Shalat Istikharah yang Benar Sesuai Sunnah: Pemahaman, Hukum, dan Tata Caranya

thumbnail


Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sedang manusia hanyalah makhluk yang lemah, yang senantiasa di dalam setiap urusannya, membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah subhanahu wata’ala.

Di antara kelemahan manusia itu, ia sama sekali tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ia tidak tau apa yang akan terjadi pada kejadian masa yang akan datang. Bahkan ia tidak tau mana yang hakikatnya baik, dan mana yang hakikatnya buruk, bahkan untuk dirinya sendiri.

Karena itulah, di dalam Islam disyari’atkan adanya do’a, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Agar setiap hamba dapat meminta petunjuk dan pertolongan kepadaNya. Meminta diberi-Nya kemudahan dan kebaikan, serta dihilangkan kesulitan dan keburukan, dalam setiap urusannya. Karena Allah lah Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Salah satu dari do’a yang disyari’atkan tersebut adalah do’a istikharah, yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Semoga Allah menunjuki kita.

Tentang pentingnya kedudukan shalat istikharah, Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.”

Lihat Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub.

Namun terdapat perbedaan di tengah kaum muslimin dalam memahami shalat istikharah. Khususnya tentang kapan atau dalam keadaan apa shalat istikharah dilakukan.

Pemahaman pertama, shalat istikharah dikerjakan ketika menghadapi kebimbangan dalam memilih beberapa pilihan yang sulit dan meragukan.

Pemahaman kedua, shalat istikharah dilakukan setelah menetapkan pilihan atau memantapkan niat atau tekad untuk melaksanakan sebuah urusan.

Pemahaman yang pertama lebih banyak pengikutnya, terutama di kalangan masyarakat umumnya. Sedangkan yang kedua, lebih sedikit.

Kita misalnya, lebih sering menjumpai contoh, seseorang melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah, apakah harus menerima lamaran si pulan, ataukah menolaknya? Apakah memilih melanjutkan pendidikan dulu, atau menikah saja? Apakah memilih perguruan tinggi A atau B, atau jurusan X atau Z? Apakah tetap bekerja di perusahaan, atau keluar untuk membuka usaha sendiri? Dan sebagainya.

Untuk menjawab manakah di antara dua pemahaman ini yang paling sesuai dengan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, mari kita simak salah satu hadits yang menjadi pokok dalil disyariatkannya shalat istikharah.

Hadits ini sekaligus memuat doa-doa, tuntunan, dan tata cara yang jelas dalam melaksanakan shalat istikharah.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلميُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِخَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِقَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِىفَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِىأَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِفَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agamaku, penghidupanku, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agamaku, penghidupanku, dan akhir urusanku (dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah)

Pokok-Pokok Pemahaman dan Tata Cara Shalat Istikharah


Di dalam hadits yang mulia tersebut sesungguhnya sudah mencakup pokok-pokok pemahaman yang lengkap mengenai shalat istikharah:

Pertama : Melakukan shalat istikharah bukan ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau ragu-ragu.

Yang tepat adalah ketika seseorang telah memilih satu pilihan dalam urusannya (baik pilihan itu mantap maupun ragu-ragu), lalu ia memohon pertolongan kepada Allah dengan melaksanakan shalat istikharah, agar jika pilihan itu baik dimudahkan baginya dan jika tidak agar dihindarkan atau dipalingkan darinya.

Inilah pemahaman yang benar, karena dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jelas mengatakan:

إِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْللأَمْرِ

“Jika salah seorang di antara kalian mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu…….”.

Bunyi hadits ini sama sekali tidak menyebut adanya dua pilihan yang ragu-ragu. Lagi pula, di dalam lafal do’a yang diajarkan dalam hadits tersebut, terdapat kalimat: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku…

Ini artinya, perkara dimaksud adalah satu perkara yang tertentu dan jelas, bukan dua atau lebih perkara yang meragukan.

Karena tidak mungkin lafal doanya menjadi berbunyi seperti ini: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (misalnya: apakah aku memilih si A atau si B sebagai pendamping hidupku) baik bagiku…”

Mesti yang benar adalah: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (misalnya: memilih si A sebagai pendamping hidupku) baik bagiku.…” Jadi, mesti pilihannya sudah jelas.

