepada-Nya. Sebab, Allah telah menjamin akan mengabulkan permohonan seseorang jika ia memohon kepada-Nya, apalagi permohonan orang yang dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya, pada tengah malam dan siang hari. Firman Allah Subhanahu wata’ala:


"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS. An-Nisa': 136).

Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tetap beriman. Dan hal itu bukan termasuk tahshilul hashil, karena maksudnya adalah ketetapan, kelangsungan, dan kesinambungan amal yang dapat membantu kepada hal tersebut.

Allah Subhanahu wata’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan (doa):


"Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8).

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu pernah membaca ayat ini dalam rekaat ketiga pada salat Maghrib secara sirri (tidak keras) setelah selesai membaca Al-Fatihah.

Dengan demikian, makna firman-Nya, "Ihdinashshirathal mustaqim" adalah "Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus itu dan jangan Engkau simpangkan ke jalan yang lainnya."



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________


Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Ibnu Katsir)

thumbnail



Berikut ini adalah tafsir Surat Al-Fatihah ayat 5 yang berbunyi :  Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan).

Dalam menjelaskan keutamaan ayat ini, Imam Ibnu Katsir dengan mengutif perkataan beberapa ulama salaf menyebutkan, surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia dari surat Al-Fatihah itu sendiri terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in.

Dengan mengamalkan makna ayat: "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu," menurut Imam Ibnu Katsir ini adalah puncak dari kesempurnaan ketaatan. Dan agama Islam itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna tersebut.

Adapun didahulukannya Iyya kana'budu (hanya kepada-Mu kami beribadah) sebelum wa iyya kanasta'in (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), tidak lain karena ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala adalah merupakan tujuan utama. Sedangkan permohonan pertolongan esensinya hanyalah sarana agar seorang hamba dapat beribadah kepada Rabb-nya.

Berikut ini tafsir surat Al-Fatihah ayat 5 selengkapnya yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir terjemahan Indonesia (terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i). 



Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Para ahli qira'at sab'ah dan jumhurul ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf ‘ya' pada kata ‘iyyaka’. Sedangkan kata ‘nasta’iin’ dibaca dengan memfathahkan huruf nun yang pertama.

Menurut bahasa, kata ibadah berarti tunduk patuh. Sedangkan menurut syariat, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan, dan ketakutan.

Didahulukannya maf'ul (objek), yaitu kata iyyaka, dan (setelah itu) diulangi lagi, adalah dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dan juga sebagai pembatasan.

Artinya, "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu." Dan inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan dien (agama) itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna di atas.

Yang demikian itu seperti kata sebagian ulama salaf, bahwa surat Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasia Al-Fatihah terletak pada ayat Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.”

Penggalan pertama, yakni "Hanya kepada-Mu kami beribadah" merupakan pernyataan lepas dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yaitu, "Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekutan serta berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Makna seperti ini tidk hanya terdapat dalam satu ayat Alquran saja, seperti firman-Nya:


"Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud: 123).

Dalam ayat tersebut (Al-Fatihah: 5) terjadi perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhathab (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf kaf pada kata iyyaka. Yang demikian itu memang selaras karena ketika seorang hamba memuji kepada Allah, maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir di hadapan-Nya. oleh karena itu, Dia berfirman, "Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in."
Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pada awal-awal surat Al-Fatihah merupakan pemberitahuan dari Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.

Dalam shahih Muslim, diriwayatkan dari al-'Ala' bn Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan, "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam", maka Allah berfirman, "Hambaku telah memuji-Ku". Dan jika ia mengucapkan: “Mahapemurah lagi Mahapenyayang,” maka Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika ia mengucapkan, “Yang menguasai hari pembalasan,” maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memulikan-Ku'. Jika ia mengucapkan, “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,” maka Allah berfirman, 'Inilah bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta'. Dan jika ia mengucapkan,'"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau enugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nashrani)', maka Allah berfirman, "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang ia minta'."

