Hadits tentang Bolehnya Menghajikan Orang yang Sudah Lemah atau Sudah Meninggal

thumbnail



Dua hadits berikut ini adalah tentang bolehnya seseorang menunaikan haji untuk dan atau atau atas nama orang lain. Semisal, seorang anak menunaikan haji untuk orang tua yang sudah lemah atau sudah meninggal dunia.


Hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul "Bab: Haji untuk orang yang sudah lemah atau untuk orang yang sudah meninggal".




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata; Fadl bin Abbas pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba seorang wanita dari Khats'am meminta fatwa kepada beliau. Fadll menengok kepada perempuan itu dan perempuan itu pun menengok Fadll. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memalingkan wajah Fadll ke arah lain. Perempuan itu berkata, "Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?" beliau menjawab: "Boleh." Dan hal itu terjadi pada saat haji wada'. (Shahih Muslim – Hadits No.2375)



Telah menceritakan kepadaku Ali bin Khasyram telah mengabarkan kepada kami Isa dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas dari Al Fadll bahwasanya; Seorang wanita dari Khats'am berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku adalah seorang yang sudah tua renta, ia masih memiliki kewajiban haji, sementara ia tidak mampu lagi menunggang di atas Untaranya." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Kalau begitu, hajikanlah ia." (Shahih Muslim – Hadits No.2376)
___________________

Hadits tentang Kewajiban Haji Hanya Satu Kali Seumur Hidup, Namun…

thumbnail



Hadits berikut ini adalah mengenai kewajiban haji bagi kaum muslimin hanya satu kali seumur hidup. Namun bagi yang mampu, Rasulullah mengisyaratkan wajibnya menunaikan haji sebanyak kemampuan.

Hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul “Bab: Kewajiban haji hanya satu kali dalam seumur hidup.”



Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Ar Rabi' bin Muslim Al Qarasyi dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami seraya bersabda: "Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, tunaikanlah ibadah haji." Kemudian seorang laki-laki bertanya, "Apakah setiap tahun ya Rasulullah?" beliau terdiam beberapa saat, hingga laki-laki itu mengulanginya hingga tiga kali. Maka beliau pun bersabda: "Sekiranya aku menjawab, 'Ya' niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun dan kalian tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena itu, biarkanlah apa adanya masalah yang kutinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu mendapat celaka karena mereka banyak tanya dan suka mendebat para Nabi mereka. karena itu, bila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah sebisa-bisanya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera." (Shahih Muslim – Hadits No.2380)
_____________________

Hadits tentang Bolehnya Mengqadla atau Membayar Hutang Puasa Orang yang Sudah Meninggal

thumbnail



Hadits-hadits berikut ini adalah tentang bolehnya mengqadha atau membayar hutang puasa untuk orang yang sudah meninggal. Bahkan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mengatakan, bahwa hutang kepada Allah (hutang puasa) lebih berhak untuk dilunasi dari pada hutang kepada manusia (hutang uang).

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Muslim dengan judul "Bab: Mengqadla puasa untuk mayit."



Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa'id Al Aili dan Ahmad bin Isa keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami Amru bin Harits dari Ubaidullah bin Ja'far dari Muhammad bin Ja'far bin Zubair dari Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya." (Shahih Muslim – Hadits No.1935)



Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa ada seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia masih memiliki hutang puasa selama satu bulan." Maka beliau pun bersabda: Bagaimana menurutmu jika ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu akan melunasinya?" wanita itu menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda: "Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi." (Shahih Muslim – Hadits No.1936)



Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Umar Al Waki'i telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Sulaiman dari Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata,

"Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia memiliki hutang puasa selama satu bulan. Apakah saya harus membayarkan untuknya?" beliau menjawab: "Sekiranya ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu harus membayarnya?" laki-laki itu menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda: "Kalau begitu, maka hutang kepada Allah adalah lebih berhak untuk dilunasi." 