Adapun untuk perkara yang ragu-ragu dan terasa sulit untuk menetapkan pilihan, hendaklah seorang muslim berdoa lebih dulu memohon petunjuk kepada Allah (di luar shalat istikharah). Dan setelah mendapatkan kecondongan hati terhadap satu pilihan -- sekali lagi: baik mantap maupun bimbang -- barulah ia melakukan shalat istikharah.

Dengan demikian, faedah shalat istikharah di sini adalah meminta pertolongan kepada Allah, jika pilihan itu baik baginya, mudah-mudahan Allah memudahkan dan memberikan berkah kepadanya dalam urusan itu. Dan jika tidak baik, mudah-mudahan Allah memalingkan dirinya dari apa yang telah dipilihnya, dan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik.



Kedua : Mengenai hukum shalat istikharah, meski tidak sampai pada derajat “wajib” (karena shalat wajib hanya ada lima waktu), namun shalat istikharah termasuk sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hal ini terlihat dari bunyi hadits:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu…..”

Ketiga : Di dalam nash hadits juga dengan terang disebutkan bahwa shalat istikharah disyariatkan dalam segala urusan. Baik urusan itu besar maupun kecil, penting maupun tidak.

Ini juga disepakati oleh Imam Nawawi rahimahullah dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah: ”Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar?”

Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Keempat : Shalat istikharah dilakukan pada pokoknya adalah khusus untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh). Bukan pada perkara-perkara yang wajib dan sunnah, apalagi perkara-perkara yang haram dan makhruh.

Terkait hal ini, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.” (Lihat Fathul Baari, 11/184).

Jadi, tidak perlu shalat istikharah untuk melaksanakan yang wajib ataupun untuk meninggalkan yang haram. Sebagaimana tidak perlu shalat istikharah bagi seseorang yang ingin menunaikan yang sunnah atau meninggalkan yang makruh. Karena itu semua sudah terang hukumnya.

Jikapun shalat istikharah untuk perkara-perkara wajib dan sunnah, hal itu dapat dilakukan lebih pada persoalan memilih waktu dan prioritas, bukan masalah dikerjakan atau tidak dikerjakan.

Misalnya, shalat istikharah pada perkara wajib dapat dilakukan apabila ada dua perkara wajib yang waktunya bertabrakan, sementara keduanya adalah perkara wajib yang boleh ditunda atau diakhirkan karena waktunya yang lapang.

Contohnya, seseorang ingin menunaikan ibadah haji, namun pada saat yang sama ia juga ingin melunasi hutangnya (yang belum jatuh tempo) terlebih dahulu. Keduanya wajib ditunaikan dan tidak ada satupun yang boleh ditinggalkan.

Sedangkan shalat istikharah untuk perkara sunnah dilakukan ketika ada dua perkara sunnah yang waktunya atau kesempatannya bertabrakan. Manakah yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

Misalnya, ketika seseorang mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu (=sunnah) di luar negeri, tapi di sisi lain ia merasa berat meninggalkan mengajar madrasah (=sunnah) di kampungnya yang kekurangan guru agama.

Dalam keadaan seperti ini, ia boleh memilih mana yang harus didahulukan sesuai dengan kecondongan hatinya. Setelah itu, melaksanakan shalat istikharah memohon pertolongan Allah jika pilihan itu baik baginya agar dimudahkan, dan jika tidak baik agar dipalingkan atau dihindarkan.

Kelima : Berdasarkan bunyi hadits yang mulia ini, shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat di luar shalat wajib.

Ini mengandung pengertian, boleh shalat sunnah dua rakaat yang diniatkan khusus untuk shalat istikharah, boleh juga shalat sunnah dua rakaat lainnya (baik diniatkan atau tidak diniatkan untuk shalat istikharah).

Terkait hal ini, Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, sama saja shalat itu diniati dengan niat istikharah maupun tidak.

Sedang Al-Iraqi berkata: “Jika keinginan melakukan sesuatu itu muncul sebelum mengerjakan shalat sunnat rawatib atau yang semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk beristikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir, hal tersebut sudah mencukupi.” (Dinukil dalam kitab beliau Nailul Authar III/88)

Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa doa istikharah dapat dipanjatkan setelah melaksanakan dua rakaat shalat sunnah apa saja, seperti ba’da shalat sunnat rawatib, ba’da tahiyatul masjid, atau ba’da shalat sunnah lainnya. Ataupun, ba’da dua rakaat yang diniatkan khusus untuk shalat istikharah.