Iyya kana'budu didahulukan dari wa iyya kanasta'in, karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan merupakan sarana untuk beribadah. Yang terpenting lebih didahulukan dari yang sekedar penting. Wallahu a'lam.
Jika ditanyakan, “lalu apa makna huruf nun pada firman Allah Subhanahu wata’ala: Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in." Jika nun itu dimaksudkan sebagai bentuk jama', padahal orang yang mengucapkan hanya satu orang, dan jika untuk pengagungan, maka yang demikian itu tidak sesuai dengan kondisi?

Pertanyaan di atas dapat dijawab, bahwa yang dimaksudkan dengan huruf nun (kami) itu adalah, untuk memberitahukan mengenai jenis hamba, dan orang yang shalat merupakan salah satu darinya, apalagi jika orang-orang melakukannya secara berjamaah. Atau, imam dalam salat memberitahukan tentang dirinya sendiri dan juga saudara-saudaranya yang beriman tentang ibadah, yang untuk tujuan inilah mereka diciptakan.

Ibadah merupakan maqam (kedudukan) yang sangat agung, yang dengannya seorang hamba menjadi mulia, karena kecondongannya kepada Allah Ta'ala saja, dan Dia telah menyebut Rasul-Nya sebagai hamba-Nya yang menempati maqam yang paling mulia. Firman Allah:



"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-isra': 1).

Allah telah menyebutkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang hamba ketika menurunkan Alquran kepadanya, ketika beliau menjalankan dakwahnya dan ketika diperjalankan pada malam hari. Dan Dia membimbingnya untuk senantiasa menjalankan ibadah pada saat-saat hatinya merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya, Dia berfirman:


"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 97-99).



Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
_________________

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 3-4: Arrahmanirrahim, Malikiyaumiddin (Tafsir Ibnu Katsir)

thumbnail



Berikut ini tafsir surat al-Fatihah ayat 3-4 yang disalin dari Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir terjemahan bahasa Indonesia.



Mahapemurah lagi Mahapenyayang. (QS. Al-Fatihah: 3)

"Arrahmanirrahim", mengenai pembahasannya telah dikemukakan dalam pembahasan basmalah, sehingga tidak perlu lagi diulangi.

Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan ar-Rahman dan ar-Rahim setelah Rabbul 'alamin, untuk meyelingi anjuran (targhib) sesudah peringatan (tarhib).

Sebagaimana yang difirmankan-Nya:



"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr: 49-50).

Juga fiman-Nya:


"Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-An'aam: 165).

Kata al-Qurthubi selanjutnya: "Ar-Rabb" merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahman ar-Rahim merupakan anjuran.

Dalam sahih Muslim, disebutkan hadis yang diiwayatkan dari Abu Hurairah, katanya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada pada sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang bersemangat untuk (meraih) surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Nya."


Yang menguasai hari pembalasan. (QS. al-Fatihah: 4)

Sebagian qurra' membaca “malikiyaumiddin” (dengan meniadakan alif setelah huruf mim). Sementara, sebagian qurra’ lainnya membacanya dengan menggunakan alif setelah mim menjadi “maaliki.” Kedua bacaan itu benar, dan mutawatir dalam qira'at sab'ah.

“Maalik” berasal dari kata al-milk (kepemilikan), sebagaimana fiman-Nya:


"Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. Dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan." (QS. Maryam: 40).

Sedangkan “Malik” berasal dari kata al-mulk, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Mukmin ayat 16: lamanil mulkul yauma lillahil wahidil qahhar ("Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Mengalahkan.").

Pengkhususan kerajaan pada hari pembalasan tersebut tidak menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan yang lain (kerajaan dunia), karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Dia adalah Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya itu bersifat umum di dunia maupun di akhirat. Ditambahkannya kata “yaumiddin” (hari pembalasan), karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-ngaku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan seizin-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

"Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar." (QS. An-Naba': 38).

Hari pembalasan berarti hari perhitungan bagi semua makhluk, disebut juga hari kiamat. Mereka diberi balasan sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka balasannya pun baik. Jika amalnya buruk, maka balasannya pun buruk kecuali bagi orang yang diampuni.