Sualaiman berkata; Dan juga telah berkata; Al Hakam dan Salamah bin Kuhail semuanya. Dan kami dalam posisi duduk saat Muslim menceritakan hadits ini. Keduanya berkata, kami mendengar Mujahid menyebutkan hadits ini dari Ibnu Abbas. Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyajj telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Salamah bin Kuhail dan Al Hakam bin Utaibah dan Muslim Al Bathin dari Sa'id bin Jubair dan Mujahid dan Atha` dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan hadits ini. (Shahih Muslim – Hadits No.1937)



Dan Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur dan Ibnu Abu Khalaf dan Abdu bin Humaid semuanya dari Zakariya bin Adi - Abdu berkata-telah menceritakan kepadaku Zakariya bin Adi telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abu Unaisah telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Utaibah dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku telah meninggal, sedangkan beliau masih memiliki hutang puasa Nadzar, bolehkah aku membayarnya?" beliau menjawab: "Bagaimana menurutmu, jika ibumu memiliki hutang, lalu kamu membayarnya, apakah hal itu dapat melunasi hutangnya?" wanita itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu, berpuasalah untuknya." (Shahih Muslim – Hadits No.1938)



Dan telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujr As Sa'di telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir Abul Hasan dari Abdullah bin 'Atha` dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Ketika saya sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba dating lah seorang wanita dan berkata, "Aku pernah memberikan seorang budak wanita kepada ibuku, dan kini ibuku telah meninggal. Bagaimana dengan hal itu?" beliau menjawab, "Kamu telah mendapatkan pahala atas pemberianmu itu, dan sekarang pemberianmu itu telah kembali kepadamu sebagai pusaka." Wanita itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, Ibuku punya hutang puasa satu bulan, bolehkah saya membayar puasanya?" beliau menjawab: "Ya, bayarlah puasanya itu." wanita itu berkata lagi, "Ibuku juga belum menunaikan haji, bolehkah aku yang menghajikannya?" beliau menjawab: "Ya, hajikanlah ia." Dan Telah meceritakannya kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Abdullah bin 'Atha` dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Saya pernah duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. yakni serupa dengan haditsnya Ibnu Mushir, hanyanya saja ia mengatakan; "Puasa selama dua bulan." Dan Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Abdullah bin Atha` dari Ibnu Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu ia berkata; Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka ia pun menyebutkan hadits semisalnya. Dan ia juga mengatakan; "Puasa selama satu bulan." Dan telah meceritakannya kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Sufyan dengan isnad ini, dan ia mengatakan; "(Hutang) Puasa selama dua bulan." Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Khalaf Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Abdullah bin Atha` Al Makki dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yakni serupa dengan hadits mereka, dan ia juga mengatakan; "Puasa satu bulan." (Shahih Muslim – Hadits No.1939)

___________________


Hadits tentang Bolehnya Bersedekah dengan Niat Pahalanya untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

thumbnail

Hadits berikut ini adalah tentang bolehnya bersedekah dengan niat pahalanya untuk orang tua yang sudah meninggal dunia.

Hadits-hadits ini sekaligus merupakan jawaban atas kegundahan sebagian orang yang merasa menyesal tidak sempat memberikan "sesuatu" kepada orang tua yang sudah keburu meninggal, seolah-olah pintu 
bhakti dan pemberian kepada orang yang sangat dicintai, sudah "tertutup" untuk selamanya.

Hadits-hadits ini dimuat dalam Shahih Bukhari dengan judul terpisah, “Bab: Seseorang yang mengatakan "Tanahku atau kebunku sedekah untuk Allah dan pahalanya untuk ibuku," serta “Bab: Sesuatu yang dianjurkan untuk seseorang yang meninggal dengan tiba-tiba agar mereka bersedekah untuknya atau melaksanakan nadzarnya.”


Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Salam telah mengabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata telah bercerita kepadaku Ya'laa bahwa dia mendengar 'Ikrimah berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Sa'ad bin 'Ubadah radliallahu 'anhu ibunya meninggal dunia saat dia tidak ada disisinya. Kemudian dia berkata:

"Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia saat aku tidak ada. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu?" Beliau bersabda: "Ya". Dia berkata: "Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya". (Shahih Bukhari – Hadits Nomor 2551)

Telah bercerita kepada kami Isma'il berkata telah bercerita kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah aku boleh bershadaqah atas namanya?" Beliau menjawab: "Ya bershodaqolah atasnya".(Shahih Bukhari – Hadits Nomor 2554)
_____________________

38 Doa Para Nabi dan Hamba-Hamba Pilihan Langsung dari Al Qur’anul Karim

thumbnail


Doa-doa berikut ini adalah doa-doa yang masyhur karena dinukil langsung di dalam Al Quranul Karim. Yakni doa-doa dari hamba-hamba Allah yang terpilih: para Nabi, para Rasul, serta umat-umat terdahulu yang beriman, yang Allah subhanahu wata’ala ridho kepada do’a mereka.


1. Doa mohon tidak dihukum atas kehilapan dan kesalahan, tidak dibebankan beban yang berat (yang tidak sanggup untuk memikulnya); serta memohon diberi maaf, ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah. 


رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaa laa tuakhidznaa inna siinaa aw akhtho’naa, Robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishrong kamaa hamaltahu ‘alalladzina mingqoblinaa, Robbana wa laa tuhammilnaa maa laa thoo qotalanaabih, wa’fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa, anta maw laa naa fanshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Baqarah: 286).

Doa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala terkhusus kepada orang-orang yang beriman dari umat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

2. Doa mohon ampunan dan rahmat Allah

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ



Robbanaa aamanna faghfirlanaa warhamnaa wa anta khoirur roohimiin

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS. Al Mu’minun: 109).

Doa dari segolongan hamba-hamba Allah yang beriman.

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ


Robbighfir, warham, wa anta khoirur roohimiin

“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS. Al Mu’minun: 118).

Doa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada kekasihnya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaghfirlanaa dzunuu banaa wa isroo fanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaa manaa wansurnaa ‘alal qoumil kafiriin.

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Imran: 147).

Doa para Nabi dan pengikutnya yang bertaqwa.

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa innanaa aamanna faghfirlanaa dzunubana wakinaa ‘adzabannaar.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Imran: 16).

Doa dari hamba-hamba Allah yang bertaqwa, yakni orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang tetap taat, orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan-jalan ketaatan, dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Robbanaa innanaa sami’naa munaa diyan yunaadii lil iimaani an aaminuu birobbikum fa aamannaa. Robbanaa faghfirlanaa dzunuu banaa wa kaffir ‘anna sayyiaatinaa watawaffanaa ma’al abroor. Robbanaa wa aatina ma wa’attanaa ‘ala rusulika walaa tukhzinaa yawmal qiyaamah. Innaka la tukhliful mii’ad.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 193-194).

Doa dari hamba-hamba yang beraqal, yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Robbii innii zholamtu nafsii faghfirlii faghofaro lahu. Innahu huwal ghofurur rohiim

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. (QS. Al Qashash: 16).

Berasal dari doa nabi Musa ‘alaihis salam.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


Robbanaa zholamnaa amfusinaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuu nanna minal khosiriin.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 23).

Berasal dari doa Nabi Adam ‘alaihis salam dan istrinya Siti Hawa.

3. Doa berlindung kepada Allah dari memohon sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.



رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Robbana inni a’udzu bika an as aluka ma laisa lii bihi ‘ilmun wa illa taghfirlii wa tarhamnii akun minal khosiriin.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Huud: 47).

Berasal dari doa Nabi Nuh ‘Alaihis salam.

4. Doa agar tergolong orang-orang yang shaleh

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

Robbi hablii hukman wa alhiqnii bishshoolihiin. Wa aj’al lii lisaana shiddiqin fil aakhiriin. Waj’alnii min warotsati jannatin na’iim.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy Syu’ara: 83-85).

رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Robbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syahidiin

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)” (QS. Al Maidah: 83).

5. Doa meminta diberi istri dan anak yang menentramkan dan membahagiakan hati

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Robbanaa hablanaa min azwaa jinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaaman.

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

6. Doa agar diberikan keturunan yang shalih

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Robbanaa laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al Anbiya: 89).

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Robbi hablii minash shoolihiin.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100).

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Robbi hablii min ladungka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii’ud du’a’.