Keenam : Di dalam hadits yang mulia ini juga terkandung pengertian bahwa shalat istikharah merupakan bentuk penyerahan akhir dari sebuah urusan kepada Allah. Karena Allah Yang Maha Tahu baik dan buruk dari semua urusan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Karena itu, setelah melakukan shalat istikharah, seorang muslim kemudian melaksanakan apa yang telah menjadi pilihan atau ketetapan hatinya. Apapun hasilnya, ikhlas dan berprasangka baik kepada Allah. Jika dimudahkan, itu adalah yang terbaik baginya. Jika dipalingkan atau dihindarkan, itu juga yang terbaik baginya.

Jika seorang gadis menetapkan pilihan untuk menerima lamaran dari pria A, lalu ia shalat istikharah, namun kemudian banyak halangan yang merintangi hingga ia tidak jadi menikah dengannya, maka itu adalah yang terbaik baginya. Demikian pun sebaliknya, jika ia jadi menikah dengannya, maka itupun yang terbaik baginya.

Ketujuh : Di dalam hadits tersebut juga terkandung pengertian bahwa buah dari shalat istikharah terlihat dari dimudahkannya ataupun dirintanginya seseorang dari apa yang menjadi kehendaknya.

Shalat istikharah seseorang diijabah oleh Allah bukan dilihat dari apa yang menjadi keinginan hatinya tercapai. Bukan pula dilihat dari apakah hasilnya “menyenangkan” hatinya atau tidak.

Sebab, boleh jadi apa yang diinginkan oleh hati manusia itu sesungguhnya tidak baik baginya.

Az-Zamlakani mengatakan :”Jika seseorang mengerjakan shalat istikharah dua rakaat untuk suatu hal, maka hendaklah setelah itu dia melakukan apa yang tampak olehnya, baik hatinya merasa senang maupun tidak, karena padanya kebaikan itu berada sekalipun jiwanya tidak menyukainya.”

Dia mengatakan: “Di dalam hadits tersebut tidak ada syarat adanya kesenangan diri.” (Thabaqaat Asy-Syafi’iyyah, At-Taaj Ibnus Subki IX/206)

Kedelapan : Sesuai lafal hadits, memanjatkan do’a istikarah dilakukan setelah salam dari shalat sunnah dua rakaat. Yang demikian itu didasarkan pada bunyi hadits:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُم بِالأّمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan ....”

Ini berbeda dengan pendapat yang diketengahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berpendapat bahwa do’a istikharah itu dipanjatkan sebelum salam. Wallahu a’lam.

***Disumberkan dari banyak sumber antara lain “Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
___________________

Kumpulan Bacaan Shalat Lengkap Sesuai Sunnah

thumbnail


Pembahasan ini mengkhususkan diri pada kumpulan bacaan doa dan dzikir di dalam shalat lengkap, dengan pengecualian tidak menyertakan bacaan surat al-Fatihah dan bacaan ayat al quran.

Fokus pembahasan hanya pada bacaan doa dan dzikir di dalam shalat, yang shahih dan bersumber dari hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Adapun lebih mendalam tentang tata cara membacanya dan hal-hal berkenaan lainnya, dibahas secara sendiri-sendiri di dalam bab-bab mengenai tata cara shalat.

1. Bacaan takbiratul ikhram dan takbir intiqal


Baik takbiratul ikhram (permulaan shalat) maupun takbir intiqal (perpindahan) dalam shalat sama-sama membaca lafaz takbir yang sama, yakni:
اَللّهُ اَكْبَرُ

Allahu Akbar 
Artinya: Allah Maha Besar
 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا قُمتَ إلى الصَّلاةِ فأسْبِغ الوُضُوءَ، ثم اسْتقبل القِبْلةَ فكبِّر

“Jika engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah…” (HR. Bukhari 757, Muslim 397)

2. Macam-macam doa istiftah yang sesuai sunnah


Ada banyak macam bacaan doa istiftah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Disunnahkan untuk membaca doa-doa istiftah secara bergantian di dalam shalat (memilih bacaan doa istiftah yang berbeda dalam shalat).

Namun tidak ada dalil yang memerintahkan untuk menggabungkan atau membaca beberapa doa istiftah secara sekaligus dalam satu shalat.