Pada hakikatnya “al-Malik” adalah nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya: “Huwallahulladzi lailaha illahuwal malikul quddusus salam” yang artinya, "Dialah Allah yang tiada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, Raja, yang Mahasuci, lagi Mahasejahtera." (QS. Al-Hasyr: 23).

Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, diriwayatkan sebuah hadis marfu' dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang menjuluki dirinya Malikul Amlak (raja- diraja). (Karena) tidak ada Malik (raja) yang sebenarnya kecuali Allah."

Dan dalam kitab yang sama juga dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Allah (pada hari kiamat) akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya, lalu berfirman, Aku adalah raja, di manakah rajha-raja bumi, di manakah mereka yang merasa perkasa, dan di mana orang-orang yang sombong?"

Sedangkan di dalam Alqur’an disebutkan: "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (QS. Al-Mukmin: 16).

Adapun penyebutan Malik (raja) selain kepada-Nya di dunia hanyalah secara majaz (kiasan) belaka, tidak pada hakikatnya, sebagaiamana Allah Subhanahu wata’ala pernah mengemukakan, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagi kalian." (QS. Al-Baqarah: 247).

Kata “ad-Diin” berarti pembalasan atau perhitungan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: "Pada hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya." (QS. An-Nuur: 25).

Dia juga berfirman, "Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan." (QS. Ash-Shaffaat: 53).

Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Orang cerdik adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk (kehidupan) setelah kematian." (HR at-Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Artinya, ia akan senantiasa menghitung-hitung dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin al-Khaththab:



"Hisablah (buatlah perhitungan untuk) diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya (amal seseorang), sementara semua amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya."

Allah berfirman, "Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Rabb kalian), tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya)." (QS. Al-Haaqqah: 18).




Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan Indonesia), Penerbit: Pustaka Imam as-Syafi'i
__________________


Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 2: Alhamdulillahirabbil'alamin

thumbnail



Tafsir surat al-Fatihah ayat 2, yakni ayat yang berbunyi “Alhamdulillahirabbil'alamin” (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam) berikut ini adalah tafsir al-Qur’an karya Imam Ibnu Katsir.

Disalin dan disajikan kepada pembaca, secara terpisah dari ayat-ayat Al-Fatihan lainnya, tidak lain dimaksudkan agar lebih fokus, lebih terasa ‘ringan’, dan terhindar dari kejenuhan dalam membaca kitab tafsir yang begitu panjang.

Berikut ini tafsir “Alhamdulillahirabbil'alamin” yang disalin dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Terjemahan Indonesia dan diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i.



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam (QS. 1:2)

Al-qurra' as-sab'ah (tujuh ahli qira'ah) membacanya dengan memberi harakat dhammah pada huruf dal pada kalimat alhamdulillah, yang merupakan mubtada' dan khabar.

Abu Ja'far bin Jarir mengatakan, alhamdulillah berarti syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah diciptakan-Nya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidak ada seorang pun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahan berbagai sarana untuk menaati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya. Selain itu, pemberian rizki kepada mereka di dunia, serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan yang sama sekali mereka tidak memiliki hak atas hal itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepada mereka akan sebab-sebab yang dapat membawa kepada kelanggengan hidup di surga tempat segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah segala puji, baik di awal maupun di akhir.

Ibnu Jarir Rahimahullah mengatakan, alhamdulillah merupakan pujian yang disampaikan Allah untuk diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka memuji-Nya. Seolah-olah Dia mengatakan, "Ucapkanlah alhamdulillah."

Lebih lanjut Ibnu Jarir menyebutkan, telah dikenal di kalangan para ulama mutaakhirin bahwa al-hamdu adalah pujian melalui ucapan kepada yang berhak mendapatkan pujian disertai penyebutan segala sifat-sifat baik yang berkenan dengan dirinya maupun berkenan dengan pihak lain. Adapun asy-syukru tiada lain kecuali dilakukan terhadap sifat-sifat yang berkenaan dengan selainnya, yang disampaikan melalui hati, lisan, dan anggota badan, sebagaiamana diungkapkan oleh seorang penyair:



"Nikmat paling berharga, yang telah kalian peroleh dariku ada tiga macam. Yaitu melalui kedua tanganku, lisanku, dan hatiku yang tidak tampak ini."