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Al Imran: 38).

7. Doa mohon ampunan bagi diri, kedua orang tua, dan kaum mukminin

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Robbanaagh firlii wali walidayya walil mukminiina yawma yaqumul hisaab.

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Robbanaagh firlanaa wa li ikhwaninalladziina sabaquunaa bil iimaan. Wa laa taj’al fii qulubinaa ghillan lil ladziina aamanuu, Robbanaa innaka ro’uufurrohiim.

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

Robbighfirlii wa li walidayya wa li man dakhola baitiya mu’minan walil mu’mininaa wal mu’minaati, wa la tazididz dzolimiina illa tabaaron.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh: 28).

8. Doa berlindung dan dijauhkan dari orang yang zhalim

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Robbi najjinii minal qowmidz dzolimiin.

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim” (QS. Al Qashash: 21).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Robbanaa laa taj’alnaa ma’al qoumidz dzoolimiin

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim” (QS. Al A’raf: 47).

رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Robbin shurnii ‘alal qoumil mufsidiin

“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan” (QS. Al Ankabut: 30).

9. Doa mohon ketetapan bagi diri dan keluarga dalam mendirikan shalat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Robbij ‘alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyyatii. Robbanaa wa taqobbal du’a’.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

10. Doa agar ditambahkan ilmu

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Robbi zidnii ‘ilman.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (QS. Thaha: 114).

11. Doa agar dilapangkan hati, dimudahkan urusan, dan dilancarkan lisan

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Robbisy rohlii shodrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaanii yafqohuu qowlii.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha: 25-28).

12. Doa memohon diberi petunjuk yang lurus dalam urusan

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Robbanaa aatinaa min ladunka rohmah wa hayyi’ lanaa min amrinaa rosyadaa.

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al Kahfi: 10).

13. Doa agar bisa bertawakkal hanya kepada Allah

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Robbanaa ‘alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir.

“Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS. Al Mumtahanah: 4).

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Hasbiyalloohu laa ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul ‘arsyil ‘adziim.

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At Taubah: 129).

14. Doa agar disempurnakan cahayanya

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfirlanaa innaka ‘ala kulli syai’in qodiir.

“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. At Tahrim: 8).

15. Doa agar dijadikan hamba yang bersyukur dan mengerjakan amal saleh

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Robbi awzi’nii an asykuro ni’matika allatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adhilnii birohmatika fii ‘ibadikash shoolihiin.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. An Naml: 19).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Robbanaa aw zi’nii an asykuro ni’matika allatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhoohu wa ashlihlii fii dzurriyyatii inni tubtu ilayka wa innii minal muslimiin.

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Ahqaf: 15).

16. Doa berlindung dari saytan

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Robbi a’uudzubika minal hamazaatisy syayaatiini wa a’uudzubika robbi an yahshuruuni.

“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku” (QS. Al Mu’minun: 97-98).

17. Doa agar hati ditetapkan dalam hidayah dan dikaruniai rahmat Allah

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Robbanaa laa tuzi’ quluubanaa ba’da idzhadaitanaa wa hablanaa min ladunka rohmah, innaka antal wahhab.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Al Imran: 8).

18. Doa agar diterima amal ibadah dan taubat

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Robbanaa taqobbal minnaa, innaka anta samii’ul ‘aliim. …watub ‘alainaa innaka antat tawwaburrohiim.

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 127 dan 128).

19. Doa berlindung dari sasaran fitnah orang-orang kafir

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Robbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilladziina kafaruu waghfirlanaa robbanaa innaka antal ‘aziizul hakiim.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Mumtahanah: 5).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Robbanaa laa taj’alnaa fitnatal lil qoumidz dzolimiin wa najjina bi rohmatika minal qoumil kaafiriin.

“Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir” (QS. Yunus: 85-86).


20. Doa meminta keamanan negeri dan berlindung dari syirik

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Robbij ‘al hadzaal balada aaminan wajnubnii wa baniyya an na’budal ashnaama

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS. Ibrahim: 35).