(1)  
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khothoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khothoyaaya bil maa-i wats tsalji wal barod.

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An Nasai no. 896. Lafaz do'a iftitah ini berasal dari HR. An Nasai)



(2)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhaana-kallaah-humma wa biham-dika wa tabaa-rakas-muka wa ta-’aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk.

Artinya: “Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan Engkau dengan memuji-Mu, Nama-Mu penuh berkah, Maha tinggi keagungan-Mu. Dan Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Mu” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, dishahihkan Al Albani, juga disepakati oleh Adz-Dzahabi).

(3) Sama dengan do’a iftitah di atas, namun dengan menambahkan bacaan berikut:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (ثَلاَثًا) اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا (ثَلاَثًا)
 
Laa-ilaaha-illallaah (3 kali) allaahu akbar kabii-raa (3 kali).

Artinya: Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah (3 kali), Allah maha besar lagi sempurna kebesaranya (3 kali). (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani).

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat shalat malam.
(4)

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Akan aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)

Keterangan: Doa ini biasa dibaca Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.
(5)
اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ

Artinya: “Allah maha besar. Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Dishahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251)

(6)
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Artinya: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)

(7) 
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa.

Artinya: Allah Maha Besar dengan segala kebesarannya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di pagi hari dan petang hari.(HR. Muslim)

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda: “Aku kagum dengan do’a ini. Pintu-pintu langit telah dibuka karena do’a ini.” Kata Ibn Umar: “Sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian Saya tidak pernah meninggalkan do’a ini.” (HR. Muslim)
(8) 


الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

 Al hamdu lil-laahi hamdan katsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih

Artinya: Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi penuh dengan berkah.(HR. Muslim)

Keterangan: Do’a ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat jamaah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat 12 malaikat berlomba siapakah di antara mereka yang mengantarkan nya (kepada Allah, ed.).
(9) 
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ


Allaa-humma rabba jib-rooila wa mii-kaa-iil wa isroofiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. ‘aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumu bai-na ‘ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim.
Artinya: “Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit dan bumi (dari tidak ada sebelumnya)! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah)
Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam
(10)
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Al hamdu lil-laah (10 X)
Artinya: Segala puji bagi Allah
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar (10 X)
Artinya: Allah Maha Besar
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ 
Laa-ilaaha-illallaah (10 X)
Artinya: Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah


سُبْحَانَ الله
Subhaa-nallaah (10 X)
Artinya: Maha suci Allah

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
 As-tagh-firullaah (10 X)
Artinya: Aku memohon ampunan kepada Allah


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى وَعَافِنِى

 Allaah-hummagh fir lii wah-dinii war-zuqnii wa ‘aa-finii (10 X )
Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ

Allaah-humma innii a-’uudzu bika minad Dhii-qi yaumal hisaab (10 X)
Artinya: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan). (HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi n, 1/267)

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam
(11)
اللَّهُ أَكْبَرُ
 Allaahu akbar (3 X)
Artinya: Allah Maha Besar

ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Dzul-malakuut wal jaba-ruut wal kib-riyaa’ wal ‘a-dza-mah
Artinya: “Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122) 


Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam

3. Bacaan doa dan dzikir ketika ruku’ yang shahih


Pada ruku’, terdapat beberapa macam bacaan doa dan dzikir yang pernah dibaca oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Disunnahkan pula untuk membaca bacaan ruku ini secara bergantian dalam shalat (tidak melazimkan hanya satu macam bacaan).

1. 
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ
Dibaca: “Subhaana rabbiyal ‘azhim”
Artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung. (HR. Muslim no. 772).

2. 
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Dibaca: “Subhaana rabbiyal ‘azhim wabihamdih”
Artinya: “Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.” (HR. Abu Daud no. 870).

3. 
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Dibaca: Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika Allahummaghfir-lii
Artinya: “Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).


4.
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

Dibaca: Subbuhun qudduusun, robbul malaa-ikati war ruuh
Artinya: “Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -- yaitu Jibril.” (HR. Muslim no. 487).

5.
اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ

Dibaca: Allahumma laka raka’tu, wa bika aamantu, walaka aslamtu, khasya’a laka sam’ii wa basharii wa mukhkhii wa ‘azhmii wa ‘ashabii wa mas taqalla bihi qadamii.
Artinya: “Ya Allah, untukMu aku ruku’. KepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, sarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah merunduk dengan khusyuk kepada-Mu.”(HR. Muslim 1/534 dan empat imam hadits, kecuali Ibnu Majah). 