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai mana yang lebih umum, al-hamdu ataukah asy-syukru. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Dan setelah diteliti antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Alhamdu lebih umum daripada asy-syukru, karena terjadi pada sifat-sifat yang berkenaan dengan diri sendiri dan juga pihak lain, misalnya Anda katakan, "Aku memujinya (al-hamdu) karena sifatnya yang kesatria dan karena kedermawanannya." Tetapi juga lebih khusus karena hanya bisa diungkapkan melalui ucapan. Sedangkan asy-syukru lebih umum daripada al-hamdu, karena ia dapat diungkapkan melalui ucapan, perbuatan, dan juga niat. Tetapi lebih khusus, karena tidak bisa dikatakan bahwa aku berterima kasih kepadanya atas sifatnya yang kesatria. Namun, bisa dikatakan aku berterima kasih kepadanya atas kedermawanan dan kebaikannya kepadaku.

Demikian itu yang disimpulkan sebagian ulama mutaakhirin. Wallahu a'lam.



Diriwayatkan dari al-Aswad bin Sari, (katanya):

Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, "Ya Rasulullah, maukan engkau aku puji dengan berbagai pujian seperti yang aku sampaikan untuk Rabb-ku, Allah Tabaaraka wa Ta'ala." Maka beliau bersabda, "Adapun, (sesungguhnya) Rabb-mu menyukai pujian (alhamdu)." (HR. Imam Ahmad dan Nasa'i).

Diriwayatkan Abu Isa, at-Tirmizi, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"Sebaik-baik zikir adalah kalimat Laa ilaaha illallaah, dan sebaik-baik doa adalah alhamdulillah."

Menurut at-Tirmizi, hadis ini hasan gharib. Dan diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, katanya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Allah tidak menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan, alhamdulillah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik daripada yang diambil-Nya."

“Alif” dan “lam” pada kata “alhamdu” dimaksudkan untuk melengkapi bahwa segala macam jenis dan bentuk pujian itu, hanya untuk Allah semata.

“Arrabb” adalah pemilik, penguasa, dan pengendali. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan. Semuanya itu benar bagi Allah Ta'ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain dari Allah kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya rabbuddar (pemilik rumah). Sedangkan kata ar-Rabb (secara mutlak), hanya boleh digunakan untuk Allah Subhanahu wata’ala.

Ada yang mengatakan, bahwa ar-Rabb itu merupakan nama yang agung (al-Ismul A'zham). Sedangkan “al'Alamin” adalah bentuk jamak dari kata 'alamun yang berarti segala sesuatu yang ada selain Allah Subhanahu wata’ala. 'Alamun merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki mufrad (bentuk tunggal) dari kata itu. Al'awalim berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan, maupun lautan. Dan setiap angkatan (pada suatu kurun/zaman) atau generasi disebut juga alam.

Bisyr bin Imarah meriwayatkan dari Abu Rauq dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas, "Alhamdulillahirabbil 'aalamin”. Artinya, segala puji bagi Allah pemilik seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui."

Az-Zajjaj mengatakan, al'alam berarti semua yang diciptakan oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Sedangkan al-Qurthubi mengatakan, apa yang dikatakan az-Zajjaj itulah yang benar, karena mencakup seluruh alam (dunia dan akhirat).

Menurut penulis (Ibnu Katsir) al'alam berasal dari kata al'alamatu, karena alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta keesaan-Nya. Sebagaimana Ibnu al-Mu'taz pernah mengatakan, "Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang bisa mendurhakai Rabb, atau mengingkari-Nya, padalah dalam setiap segala sesuatu terdapat ayat untuk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa."

***Sumber: Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir Terjemahan Indonesia, Penerb it: Pustaka Imam as-Syafi'i
________________