21. Doa berlindung dari api neraka

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Robbanaa ashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannam. Inna ‘adzaabahaa kaana ghoroman, innahaa saa at mustaqorron wa muqooman.

“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al Furqan: 65-66).

22. Doa memohon kebaikan dunia dan akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah wa qinaa ‘adzabannaar.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 201). 
____________________

Daftar Isi Kitab Shalat: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Muslim

thumbnail


Tulisan “Daftar Isi Kitab Shalat: Tuntunan Penelusuran dan Pencarian Hadits Shahih Muslim” ini adalah bagian dari upaya menghadirkan daftar isi kitab-kitab yang terdapat dalam Shahih Muslim. Sebagai tuntunan dalam melakukan penelusuran dan pencarian hadits-hadits bagi yang memerlukan.

“Kitab: Shalat” adalah salah satu kitab yang dimuat dalam Shahih Muslim. Kitab ini berisi 52 Bab dan 240 nomor hadits. Dimulai dari hadits nomor 568 sampai dengan nomor 807.

Pada versi download Shahih Muslim (format PDF ukuran kecil) yang terdapat dalam blog ini, Kitab: Shalat berada pada bagian Shahih Muslim-2 (halaman 121-199) dan bersambung hingga Shahih Muslim-3 (halaman 1 – 32).

Setiap bab berisi satu atau beberapa nomor hadits tentang satu sub-tema pembahasan seputar “Shalat.”

Daftar isi ini diharapkan dapat melengkapi tulisan sebelumnya: Download Kitab Hadits Shahih Muslim Teks Arab Terjemahan Indonesia (PDF). Dan dapat memudahkan setiap pembelajar dan kaum muslimin dalam melakukan pencarian hadits-hadits yang diperlukan.

Sistimatika daftar isi dibuat dengan susunan: Bab: Sub Thema (nomor “jilid”/nomor hadits/nomor halaman). Contoh: Bab: Perintah untuk para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.713-723/hal.195). Artinya, hadits yang memerintahkan “para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan” dimuat dalam Shahih Muslim-2 hadits nomor 713-723 dimulai dari halaman 195.




Berikut ini daftar isi “Kitab: Shalat” Shahih Muslim selengkapnya:

  • Bab: Memulai adzan (2/no.568/hal.121)
  • Bab: Perintah untuk menggenapkan dalam adzan dan mengganjilkan dalam iqamah (2/no.569-571/hal.121)
  • Bab: Sifat adzan (2/no.572/hal.122)
  • Bab: Disunahkan untuk memperkerjakan beberapa muadzin dalam satu masjid (2/no.573/hal.123)
  • Bab: Bolehnya orang buta melakukan adzan jika ada yang memberitahukan akan waktunya (2/no.574/hal.123)
  • Bab: Menahan diri dari melakukan penyergapan di wilayah kaum kafir jika terdengar suara adzan dari mereka (2/no.575/hal.124)
  • Bab: Sunahnya mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin bagi yang mendengarnya (2/no.576-579/hal.124)
  • Bab: Keutamaan adzan dan terbirit-biritnya setan saat mendengarnya (2/no.580-585/hal.126)
  • Bab: Sunahnya mengangkat kedua tangan sebatas kedua pundak saat takbiratul ikram (2/no.586-589/hal.129)
  • Bab: Penetapan adanya takbir setiap akan turun dan naik dalam shalat, kecuali (2/no.590-594/hal.131)
  • Bab: Wajibnya membaca al Fatihah pada setiap rakaat (2/no.595-602/hal.133)
  • Bab: Larangan bagi makmum untuk mengeraskan suara di belakang imam (2/no.603-604/hal.138)
  • Bab: Hujah bagi pendapat yang mengatakan "Basmalah tidak dikeraskan" (2/no.605-606/hal.139)
  • Bab: Hujah bagi pendapat yang mengatakan "Basmalah adalah ayat untuk awal setiap surat selain surat al Bara`ah" (2/no.607/hal.140)
  • Bab: Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram (2/608/141)
  • Bab: Tasyahud dalam shalat (2/609-612/142)
  • Bab: Shalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam setelah tasyahud (2/no.613-616/hal.146)
  • Bab: Mendengar, mengucapkan hamdalah dan amin (2/no.617-621/hal.149)
  • Bab: Makmum mengikuti imam (2/no.622-625/hal.151)
  • Bab: Larangan bagi imam dari bersegera melakukan takbir dan selainnya (2/no.626-628/hal.154)
  • Bab: Imam mencari pengganti jika ada udzur seperti sakit, safar dan selainnya (2/no.629-638/hal.155)
  • Bab: Segera melaksanakan shalat jamaah jika imam terlambat, dan tidak khawatir (2/no.639-640/hal.163)
  • Bab: Laki-laki membaca tasbih dan perempuan menepuk tangan jika ingin mengingatkan sesuatu dalam shalat (2/no.641/hal.166)
  • Bab: Perintah untuk membaguskan shalat, menyempurnakan dan khusyu' (2/no.642-645/hal.167)
  • Bab: Haramnya mendahului Imam saat rukuk, sujud dan selainnya (2/no.646-648/hal.168)
  • Bab: Larangan mengangkat pandangan ke langit dalam shalat (2/no.649-650/hal.170)
  • Bab: Perintah untuk tenang dalam shalat dan larangan dari berisyarat dan mengangkat tangan (2/no.651-653/hal.170)
  • Bab: Meluruskan barisan dan keutamaan shaff pertama (2/no.654-664/hal.172)
  • Bab: Perintah untuk wanita yang shalat di belakang kaum laki-laki untuk mengangkat kepala (2/no.665/hal.176)
  • Bab: Keluarnya wanita ke masjid jika tidak ada fitnah (2/no.666-676/hal.176)
  • Bab: Sedang dalam memperpanjang bacaan dalam shalat yang bacaannya dikeraskan atau yang tidak (2/no.677-678/hal.180)
  • Bab: Mendengar bacaan (2/no.679-680/hal.181)
  • Bab: Mengeraskan bacaan dalam shalat subuh dan membaca untuk jin (2/no.681-684/hal.183)
  • Bab: Bacaan dalam shalat zhuhur dan asar (2/no.685-692/hal.185)
  • Bab: Bacaan dalam shalat subuh (2/no.693-705/hal.189)
  • Bab: Bacaan dalam shalat isya (2/no.706-712/hal.193)
  • Bab: Perintah untuk para imam agar meringankan shalat dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.713-723/hal.195)
  • Bab: Seimbang dalam rukun-rukun shalat dan meringankannya dengan tetap menjaga kesempurnaan (2/no.724-727/hal.199)
  • Bab: Mengikuti Imam dan melakukannya setelahnya (3/no.728-732/hal.1)
  • Bab: Apa yang dibaca saat mengangkat kepala dari rukuk (3/no.733-737/hal.3)
  • Bab: Larangan membaca Al-Qur'an dalam rukuk dan sujud (3/no.738-743/hal.6)
  • Bab: Apa yang dibaca saat rukuk dan sujud (3/no.744-752/hal.9)
  • Bab: Keutamaan sujud dan anjuran untuk melakukannya (3/no.753-754/hal.13)
  • Bab: Anggota sujud dan larangan dari menahan rambut, pakaian dan mengikat rambut (3/no.755-761/hal.14)
  • Bab: Seimbang dalam sujud, meletakkan kedua tangan di atas tanah dan mengangkat kedua siku (3/no.762-763/hal.16)
  • Bab: Himpunan sifat shalat, pembukaan, penutupan, dan rukuk (3/no.764-768/hal.17)
  • Bab: Sutrah dalam shalat (3/no.769-781/hal.19)
  • Bab: Melarang orang yang melintas di depan orang yang sedang shalat (3/no.782-785/hal.24)
  • Bab: Mendekatnya orang yang shalat kepada sutrah (3/no.786-788/hal.27)
  • Bab: Kadar yang bisa menjadi sutrah (3/no.789-790/hal.27)
  • Bab: Berbaring melintang di hadapan orang yang sedang shalat (3/no.791-798/hal.29)
  • Bab: Shalat dengan mengenakan satu kain dan cara mengenakannya (3/no.799-807/hal.32)
____________________