6. 
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Dibaca: Subhana dziiljabaruut, wal malakuut, walkibriyaa’i, wal’azhomah.
Artinya: “Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.” (HR. Abu Dawud 1/230, An-Nasai dan Ahmad. Dan sanadnya hasan).

4. Doa ketika bangkit dari ruku’ yang shahih


Bacaan ketika bangkit dari sujud atau disebut i’tidal adalah:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Dibaca: “sami’allahu liman hamidah”.

Artinya: Allah mendengar pujian dari orang yang memuji-Nya

Hal ini bersumber dari hadits Anas bin Malik:

وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika ia mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamdu (artinya: Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji)’.” (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411)

Setelah membaca sami’allahu liman hamidah, ada beberapa pilihan bacaan berikutnya, semuanya shahih dan disunnahkan untuk membacanya bergantian dalam shalat.

1. Membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Dibaca: Allahumma robbanaa lakal hamdu.

Artinya: Ya Allah, Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji. (HR. Muslim no. 404)

2. Atau membaca:
اللَّهُمّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Dibaca: Allahumma robbanaa wa lakal hamdu.

Artinya: Ya Allah, Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji. (HR. Bukhari no. 795)


3. Atau membaca:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Dibaca: Robbanaa lakal hamdu.

Artinya: Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji. (HR. Bukhari no. 722 dan Muslim no. 477)


4. Atau membaca:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Dibaca: Robbanaa wa lakal hamdu.

Artinya: Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji. (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411).

5. Atau membaca:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Dibaca: “Robbana walakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih

Artinya: Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.” (HR. Bukhari no. 799)

6. Atau membaca:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

Dibaca: “Robbana wa lakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih, mil-assamaa-i, wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du”.

Artinya: Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu.

7. Atau membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Dibaca: “Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Artinya: Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memiliinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu)” (HR. Muslim no. 471).

8. Atau membaca:

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ...... لِرَبِّيَ الْحَمْدُ

Dibaca: Li rabbiyal hamdu… Li rabbiyal hamdu…

Artinya: Untuk Robbku segala pujian…. Untuk Robbku segala pujian. (HR. Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Al-Albani).

Keterangan: Bacaan ini diulang-ulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau shalat malam. Sehingga panjang i’tidal beliau hampir sama dengan berdiri saat membaca surat Al-Baqarah.
Bersambung.........

___________________

Doa dari Hadits agar Terhindar dari Lilitan Hutang

thumbnail

Saudara muslim di mana pun berada, wabil khusus yang kini tengah berjuang menghadapi kesempitan hidup, jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah. Mintalah pertolongan-Nya, karena sesungguhnya Allah lah yang menggenggam perbendaharaan langit dan bumi.

Sambil terus berikhtiar dalam kebaikan, panjatkan doa dengan khusu' kepada-Nya. Bertaqwa dan bertawaqqal lah. Jalankan semua perintahnya, dan jauhi larangannya.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Berdoa dengan menggunakan lafaz doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah barang tentu memiliki keutamaan.

Di antara doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah adalah doa kepada Allah subhanahu wata’ala, Rabb Yang maha kaya, Yang menggenggam perbendaharaan langit dan bumi, agar kita terhindar dari lilitan dan jeratan hutang.

Sesungguhnya berhutang adalah perkara yang dibolehkan dalam Islam. Karena dengan berhutang adakalanya bisa menjadi solusi bagi kesempitan dan kebutuhan hidup yang mendesak untuk ditunaikan. Tapi dalam berbagai hadits, perkara hutang ini termasuk yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, sehingga kita diajarkan untuk berlindung kepada Allah dari jeratan dan keburukan-keburukannya.

Salah satu doa yang masyhur adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam kepada sahabat Abu Umamah radhiyallahu ’anhu. Doa ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu, dia menuturkan:

“Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ
الرِّجَالِ

Allahumma inni a’udzu bika minal Hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal.

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353) 



Doa lainnya meminta perlindungan dari hutang adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Allaahumma inniy a’uudzubika min ghalabatid daini, wa ghalabatil ‘aduwwi, wa syamaatahil a’daa’

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tekanan hutang, genggaman musuh dan kegembiraan para musuh (atas derita kami)." (Sunan An-Nasaa’iy Ash-Shughraa no. 5475)

Kemudian, doa dari hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa sebagai berikut:

 اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

 Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan (rizki-Mu) yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak bergantung) kepada selain-Mu." (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Ulasan Hikmah:

Banyak ulama yang berusaha menggali hikmah yang terkandung dari lafaz doa berlindung dari lilitan dan jeratan hutang.

Rasulullah menggabungkan doa berlindung dari lilitan hutang dengan doa-doa berlindung dari kebingungan dan sedih, dari sifat lemah dan malas, dari pengecut dan kikir, dan dari kesewenang-wenangan manusia.

Menunjukkan sesungguhnya semua itu seringkali berkorelasi dan masuk dalam lingkup sebab dan akibat dari pada hutang.


a. Bingung dan Sedih


Begitu buruknya perkara hutang, banyak orang menjadi bingung, sedih, stress, dan bahkan jadi frustasi dan gelap mata sampai melakukan hal-hal di luar nalar sehat hanya karena terjerat hutang.

b. Lemah dan Malas


Sementara di ujung yang lain, sifat lemah dan malas seringkali menjadi sebab awal seseorang menjadi terjerat hutang. Dan berlindung kepada Allah agar terhindar dari sifat lemah dan malas insyaAllah akan membuka jalan baginya untuk bisa melunasi hutangnya.

c. Pengecut dan Kikir


Akibat lilitan hutang juga bisa membuat orang jatuh pada sifat kikir dan pengecut. Dan seperti lingkaran syetan, akibat kikir juga kembali akan mempersempit dan mempersulit datangnya rizki dari Allah subhanahu wata’ala. (karena salah satu kunci rizki adalah memperbanyak sedekah).

d. Kesewenang-wenangan Manusia


Yang terakhir ini, bisa menjadi sebab dan juga akibat dari hutang. Banyak orang mendapat perlakuan sewenang-wenang dan zalim karena ia berhutang dan tidak mampu melunasinya. Sebalinya, kesewenang-wenangan dan kezaliman yang merajalela dalam suatu masyarakat juga bisa menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan yang meluas hingga banyak di antara manusia-manusia terjerat pada hutang.

Karena itulah, dalam doa ini Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengumpulkan semuanya dalam satu lafaz doa dan mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wata'ala.
_____________________



Hadits-hadits tentang Keutamaan Orang yang Menegakkan Ramadan

thumbnail

Hadits-hadits berikut ini adalah tentang keutamaan orang yang menegakkan Ramadan. Yakni, orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih pada malam Ramadan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala semata.

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Bukhari dengan judul "Bab: Keutamaan orang yang menegakkan Ramadan". 




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata tentang bulan Ramadhan: "Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". (Shahih Bukhari – Hadits No.1869) 




Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menegakkan Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu. (Shahih Bukhari – Hadits No.1870) 


Dan dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (Shahih Bukhari – Hadits No.1871)





Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendirikan shalat. Dan itu pada bulan Ramadhan. (Shahih Bukhari – Hadits No.1872) 


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepada saya 'Urwah bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah Beliau selesai shalat Fajar, Beliau menghadap kepada orang banyak kemudian Beliau membaca syahadat lalu bersabda: "Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya". Kemudian setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia, tradisi shalat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu. (Shahih Bukhari – Hadits No.1873) 


Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Sa'id Al Maqbariy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur". (Shahih Bukhari – Hadits No.1874) 
____________________

Daftar Isi Kitab Shalat Tarawih: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari

thumbnail

Tulisan “Daftar Isi Kitab Shalat Tarawih: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Sebagai tuntunan untuk mempermudah melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shalat Tarawih” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Bukhari. Isinya, menampilkan hadits-hadits seputar shalat Tarawih. Kitab ini termasuk kitab yang paling ringkas, hanya berisi 6 Bab dan 16 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 1868 sampai dengan nomor 1884.

Pada versi download Shahih Bukhari (format PDF ukuran kecil) yang terdapat di dalam blog ini, Kitab: Shalat Tarawih berada pada fail Shahih Bukhari-2 (halaman 328-334).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shalat Tarawih”, yakni shalat malam yang khusus diperintahkan di bulan Ramadhan.

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Bukhari Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir (II/no.1876-1877/hal.331). Artinya, hadits-hadits tentang mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir bulan ramadhan, dimuat dalam Shahih Bukhari-2, yakni hadits nomor 1876-1877, dimulai dari halaman 331.

Berikut ini daftar isi “Kitab: Shalat Tarawih” Shahih Bukhari selengkapnya:



  • Bab: Keutamaan orang yang menegakkan Ramadan (II/no.1869-1874/hal.328)
  • Bab: Keutamaan malam lailatur qadar (II/no.1875/hal.330)
  • Bab: Mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir (II/no.1876-1877/hal.331)
  • Bab: Mencari malam lailatul qadar pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir (II/no.1878-1882/hal.332)
  • Bab: Waktu lailatul qadar dijadikan "Misteri" karena percekcokan sahabat (II/no.1883/hal.334)
  • Bab: Beramal di sepuluh hari terakhir (II/no.1884/hal.334)
____________________

Daftar Isi Kitab Shaum atau Kitab Puasa: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari

thumbnail

Tulisan “Daftar Isi Kitab Shaum: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Bukhari” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Sebagai tuntunan untuk memudahkan dalam melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shaum” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Bukhari, khusus mengetengahkan hadits-hadits seputar shaum atau puasa. Kitab ini berisi 67 Bab dan 110 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 1758 sampai dengan nomor 1868.

Pada versi download Shahih Bukhari (format PDF ukuran kecil) yang terdapat dalam blog ini, Kitab: Shaum berada pada fail Shahih Bukhari-2 (halaman 283-327).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shaum” atau puasa, baik puasa wajib atau puasa ramadhan maupun puasa sunnah.

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Bukhari Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Kewajiban puasa Ramadan (II/no.1758-1760/hal.283). Artinya, hadits-hadits tentang diwajibkannya puasa Ramadan dimuat dalam Shahih Bukhari-2, yakni hadits nomor 1758-1760, dimulai dari halaman 283.

Berikut ini daftar isi “Kitab: Shaum” Shahih Bukhari selengkapnya:

  • Bab: Kewajiban puasa Ramadan (II/no.1758-1760/hal.283)
  • Bab: Keutamaan puasa (II/no.1761/hal.284)
  • Bab: Kafarah puasa (II/no.1762/hal.285)
  • Bab: Ar rayyan untuk orang yang berpuasa (II/no.1763-1764/hal.285)
  • Bab: Disebut ramadan atau bulan ramadan? (II/no.1765-1767/hal.286)
  • Bab: Barangsiapa berpuasa ramadan karena iman dan mengharap pahala (II/no.1768/hal.287)
  • Bab: Di bulan ramadan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih banyak beramal Kebaikan (II/no.1769/hal.287)
  • Bab: Orang yang tidak meninggalkan ucapan kotor (II/no.1770/hal.288)
  • Bab: Apakah harus mengatakan 'Aku sedang berpuasa' ketika hina? (II/no.1771/hal.288)
  • Bab: Puasa bagi orang yang khawatir atas dirinya karena (nafsu) kelajangannya (II/no.1772/hal.289)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Jika kalian melihat hilal..." (II/no.1773-1778/hal.289)
  • Bab: Dua bulan Id tidak berkurang (II/no.1779/hal.291)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Kami (kaum) yang tidak menulis dan menghitung..." (II/no.1780/hal.291)
  • Bab: Ramadan tidak didahului dengan puasa satu atau dua hari (II/no.1781/hal.292)

  • Bab: Firman Allah "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu..." (II/no.1782/hal.292)
  • Bab: Firman Allah "...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar...." (II/no.1783/-1784/hal.293)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "Janganlah makan sahur kalian terhalangi..." (II/no.1785/hal.294)
  • Bab: Mengakhirkan makan sahur (II/no.1786/hal.294)
  • Bab: Berapa waktu antara sahur hingga shalat subuh (II/no.1787/hal.294)
  • Bab: Berkah makan sahur (II/no.1788-1789/hal.295)
  • Bab: Niat puasa di siang hari (II/no.1790/hal.295)
  • Bab: Orang yang berpuasa junub di pagi hari (II/no.1791/hal.295)
  • Bab: Orang yang berpuasa bercumbu (II/no.1792/hal.296)
  • Bab: Orang yang berpuasa mencium (II/no.1793-1794/hal.297)
  • Bab: Mandinya orang yang berpuasa (II/no.1795-1796/hal.298)
  • Bab: Orang yang berpuasa makan dan minum karena lupa (II/no.1797/hal.298)
  • Bab: Siwak basah dan kering bagi orang yang berpuasa (II/no.1798/hal.299)
  • Bab: Jika bersetubuh di (siang hari) Ramadan (II/no.1799/hal.299)
  • Bab: Jika seseorang bersetubuh di (siang hari) ramadan, semantara tidak memiliki sesuatu untuk ia sedekahkan... (II/no.1800/hal.300)
  • Bab: Orang yang bersetubuh di siang hari bulan ramadan, apakah ia boleh memberikan makanan untuk keluarganya sebagai kafarah? (II/no.1801/hal.300)
  • Bab: Berbekam dan muntah bagi orang yang berpuasa (II/no.1802-1804/hal.301)
  • Bab: Puasa dan berbuka dalam safar (II/no.1805-1807/hal.302)
  • Bab: Berpuasa beberapa hari di bulan ramadan kemudian pergi bersafar (II/no.1808-1809/hal.303)
  • Bab: Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada orang yang dipayungi dan panas yang sangat... (II/no.1810/hal.303)
  • Bab: Sebagian sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mencela sebagian kepada sebagian yang lain... (II/no.1811/hal.304)
  • Bab: Berbuka saat safar supaya dilihat oleh orang (II/no.1812/hal.304)
  • Bab: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (II/no.1813/hal.304)
  • Bab: Kapan mengganti puasa Ramadan (II/no.1814/hal.305)
  • Bab: Wanita haid meninggalkan puasa dan shalat (II/no.1815/hal.305)
  • Bab: Orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa (II/no.1816-1817/hal.305)
  • Bab: Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka (II/no.1818-1819/hal.307)
  • Bab: Berbukan dengan air atau selainnya sekadarnya (II/no.1820/hal.308)
  • Bab: Mesegerakan buka puasa (II/no.1821-1822/hal.308)
  • Bab: Jika berbuka puasa ramadan kemudian matahari muncul kembali (II/no.1823/hal.309)
  • Bab: Puasanya anak kecil (II/no.1824/hal.309)
  • Bab: Puasa wishal, dan pendapat bahwa pada malam hari tidak ada puasa (II/no.1825-1828/hal.309)
  • Bab: Ancaman bagi orang yang memperbanyak puasa wishal (II/no.1829-1830/hal.311)
  • Bab: Puasa wishal hingga makan sahur (II/no.1831/hal.311)
  • Bab: Barangsiapa bersumpah agar saudaranya mau berbuka puasa (II/no.1832/hal.312)
  • Bab: Puasa Sya'ban (II/no.1833-1834/hal.313)
  • Bab: Penjelasan tentang puasa dan berbukanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (II/no.1835-1837/hal.313)
  • Bab: Hak tamu dalam hal puasa (II/no.1838/hal.315)
  • Bab: Hak badan dalam hal puasa (II/no.1839/hal.315)
  • Bab: Puasa dahr (II/no.1840/hal.316)
  • Bab: Hak keluarga dalam hal puasa (II/no.1841/hal.317)
  • Bab: Berpuasa satu hari dan berbuka satu hari (II/no.1842/hal.317)
  • Bab: Puasa Daud (II/no.1843-1844/hal.318)
  • Bab: Puasa pada hari-hari bidl (tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas) (II/no.1845/hal.319)
  • Bab: Barangsiapa mengunjungi suatu kaum kemudian berbuka bersama mereka (II/no.1846/hal.319)
  • Bab: Puasa di akhir bulan (II/no.1847/hal.320)
  • Bab: Puasa khusus di hari jumat (II/no.1848-1850/hal.320)
  • Bab: Boleh mengkhususkan satu hari tertentu (II/no.1851/hal.321)
  • Bab: Puasa di hari Arafah (II/no.1852-1853/hal.322)
  • Bab: Puasa di hari Idul Fitri (II/no.1854-1855/hal.322)
  • Bab: Puasa di hari Idul Adlha (II/no.1856-1858/hal.323)
  • Bab: Puasa di hari-hari tasyriq (II/no.1859-1860/hal.324)
  • Bab: Puasa Asyura`(II/no.1861-1868/hal.325)
 _____________________